Kunjungan Syekh Muhammad Hisyam al-Qabbani ke Pesantren Kempek

Kempek- Sore itu rintik-rintik hujan sedikit demi sedikit membasahi bumi pesantren kempek, rasanya akan semakin banyak berkah yang Allah turunkan di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon barat itu.

 

Ya, sore itu di pesantren kempek, tepatnya di Ma’had Al-Ghadzir Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek kedatangan Ulama dari Amerika Serikat yaitu Syekh Muhammad Hisyam Al-Qabbani, beliau adalah salah satu dari ulama yang  masih dzurriyah (keluarga) dengan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyid Hasan dan Husein. ‘’Kehadiran beliau yang diiringi dengan rintikan hujan itu semoga menambah berkah kepada kita semua’’ Cetus salah satu Kyai yang hadir dalam acara yang digelar di Aula  Al-Ghadzir itu.

 

Di dalam Aula Al-Ghadzir Pon-Pes Kempek yang dipenuhi ribuan jamaah tersebut duduk syekh di panggung bersama KH. Muh. Musthofa Aqiel (salasatu Pengasuh Pondok-Pesantren Kempek) dan Syekh Rohimuddin Al-Bantani. Seketika salasatu dari penerjemah bahasa memperkenalkan latar belakang Syekh dengan bahasa indonesia, bahwa asal baliau dari Libanon, beliau bermadzhab Syafi’i, diantaranya lagi bahwa ulama yang berumur 70 tahun itu dulunya mengusung dua pendidikan yaitu pendidikan umum, dengan memdalami/belajar ilmu KIMIA di salasatu Universitas London, dan pendidikan yang lainnya pendidikan agama yang pastinya. Namun seketika penerjemah akan meneruskan latar belakang dan beberapa kemuliaan-kemuliaan lain yang dimiliki Syekh dan syekh mengerti dari salasatu kata bahasa indonesia yang dipaparkan oleh penerjemah tersebut, seketika Syekh langsung memberhentikan pemaparan tersebut, kemudian beliau memegang microfon dan mengucapkan ‘’di dalam kehidupan ini kita tidak boleh dipuji atau memuji, karena akan berbahaya’’ (Beliau tidak mau dipuji, red..) riuh jamaah bersorak ‘’Allahu Akbar……!’’.Seketika itu pula Syekh langsung memulai mauidzoh hasanahnya. Dalam mauidzohnya Syekh menjelaskan bahwa Ilmu ada dua: Ilmu Aurooq (yang ditulis di kertas) dan Ilmu Adwaaq (hati), beliau memaparkan bahwa kedua ilmu ini semua dari kita pasti mempelajarinya. Untuk ilmu yang kedua yaitu ilmu Adwaaq (hati), Syekh mengatakan bahwa ilmu ini memiliki ciri kelebihan tersediri karena urusannya langsung dengan hati.

 

Mengenai ilmu inipun beliau menceritakan kisah Nabi Musa AS, ketika Nabi Musa AS mengembara di tempat yang sangat sepi tidak ada satupun manusia, disana ada suara yang tidak jelas, namun semakin lama suara itu semakin jelas dan terang, yang ternyata ucapan tersebut menyuruh Nabi Musa AS untuk selalu bersyukur sekalipun di tempat tersebut sepi, tidak adanya makanan minuman dan lainnya, dan dengan gambaran adanya binatang kijang yang seketika itu masuk di keranjang yang dibawa Nabi Musa AS, sebagai bukti bahwa Allah akan selalu memberi nikmat dan Nabi Musa AS haruslah bersyukur. Syekhpun menceritakan tentang Nabi Musa AS bahwa suatu hari ketika Nabi Musa AS sedang berjalan melihat orang yang cacat pincang dan tidak bisa berjalan, namun seseorang tersebut selalu besujud dan besyukur kepada Allah SWT, Nabi Musa AS bertanya pada orang tersebut ‘’Mengapa kamu selalu bersyukur ? semestinya meminta kepada Allah agar diberi kesembuhan atas penyakit yang kamu derita sekarang’’ Orang tersebut menjawab’’ Tidak wahai Nabi, Aku begini selalu bersyukur, karena aku telah diberi nikmat dimana orang lain banyak yang tidak diberi nikmat itu, yaitu berupa nikmat aku dijadikan sebagai seorang muslim dan nikmat karena aku telah dari dulu diikutkan kepada agamanya nabi Ibrahim (yang sekarang agama islam)’’ ribuan jamaah pun langsung bersorak ‘’Allahu Akbar..!

