Pengaruh Matematika Al-Jabar; dari Kasus Fikih hingga Temuan Teknologi Modern

3
377

Jika Tidak Ada al-Khawarizmi, Maka Tidak Akan Ada Teknologi Internet

Selain dikembangkan oleh ulama-ulama muslim setelah al-Khawarizmi, seperti Abu Kamil Syuja’ Ibnu Aslam, Abu al-Hasan, Umar al-Khayyam, Banu Musa, Ghiyatsudin Jamsyid al-Kasyi, al Qalasadi, al Karaji, Ibnu Banna, Ibnu Yasamin, Ahamd Zaini Dahlan dan lainnya, disiplin ilmu matematika al-Jabar dikenal di Eropa dengan sebutan Algebra setelah dilakukan terjemahan pada adab 12 M ke dalam bahasa Latin oleh salah satu ilmuan Eropa Gerard of Cremona berjudul “Liber Maumeti Filii Moysi Alchoarismi De Algebra et Almuchabala”.

Buku tersebut telah menginspirasi lahirnya buku “Liber Abaci” karya Leonardo Pisano atau lebih dikenal dengan nama Fibonacci, setelah dia belajar matematika kepada Syekh Bumadyan di kota Bejaia, al Jazair. Sebagai anak konsul dagang dari Italia yang berkantor di Bejaia, Fibonacci mulai tertarik belajar perhitungan dengan simbol angka-angka ciptaan al Khawarizmi berdasarkan sudut sebagai nilai, seperti (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0) angka 1 memiliki satu sudut, angka 2 dua sudut, angka 3 tiga sudut dan seterusnya. Jika tidak memiliki sudut disimbolkan dengan lingkaran, maka disebut Shifrun artinya “nol tak bernilai”.

Namun bila nol ditulis setelah angka bersudut, maka akan memiliki nilai. Fibonacci dalam bukunya menerjemahkan Shifrun secara lisan menjadi Zephirum, kemudian berubah ucapannya menjadi Zefiro lalu Zero. Angka-angka tersebut dikenal mudah dan lebih sistematis dalam pengkalian, penyempurnaan dan pengurangan yang ia rasakan sendiri dalam setiap transaksi atau kegiatan perniagaan masyarakat Bejaia dan semenajung Afrika Utara hingga Andalusia atau wilayah Islam bagian Barat. Sebab wilayah Islam bagian Timur lebih sering memakai angka ( ١، ٢، ٣، ٤، ٥، ٦، ٧، ٨، ٩، ٠ ).

Sementara masyarakat Eropa saat itu mengalami kesulitan ketika melakukan perhitungan dengan puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya ketika memakai angka-angka Romawi. Jasa besar Fibonacci, selain menyebarkan angka Arab gubahan al Khawarizmi ke Eropa hingga sekarang, beliau juga dikenal pencetus teori angka deret. Belakangan kemudian, teori angka deret dipakai dalam perhitungan indek perdagangan saham.

Kitab “al-Jabar wa al Muqabalah” tidak hanya diterjemahkan dalam bahasa Latin seperti Liber Abaci-nya Fibonacci, namun dialih bahasakan juga ke bahasa Prancis, Inggris, Jerman dan Rusia. Hingga hari ini, matematika al-Jabar, atau algebra, atau algoritma (terjemahan lisan dari kata al Khawarizmi), masih terus dikaji di kampus-kampus ternama di dunia dan masih tetap menggunakan istilah-istilah yang dibangun oleh al-Khawarizmi. Sulit dipungkiri para ilmuwan bahwa peran dan keunggulan al Khawarizmi telah memberikan jalan lapang atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Kita tidak bisa membayangkan–lompatan fenomenal akan temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terjadi pada saat ini, seperti komputer, internet, kekuatan atom, rudal, pesawat luar angkasa, dan lain-lainnya–jika al Khawarizmi tidak pernah lahir di dunia ini. kita mengakui, matematika adalah pondasi dari segala ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tidak diragukan kejeniusan al Khawarizmi telah memberikan andil besar dalam perkembanagan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Jadi, jika tidak ada al Khawarizmi, kita tidak akan menikmati kemajuan teknologi internet, seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan media sosial lainnya.

3 KOMENTAR

  1. al hamduliilah sangat menginspirasi semoga bisa memotivasi anak2 santri untuk terus belajar bukannya hanya ilmu agama karena pada dasarnya ilmu agama, sains dan teknologi saling berkaitan. dan mengantarkan pada penciptnya. terima kasih kang idris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here