Kitab Alala Lirboyo Mengharmoniskan Adab dan Akhlak Pencari Ilmu

0
113

KHASKEMPEK.COM – Ilmu adalah keniscayaan sesuatu yang harus dicari oleh setiap orang Islam. Karena pentingnya ilmu bagi seorang Muslim, Nabi Muhammad Saw. melalui hadisnya mewajibkan orang Islam – baik laki-laki maupun perempuan – untuk menuntut ilmu. “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli Muslimin wa Muslimatin”.

Hal itu cukup rasional, karena dengan ilmu, maka aktivitas seorang Muslim, utamanya dalam menjalankan ibadah, akan sesuai dengan apa yang diinginkan Allah melalui syariat-Nya. Sebaliknya, tanpa ilmu, seorang Muslim akan menjalankan ibadah tidak lebih hanya karena menghilangkan kewajiban semata.

Karena pentingnya ilmu, ada banyak ulama yang mengarang kitab-kitab yang bernuansa dorongan bagi orang Muslim untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dengan dibarengi akhlak yang tinggi pula, seperti Adab al-Alim wa al-Muta’alim karya Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari, Ta’lim wa Al-Muta’allim karya Syaikh Al-Zarnuji, Al-‘Ilm fi Al-Islam karya Sami Ahmad Al-Mawsili, dan Kitab Alala yang dicetuskan oleh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Kitab yang disebutkan terakhir tersebut, merupakan kitab yang dikarang untuk membekali para santri pemula yang berada di pesantren dalam mengarungi ilmu.

Kitab Alala merupakan kitab dasar yang masyhur dikaji dan didiskusikan oleh para santri di pesantren, khususnya bagi santri-santri baru. Kitab tersebut dibuat dengan model nadzaman atau sya’iran sehingga tidak rumit untuk dicerna bagi santri-santri yang baru mengenal dunia kitab pesantren. Lebih-lebih, setiap sya’iran dalam Kitab Alala dilengkapi dengan terjemahan Jawa, sehingga memicu para santri baru untuk mau mengenal lebih dalam kitab tersebut.

Sebagai kitab yang dari awal dikarang untuk kalangan pesantren, Kitab Alala memang berhasil dipelajari di berbagai pesantren. Bukan hanya di pesantren Lirboyo yang menjadi objek awal dipelajarinya kitab Alala, tetapi juga di pesantren-pesantren selainnya, seperti di Pesantren Kempek Cirebon, Pesantren Luwung Ragi Brebes, Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Tegal, dan pesantren-pesantren lain. Bahkan, bukan hanya di pesantren, kitab Alala ini juga dipelajari di kampung-kampung oleh anak-anak yang mendalami ilmu agama di Madrasah Diniyah. Tidak lain, semua itu karena berkah yang dimiliki oleh kitab Alala dengan segudang keistimewaannya.

Kitab Alala terdiri dari 30 bait legendaris. Dikatakan legendaris karena – sejauh pengalaman penulis dari mulai mengaji di Madrasah Diniyah hingga di Pondok Pesantren – syair-syair kitab ini kerapkali dibacakan secara bersama-sama oleh para santri dengan suara yang kencang di setiap selesai belajar.

Oleh para ustadz, santri-santri diminta untuk melantunkan 30 bait cantik kitab tersebut. Suara nadzaman Alala seperti terus terngiang-ngiang di benak penulis hingga penulis selesai mencari ilmu di pondok pesantren.

Kitab ini memiliki jumlah halaman yang cukup tipis, tidak lebih dari 10 halaman. Benar-benar memang diniatkan atau ditujukan untuk para santri pemula sehingga tidak terlalu terbelit-belit dalam mendalami suatu kitab ala pesantren. Sehingga pula, cukup relevan bagi orang tua yang hendak memesantrenkan anaknya, atau bagi siapapun yang akan membuka lembaga pendidikan pesantren, untuk menjadikan kitab Alala sebagai panduan awal yang meski dipegang oleh para calon santri dan santri pemula.

Meskipun kitab Alala terbilang tipis, namun tidak dengan ilmu yang ada di dalamnya. Kitab ini di dalamnya memuat 30 bait yang setiap baitnya terkandung pelajaran, hikmah dan tuntunan yang terbaik bagi para pejuang ilmu. Setiap baitnya dapat memecut semangat berilmu dan berakhlak bagi siapapun yang mempelajari, mendalami, dan menghayatinya secara baik.
Kitab ini dinamakan dengan nama Alala yang diambil dari sepotong kata dari bait pertama kitab tersebut, yaitu “Alala Tanalul Ilma”, yang maksudnya adalah “Ingatlah, ilmu tidak akan pernah didapatkan”.

Maksud ilmu tidak akan pernah bisa didapatkan adalah bahwa untuk mendapatkan ilmu seseorang harus mengikuti tuntunan-tuntunannya, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Alala melalui 30 bait magicnya. Sehingga cukup jelas bahwa kitab ini disusun agar menjadi tuntunan bagi para pencari ilmu supaya bisa mendapatkan ilmu secar baik, bukan saja menjadi pengetahuan, tetapi juga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-harinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here