 

Sore itu sungguh sangat berbeda, ditempat yang biasanya setiap hari jum’at diadakan rutinitas pengajian yang dibawakan oleh KH. Musthofa Aqil dan dihadiri Kyai-kyai se-wilayah 3 Cirebon begitu meriah antusias ribuan jamaah yang ingin ngalap barokah dan ijazah ‘aam dari Syekh yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW tersebut.

 

Setelah selesai beliau memberi mauidzoh ribuan jamaah, kemudian KH. Musthofa Aqiel menutup acara silaturrahim Syekh Muhammad Hisyam Al-Qabbani yang berdurasi sekitar 2 jam itu, dalam penutupannya Kg. Muh (panggilan akrab KH. Musthofa Aqiel) mengatakan bahwa Syekh Muhammad Hisyam Al-Qabbani adalah satu-satunya Ulama yang berdzikir di gedung PBB, dalam dzikirnya beliau selalu melafadzkan ‘’ شكرا لله ’’ dan الحمد لله’’ dalam sehari 100 kali. Sebelum Syekh menutup silaturrahim dan pemberian ijazah ‘amm-nya dengan do’a, Kang Muh dengan khas candanya mengatakan ‘’ Syekh, do’akanlah kami semua disini khususon dalam hal lain (hutang)’’ Senyum Kyai Musthofa. Ribuan jamaah yang dihadiri oleh Kyai-kyai dan warga se-wilayah 3 cirebon serta santri-santripun tertawa dengan ucapan Kyai Musthofa tersebut.
Oleh: Lufaepi.

Ngalap Barokah Dari Ilmu-ilmu Alat (Kaidah-kaidah Bahasa Arab)

Oleh: Lufaepi*

Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek adalah  pesantren yang masyhur dengan pesantren yang mengedepankan pembelajaran  ilmu tartil qur’an yang fasih, yang lebih masyhur dinamai dengan bacaan al-qur’an ala kempekan, pesantren yang diasuh oleh ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten cirebon  ini juga famous dangan pembelajaran  ilmu-ilmu alat (nahwu-shorof), ilmu yang menjadi landasan pertama agar santri-santri dapat memahami ilmu- ilmu yang lainnya. ‘’ Dengan kita menguasai ilmu alat maka akan dengan mudah kita memahami ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu tauhid, dan ilmu-ilmu lainnya’’ cetus salah satu Ustadz MTM.

 

Di MTM Pon-pes kempek Cirebon, dalam  mempelajari ilmu yang pertama kali dicetus oleh Abul aswad ad-du’ali ini umumnya dimulai dari tingkat dasar (bagi santri santri yang masih belum mengenal luas tentang ilmu-ilmu tersebut), dari  mulai kelas 1 (At-tamhidiyah) ilmu alat yang diajarkan yaitu Tashrif  kempek dan Bina wal asas, bagi kelas yang setingginya yaitu kelas Al-‘Awamil ilmu alat yang diajarkan yaitu kitab sulamussibyan dan nadzom bina, untuk kelas kelanjutan (al-ajurumiyah) yaitu kitab Al-ajurumiyah dan Al-kailani, untuk kelas Al-‘Imrithi kitab al-‘imrithi dan nadzom maqshud, untuk kelas mutammimah kitab kawakibudduriyah, dan untuk jenjang tertinggi yaitu kelas alfiyah, ilmu alat yang diajarkan adalah Dahlan Alfiyah.

