Pesantren Kempek Sambut Kehadiran Cucu Syekh Abdul Qadir Jailani

Keluarga besar pesantren Kempek Cirebon menyambut kunjungan salah satu cucu Syekh Abdul Qadir Jailani yang berasal dari Turki, Syekh Fadhil Al-Jailani. Kehadiran cucu salah satu tokoh sufi terbesar sepanjang sejarah Islam tersebut juga disambut oleh ribuan santri yang berkumpul untuk mendengarkan ceramah dan mengikuti ijazah ‘Aamah yang akan dipimpin Syekh Fadhil secara langsung di Ma’had Al-Ghadier Pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Dalam sambutannya, KH Musthofa Aqil, pengasuh Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon menerangkan bahwa Syekh Fadhil merupakan salah satu dari ribuan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, namun dia adalah satu-satunya keturunan yang diamanati untuk menjaga sekaligus menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang telah hilang.

“Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki keturunan yang banyak, bahkan ribuan, tersebar ke seluruh dunia, Timur Tengah, Eropa, dan beberapa tersebar di Asia, namun Syekh Fadhil Al-Jailani ini merupakan satu-satunya cucu (keturunan) yang mendapatkan amanat untuk menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang hilang,” terang kiai Musthofa.

Kiai Musthofa melanjutkan bahwa karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sangatlah banyak, dari 7000 kitab yang ada baru 114 yang terbaca oleh masyarakat umum, dan 34 jilid yang tercetak ulang dengan rapi.

“Sebenarnya banyak sekali karya Syekh Abdul Qadir yang tidak kita ketahui, jumlahnya hingga puluhan ribu, yang tercetak dan terbaca hanya beberapa, jika dikelompokkan di bidang pembahasan tafsir hanya 6 jilid, hadits 10 jilid, dan fiqih 20 jilid. Belum lagi akibat pergolakan di Suriah kemarin, 20.000 manuskrip karya agung tersebut hancur, dan yang terselamatkan hanya 41 buah,” lanjut kiai Musthofa.

Syekh Fadhil Al-Jailani telah mengabdikan usianya selama 30 tahun untuk menelusuri karya dan manuskrip yang ditulis oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang terpencar bahkan hilang. Kehadirannya di pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah tahun 2011 yang lalu melakukan kunjungan yang sama dalam rangka melakukan penelusuran naskah di Indonesia dan menggelar ijazah bagi masyarakat pesantren.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu “Qathrunnada wa Ballusshoda” di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Qur’an. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. “Ayo dimulai nak…!”

Santri mulai membaca. “Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaa’i wasshoifi.”

Pak Ustadz spontan menyurus santri menghentikan bacaannya. “Wasshoifffff,” katanya.

“Wasshoifi,” kata satri.

“Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff,” kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. “Wasshoifi”. Masih ada ada bunyi “fi” di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca “Wasshoif,” ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. “Nah begitu, wasshoiff,” katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi “fi”. (Anam)

Apa Alasan Gus Dur Ziarah Kubur?

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sering melakukan ziarah kubur. Banyak makam di pelosok-pelosok kampung yang pernah diziarahinya.

Ketika ditanya apa alasan Gus Dur sering berziarah ke makam-makam?

“Karena orang mati tidak memiliki kepentingan,” jawab Gus Dur. (Qomarul Adib)

1 12 13 14