 

Disamping setiap santri harus mampu dan paham dalam mengenyam pemahaman dari pengajar/Ustadz ketika di kelas, santri santri juga diwajibkan untuk Dirosah (belajar bersama) yang tujuannya untuk melengkapi ma’na ataupun arti (almurod) yang belum kekejar sewaktu di kelas.Kemudian malamnya santri juga diwajibkan mengikuti kegiatan Musyawaroh, yang tujuannya membahas permasalahan-permasalahan yang kecakup dalam materi yang hari sebelumnya diberikan oleh Ustadz-ustadznya serta mencari solusinya. Di waktu musyawaroh juga santri dibekali cara bagaimana mereka berbicara di depan orang banyak dan bagaimana mereka berpendapat dalam memecahkan suatu masalah.

 

Biasanya santri-santri diwaktu malam setelah kegiatan musyawaroh, mereka menghafal pelajaran baik ilmu alat atau ilmu-ilmu yang lainnya yang sudah mereka kejar waktu dirosah dan musyawaroh, agar pagi harinya  ketika Ustadz menunjuk siapapun mereka harus siap dan harus hafal.

 

Yang lebih unik, di pesantren yang juga diasuh oleh ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, setiap nadzoman yang terdapat pada ilmu-ilmu alat wajib dihafalkan, dari mulai nadzom sulamussibyan (37 bait), had al-ajurumiyah(sekitar 50 halaman), nadzom al-‘imrithi (254 bait), dan nadzom alfiyah (1002 bait), tujuannya agar dalam memahami ilmu-ilmu alat lebih mudah, dan yang urgen supaya mendapatkan barokah dari sang mu’allif kitab-kitab yang didalamnya mengupas tentang gramatika-gramatika bahasa arab tersebut.

*Santri MTM Pondok Pesantren Kempek Cirebon

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Sobih Adnan*

Sebelumnya, tulisan ini dimuat di NU Online | Situs Resmi Nahdlatul Ulama

Riuh tepuk tangan menggema di gedung olah raga yang baru dua kali menjadi tempat perhelatan tahunan ini. Kiai Musthofa Aqil, seperti –entah sengaja atau tidak- menekan saklar bunyi tersebut, menggetarkan ribuan hati yang hadir, dan bagi para alumni,  menenggelamkan pada ingatan masing-masing.

“Jika saja tidak berkat Buya Ja’far, maka pesantren ini tidak akan seperti sekarang,” begitu, Kiai Musthofa, memberi penghargaan kepada kakaknya, Buya KH Ja’far Aqil Siroj.

Buya KH Ja’far Aqil Siroj -selanjutnya, Buya Ja’far-, merupakan nama paling sulung dari kelima putra KH Aqil Siroj, tokoh pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Secara berurutan, kelima putra tersebut disusul KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ahsin Syifa Aqil Siroj, serta paling akhir, KH Niamillah Aqil Siroj.

Kembali soal tepuk riuh penghargaan pada malam puncak peringatan Haul Almaghfurlah KH Aqil Siroj Ke-24 yang berlangsung hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang lalu di Gedung Olah Raga (GOR) KHAS Kempek Cirebon itu, tentu tidak tanpa sebab. Selama 23 tahun, semenjak didaulat menggantikan ayahnya di tahun 1990, Buya Ja’far dikenal sebagai sosok yang gigih, istiqamah, penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi.

Banyak kenangan bersama Buya Ja’far, konon, komentar antar  alumni saat berkesempatan saling sapa di acara haul. Hampir sama, katanya, hari-hari bersama Buya Ja’far adalah hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Bangun pagi, tak boleh telat, sudah siap setoran nazam? Atau, akankah namanya disebut untuk giliran membaca keterangan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang njlimet itu? Seperti itulah rasanya menghabiskan dua tahun bersama Buya Ja’far, dari kelas Alfiyah Ula dan Alfiyah Tsani di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon bagian barat ini.

Buya Ja’far tidak akrab dengan waktu senggang, selain sebagai seorang pengasuh pesantren, dua periode dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon membuat langkah dan nafasnya seolah sama-sama menjadi derap semangat, tak kenal lelah, apalagi putus asa. Pukul 3 pagi, kata seorang putranya, Buya Ja’far sudah bangun untuk sembahyang barang dua rakaat. Subuh pun tiba, memimpin jamaah, mengajari santri kelas sorogan Al-Quran, disambung dengan pengajian Alfiyah Ibnu Malik mulai pukul enam.

Jika matahari sudah sedikit terangkat, usai sarapan, Buya Ja’far langsung berangkat memenuhi undangan masyarakat, atau siapa pun yang membutuhkan kehadirannya. Bukan sekadar urusan-urusan besar, Buya Ja’far tak sungkan menjadi wali nikah bagi siapa pun yang pernah mengaji kepadanya, atau saat  diminta menghadiri acara selametan, tahlil, begitu pun kendurian, di kampung-kampung sekitarnya.

Jelang sore hari, Buya Ja’far kembali ke kediaman, selalu begitu, tepat waktu, terkecuali saat terpaksa berada di luar kota untuk mengikuti agenda-agenda tertentu.

Boleh di bilang, pesantren Kempek Cirebon merupakan pesantren dengan basis pengajaran Al-Quran serta sepasang fan yang dikenal dengan istilah ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Maka di setiap jenjang kelasnya, para santri selalu disajikan pelajaran  dengan bingkai yang serupa. Puncaknya, dua tahun sebelum usai, santri harus bersama Buya Ja’far untuk mengkhatamkan Al-Quran, juga melunasi sebanyak 1002 bait nazam Alfiyah dalam bentuk hafalan.

Boleh dibilang juga, -di mata santri- Buya Ja’far adalah sosok yang galak, terlebih bagi kelas pengajian Alfiyah. Dalam mengaji, pertama-tama, paling tidak Buya Ja’far membacakan 2 sampai 5 nazam perhari, berikut keterangannya, besoknya, 2 sampai 3 nama akan disebut untuk membacakan nazam dan keterangan sesuai dengan apa yang Buya Ja’far berikan sebelumnya.

Yang menarik adalah, Buya Ja’far masih menggunakan kitab yang ia afsahi semasa menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur puluhan tahun lalu, juga, santrinya, tidak diperkenankan untuk menganggap remeh dalam hal mengafsahi makna kitab, harus lengkap, tak boleh asal rujukan, jika hal-hal itu diabaikan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman mencabuti rumput di lapangan asrama putri, berdiri 3 jam lebih, atau jika terlampau salah, tangkai kipas bambu mendarat di punggung telapak tangan, setidaknya, dua kali pukulan.

Tak sebatas itu, di mata Buya Ja’far, ilmu, berikut kemanfaatannya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan ingatan dan daya nalar. Kebersihan adalah utama, hati, badan dan pakaian. Tak jarang, santri yang diketahuinya tak sempat mandi saat mengaji, akan dipaksa keluar dan pulang ke kamar. Maka wajar, jika hari-hari bersama Buya Ja’far dianggap sebagai hari-hari menegangkan, hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Lalu apa yang menjadikan alumni Kempek terasa begitu tersekap rindu untuk selalu bertemu Buya Ja’far? Entahlah. Selain banyak hal yang tak bisa diungkapkan, paling tidak, ada beberapa poin yang karenanya bisa dianggap sebagai manfaat;

1.    Buya Ja’far pernah berkata; “Jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau capek dan lelah,”

2.    Mengaji kepada Buya Ja’far berarti menelusuri jalan panjang tentang pengabdian, kedisiplinan, keistiqamahan, dan kebersihan. Sesuatu yang kerap dibutuhkan santri sebagai modal dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

3.    Kecintaan terhadap shalawat digambarkan dalam perkataan Buya Ja’far; “Dengan rajin bershalawat kepada Nabi, apapun yang dicita-citakan oleh kita, Insyaallah tercapai. Itulah sebabnya mengapa saya menekankan kepada para santri untuk rajin-rajin bershalawat,” [NU Online, 19/1/2013]

Dan masih banyak lagi yang oleh penulis sendiri layak dianggap sebagai kurikulum Buya Ja’far dalam mendidik dan mencita-citakan santrinya sebagai sosok yang tangguh, tahan banting, pekerja keras, tidak malas, namun tetap santun. []

 

*Sobih Adnan, khatimin Alfiyah angkatan 2009, Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon

Jadikan Masjid Sebagai Pusat Gerakan

Masyarakat Nahdliyin harus kembali memanfaatkan masjid sebagai pusat gerakan. Hal ini dipahami mengingat fakta di lapangan bahwa masjid kerap disalahgunakan oleh sebagian kelompok untuk menebar kebencian berlandaskan paham keagamaannya yang tertutup.

Demikian disampaikan KH Manan Abdul Ghani, Ketua Pengurus Pusat  Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU dalam seminar bertemakan Peran Alumni  Pesantren Kempek dalam Memakmurkan Masjid dan Masyarakat di Majlis Al-Ghadir, Pesantren Kempek Cirebon, Jumat (13/12).

“Selain tempat beribadah, masjid juga merupakan tempat strategis untuk menjaga dan menguatkan tradisi keNUan di tengah masyarakat,” ungkap Kiai Manan.

Kiai Manan menambahkan, guna melancarkan gagasan tersebut, di bawah komandonya, LTM NU bertugas mengawal masyarakat Nahdliyin agar masjid  di daerah-daerah tidak diambil-alih oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Selain itu,  ia mengaku, pihaknya telah menyempurnakan pusat data atau semacam direktori masjid di Indonesia.

“Kami mengimbau masing-masing daerah untuk menyediakan database guna mendukung program silaturahmi masjid yang digawangi LTM NU,” katanya.

Acara seminar sekaligus temu alumni pesantren Kempek Cirebon ini dihadiri oleh sekurangnya 200 peserta. Selain Ketua PP LTM NU, hadir pula sebagai pembicara H Mansyur Saerozi, Wakil Ketua PP LTM NU, serta para sespuh Pesantren Kempek, Cirebon.

 

Liputan Sobh Adnan, dimuat di NU Online

Terjun di Masyarakat, Alumni Pesantren Harus ‘Berperang’

Kembali ke tengah masyarakat, alumni pesantren harus memiliki tekad dan kemauan untuk berperang. Artinya mereka hadir bukan sekadar sebagai penonton atau umat pinggiran. Tetapi mereka berkontribusi secara aktif sesuai kebutuhan warga.

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan tausiyah dalam rangka Peringatan Haul ke-24 KH Aqil Siroj dan Khotmil Alquran serta Alfiyah Ibnu Malik di Majlis Tarbiyatul Mubtadi’ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (14/12).

Kalimat ummatan wasathan dalam Al-Quran bisa diarahkan ke dalam makna terjun ke tengah- masyarakat, bukan hanya di pinggir, atau sekedar menjadi penonton, tegas Kiai Said.

Perang yang dimaksud, sambung Kiai Said, adalah peperangan moral dan budaya, peperangan pendidikan, serta perang untuk membangun masyarakat dan kemanusiaan. Karenanya, alumni pesantren harus bisa bergerak di tengah masyarakat untuk menjaga akhlak, moral, dan tradisi budaya sebagai identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kiai Said menyimpulkan, kekuatan mempetahankan kesatuan Indonesia terletak pada niat dan tekad masyarakat untuk mempertahankan tradisi dan budaya warisan secara turun-temurun. Peringatan haul, tahlil, marhabanan dan lain sebagainya, tradisi yang patut dipertahankan.

“Bertahannya budaya menunjukkan bahwa kita wujud dan ada. Jika sudah ada, maka kita mudah melawan segala jenis ancaman pemecah belah kesatuan bangsa,” pungkas Kiai Said di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri malam puncak peringatan haul KH Aqil Siroj.

Mereka terdiri dari alumni, tokoh pesantren Cirebon, pejabat pemerintahan, dan warga umum.

Sementara KH Aqil Siroj merupakan tokoh pendiri MTM. Ia orang tua KH Said Aqil Siroj. Kiai Aqil dilahirkan pada 1920 dan wafat pada 1990. Selain haul Kiai Aqil, perhelatan ini digelar untuk memperingati wafatnya KH Nashir Abu Bakar dan Nyai Afifah Harun, ibu Kiai Said.

 

Liputa Sobih Adnan, dimuat di NU Online

Haul Sesepuh Pesantren Kempek Dipadati Ribuan Pengunjung

Sekurangnya 5000 jamaah memadati malam puncak peringatan Haul Ke – 24 Al-Maghfurlah KH Aqil Siroj di Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien Pesantren Kempek, Kecamata Gempol Kabupaten Cirebon, Sabtu (14/12) malam.

Sebelumnya, sejumlah rangkaian acara digelar dalam menandai dimulainya peringatan haul sekaligus khotmil Al-qur’an dan khotmil Alfiyah Ibnu Malik ini, antara lain ziarah akbar, tahlil umum, temu gagas alumni, halaqah kepesantrenan, dan pentas kajian Alfiyah 1002 bait oleh para khatimin.

KH Muhammad Bj, sekretaris acara mengatakan, selain bertujuan untuk mendoakan dan mengharapkan berkah dari para pendiri pesantren, kegiatan ini merupakan ajang tahunan bagi para alumni untuk mempererat tali silaturrahmi, baik dengan para kiai, sesama alumni, maupun masyarakat pesantren pada umumnya.

“Ya paling tidak, haul merupakan ajang tahunan bagi para alumni dan masyarakat umum untuk mendoakan dan mengharapkan berkah dari para pendiri pesantren, selebihnya, menjadi tempat untuk memperkuat ikatan silaturrahmi,” ungkap Kiai Muhammad.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH Musthofa Aqil mengamanatkan kepada segenap santri dan alumni agar dapat  meneladani akhlak dan kiprah pengabdian para pendiri pesantren. Kiai Musthofa mengatakan, semasa hidupnya, mendiang Kiai Aqil tidak hanya mengandalkan intelektualitas dan retorika dalam berdakwah, tetapi juga menggunakan kekuatan hati hingga memberi dampak dan manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Meski dengan tema sederhana, saat menyampaikan pidato maupun pengajian, Kiai Aqil mampu memberikan manfaat nyata bagi para santri maupun masyarakat, sebab, Kiai Aqil mampu mengantarkan pengetahuan dari hati kepada hati, bukan sekadar dari mulut ke pendengaran,” papar Kiai Musthofa mengenang Ayahandanya.

Selain KH Aqil siroj, perhelatan ini juga digelar untuk memperingati wafatnya KH Nashir Abu Bakar dan Nyai Afifah Harun, yang juga merupakan para pendiri MTM pondok pesantren Kempek, Cirebon. [CirebonPost.com]

Haul Ayahanda Ketua Umum PBNU Dipadati Ribuan Jamaah

Tidak kurang 5000 jamaah hadir pada malam puncak peringatan Haul Ke-24 Al-Maghfurlah KH Aqil Siroj di Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (14/12) malam. Kiai Aqil merupakan ayahanda Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Sebelumnya, sejumlah rangkaian acara digelar dalam menandai dimulainya peringatan haul sekaligus khotmil Al-qur’an dan khotmil Alfiyah Ibnu Malik ini, antara lain ziarah akbar, tahlil umum, temu gagas alumni, halaqah kepesantrenan, dan pentas kajian Alfiyah 1002 bait oleh para khatimin.

KH Muhammad Bj, sekretaris acara mengatakan, selain bertujuan untuk mendoakan dan mengharapkan berkah dari para pendiri pesantren, kegiatan ini merupakan ajang tahunan bagi para alumni untuk mempererat tali silaturrahmi, baik dengan para kiai, sesama alumni, maupun masyarakat pesantren pada umumnya.

“Ya paling tidak, haul merupakan ajang tahunan bagi para alumni dan masyarakat umum untuk mendoakan dan mengharapkan berkah dari para pendiri pesantren, selebihnya, menjadi tempat untuk memperkuat ikatan silaturrahmi,” ungkap Kiai Muhammad.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH Musthofa Aqil mengamanatkan kepada segenap santri dan alumni agar dapat  meneladani akhlak dan kiprah pengabdian para pendiri pesantren. Kiai Musthofa mengatakan, semasa hidupnya, mendiang Kiai Aqil tidak hanya mengandalkan intelektualitas dan retorika dalam berdakwah, tetapi juga menggunakan kekuatan hati hingga memberi dampak dan manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Meski dengan tema sederhana, saat menyampaikan pidato maupun pengajian, Kiai Aqil mampu memberikan manfaat nyata bagi para santri maupun masyarakat, sebab, Kiai Aqil mampu mengantarkan pengetahuan dari hati kepada hati, bukan sekadar dari mulut ke pendengaran,” papar Kiai Musthofa mengenang Ayahandanya.

KH Aqil Siroj merupakan tokoh pendiri dari Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Ia lahir  tahun 1920 dan wafat pada tahun 1990.

Selain haul KH Aqil siroj, perhelatan ini juga digelar untuk memperingati wafatnya KH Nashir Abu Bakar dan Nyai Afifah Harun, yang juga merupakan para pendiri MTM pondok pesantren Kempek, Cirebon.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

Hajatan Semua Santri MTM Kempek

Kempek- Haul Kiyai ‘Aqiel (Peringatan satu tahun wafatnya pendiri MTM Kempek) adalah acara tahunan yang telah lama berjalan di Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek Cirebon, selain acara tahlilan yang merupakan resepsi real agenda HAUL juga diisi resepsi-resepsi yang lain, seperti hataman kitab Alfiyah ibnu Malik, hataman Al-Qur’an, mauidzoh hasanah, dll, yang semuanya semata karena ingin mendapatkan karomah kiyai yang pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW ini.

 

Untuk tahun 2013 M/1435 H ini, acara HAUL insya Allah akan berlangsung pada hari sabtu-minggu, tanggal 14 – 15 Desember, yang bertempat di komplek yayasan Kiyai Haji ‘Aqiel Siroj (KHAS) Al-Jadied. Telah banyak persiapan-persiapan yang sudah berjalan dan akan berjalan yang dimotori oleh santri-santri senior yang ditugasakan sebagai panitia, seperti rapat kepanitiaan, pembagian tugas dll.

 

Sangat unik dan jarang ditemukan, di pesantren MTM Kempek acara haul merupakan hajatan semua santri, sebab dalam perhelatan yang akan di hadiri ketua PBNU ini, penanggung jawaban dalam pra haul dan hari H, 80%  dilaksanakan oleh santri-santri kempek sendiri yang sudah senior (dari yang sudah mengaji Jurmiyah sampai Alfiyah), diantaranya seperti kerja bakti di wilayah pesantren, pengecetan kamar, asrama (komplek), MCK, dapur, membagikan undangan, penerimaan tamu, nyuci piring, parkir, petugas prasmanan, keamanan, sumber suara, dan masih banyak lagi. Rasanya semangat santri santri untuk mewujudkan acara ini begitu antusias tinggi, bahkan ada dari beberapa santri yang masih kecil yang belum waktunya ditugaskan sebagai panitia, mereka meminta sendiri kepada junior-juniornya supaya mereka diikutsertakan dalam struktur kepanitiaan Haul iti.
Haul kiyai ‘Aqiel juga banyak membawa berkah bagi masyarakat desa kempek dan sekitarnya, seperti bertransaksi pakaian, makanan minuman, mainan anak-anak, sedia tempat parkir, pameran-pameran, promosi produk dan lain-lainnya.

 

Perhelatan yang ditanggung jawabi langsung oleh pengasuh ini, Buya H. Ja’far Shodiq ‘Aqil, diprediksi ribuan tamu/masyarakat akan membanjiri tanah pesantren kempek untuk hadir dalam acara tersebut, tak lain semata karena ingin mendapatkan karomah kiyai ‘Aqiel.
Wallahu a’lam..

*Oleh: Lufaepi

Haul Kyai Aqiel: Hajatan Semua Santri MTM Kempek

Kempek- Haul Kiyai ‘Aqiel (Peringatan satu tahun wafatnya pendiri MTM Kempek) adalah acara tahunan yang telah lama berjalan di Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek Cirebon, selain acara tahlilan yang merupakan resepsi real agenda HAUL juga diisi resepsi-resepsi yang lain, seperti hataman kitab Alfiyah ibnu Malik, hataman Al-Qur’an, mauidzoh hasanah, dll, yang semuanya semata karena ingin mendapatkan karomah kiyai yang pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW ini.

Untuk tahun 2013 M/1435 H ini, acara HAUL insya Allah akan berlangsung pada hari sabtu-minggu, tanggal 14 – 15 Desember, yang bertempat di komplek yayasan Kiyai Haji ‘Aqiel Siroj (KHAS) Al-Jadied. Telah banyak persiapan-persiapan yang sudah berjalan dan akan berjalan yang dimotori oleh santri-santri senior yang ditugasakan sebagai panitia, seperti rapat kepanitiaan, pembagian tugas dll.

Sangat unik dan jarang ditemukan, di pesantren MTM Kempek acara haul merupakan hajatan semua santri, sebab dalam perhelatan yang akan di hadiri ketua PBNU ini, penanggung jawaban dalam pra haul dan hari H, 80%  dilaksanakan oleh santri-santri kempek sendiri yang sudah senior (dari yang sudah mengaji Jurmiyah sampai Alfiyah), diantaranya seperti kerja bakti di wilayah pesantren, pengecetan kamar, asrama (komplek), MCK, dapur, membagikan undangan, penerimaan tamu, nyuci piring, parkir, petugas prasmanan, keamanan, sumber suara, dan masih banyak lagi. Rasanya semangat santri santri untuk mewujudkan acara ini begitu antusias tinggi, bahkan ada dari beberapa santri yang masih kecil yang belum waktunya ditugaskan sebagai panitia, mereka meminta sendiri kepada junior-juniornya supaya mereka diikutsertakan dalam struktur kepanitiaan Haul iti.
Haul kiyai ‘Aqiel juga banyak membawa berkah bagi masyarakat desa kempek dan sekitarnya, seperti bertransaksi pakaian, makanan minuman, mainan anak-anak, sedia tempat parkir, pameran-pameran, promosi produk dan lain-lainnya.

Perhelatan yang ditanggung jawabi langsung oleh pengasuh ini, Buya H. Ja’far Shodiq ‘Aqil, diprediksi ribuan tamu/masyarakat akan membanjiri tanah pesantren kempek untuk hadir dalam acara tersebut, tak lain semata karena ingin mendapatkan karomah kiyai ‘Aqiel.
Wallahu a’lam..

*Oleh: Lufaepi

1 10 11 12 13 14