Kajian Tafsir Al-Jalalain: Surat Al-Maidah

0
145
Kiai Ahmad Zaeni Dahlan sedang mengajar ngaji bersama santr-santri putri.

KHASKEMPEK.COM – Surat al Maidah menempati urutan surat yang kelima dalam Al Quran. Jumlah ayatnya menurut mayoritas ulama berjumlah 120 ayat. Sebagian ulama menghitungnya berjumlah 122 ayat, sebagian yang lain sampai 123 ayat.

Surat Al Ma’idah dikelompokkan dalam surat-surat madaniah, yaitu surat yang diturunkan setelah peristiwa hijrah Kanjeng Rasul SAW ke Madinah. Memang ada beberapa ayat yang turun di tengah-tengah Kanjeng Rasul SAW sedang melakukan perjalanan jauh dan bahkan ada yang turun ketika Kanjeng Rasul berada di Mekkah yaitu ayat


اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا

Ayat ini turun di Mekkah pada peristiwa Haji Wada’ di tahun kesembilan hijrah. Hal ini tidak menghalangi ayat ini dimasukkan dalam kelompok ayat madaniah, karena maksud dari madaniah di sini, sesuai pendapat yang paling kuat, adalah surat-surat yang turun paska hijrah, meski ia turun di Mekkah.

Ulama juga hampir sepakat bahwa surat ِAl Maidah ini termasuk surat yang turun di akhir-akhir kehidupan kanjeng Rasul SAW. Al Qurtubi meriwayatkan sebuah hadist yang menjelaskan bahwa Kanjeng Rasul SAW membacakan surat Al Ma’idah di sela-sela beliau melakukan Haji Wada’ dan kemudian berkata: “Surat Al Ma’idah ini termasuk surat yang terakhir diturunkan oleh Allah SWT maka hendaklah kalian menghalalkan apa-apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa-apa yang diharamkannya.”

Keterangan yang sama didapatkan dari sebuah hadist yang diriwayatkan dari ‘Aisyah RA. Saat itu Jubair Bin Nufair RA menemuinya dan belia bertanya kepada Jubair: “Apakah Kamu sudah membaca surat Al Ma’idah?”, Jubair menjawab: “Ia, sudah.” ‘Aisyah RA kemudian menjelaskan: “Surat al Ma’idah termasuk surat yang terakhir diturunkan oleh Allah SWT maka hendaklah apa-apa yang dihalalkannya, kalian halalkan dan apa-apa yang diharamkannya, kalian haramkan.”

Berdasarkan riwayat-riwayat diatas, sebagian ulama memperkirakan sebagian besar ayat-ayat dalam Surat Al Ma’idah diturunkan antara tahun ketujuh sampai kesepuluh hijrah, yaitu paska perjanjian Hudaibiah sampai menjelang wafatnya Kanjeng Rasul SAW.

Ada beberapa riwayat hadist yang menyatakan bahwa surat Al Maidah turun dalam satu kali tahapan. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Asma’ binti Yazid RA, beliau bercerita bahwa saat itu ia sedang memegang kendali unta Kanjeng Rasul SAW yang bernama ‘Adba’, kemudian turunlah Surat Al Maidah semuanya. Saking beratnya sehingga hampir saja mematahkan leher sang unta.

Dalam hadist yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah Ibnu Umar RA, beliau menjelaskan bahwa surat Al Maidah turun dalam satu kali tahapan. Saat itu Kanjeng Rasul SAW berada di atas untanya. Unta itu tidak sanggup menanggung beban yang teramat berat, sehingga kanjeng Rasul turun (dari atas untanya).


Sebagian riwayat malah menyebutkan secara khusus waktu dan tempat surat ini secara keseluruhan diturunkan. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid dari Muhammad Al Qordi. Beliau berkata: Surat Al Ma’idah turun secara kesulurahan dalam perjalanan melaksanakan Hajjatul Wada’, yaitu di suatu tempat antara Mekkah dan Madinah.

Akan tetapi riwayat hadist diatas masih bisa dipertanyakan, dengan dua alasan utama; pertama, terdapat banyak riwayat yang menjelaskan bahwa ayat-ayat tertentu dari surat Al Ma’idah turun berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang terpisah-pisah. Ini menunjukkan bahwa surat Al Ma’idah tidak turun dalam satu kali tahapan saja. Akan tetapi terpisah-pisah dalam rentang waktu yang panjang.

Kedua, permasalahan yang dibahas dalam ayat-ayat surat Al Ma’idah sangat bervariasi dan mencakup berbagai macam tema yang sangat luas, sehingga sangatlah tidak meyaqinkan apabila dikatakan bahwa surat Al Ma’idah turun dalam sekali tahapan saja. Ayat-ayat Al Qur’an umumnya diturunkan untuk merespon peristiwa-peristiwa sepisifik yang terpisah antara satu dengan yang lainnya.

Bahkan seperti yang dinyatakan oleh beberapa penulis tafsir, ada kemungkinan beberapa ayat dari surat Al Ma’idah turun sebelum terjadinya perang Badar di tahun kedua hijrah. Kalau kemungkinan ini benar, maka ayat-ayat ini adalah merupakan ayat-ayat dari surat Al Ma’idah yang pertama kali turun, yaitu di awal-awal Kanjeng Rasul SAW berada di Madinah.


Ayat-ayat itu adalah ayat yang menceritakan dialog Nabi Musa AS dengan kaumnya, Bani Isra’il, saat mereka mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk memasuki Palestina setelah mereka diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Mereka saat itu menolak melaksanakan perintah tersebut dan berkata dengan ungkapannya yang masyhur:


فاذهب أنت وربك فقاتلا إنا ههنا قاعدون

Pergilah kamu bersama Tuhanmu, maka berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan tetap disini (menunggu).” (QS: Al Maidah;24)

Ungkapan ini, seperti diceritakan dalam sebuah hadist, dikutip oleh Miqdad bin Aswad RA salah satu pemimpin Sahabat Anshar ketika Kanjeng Rasul SAW meminta pendapat mereka tentang kelanjutan perjalanan mereka untuk berperang dengan orang-orang musyrik Mekkah di lembah Badar. Miqdad berkata:


إنا لانقول كما قال قوم موسى “اذهب أنت وربك فقاتلا إنا ههنا قاعدون” ولكن ” اذهب أنت وربك فقاتلا إنا معكم مقاتلون”

Kami tidak berkata sebagaimana kaum Nabi Musa berkata: “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, maka berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan tetap disini (menunggu).” Akan tetapi (kami berkata:) “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan ikut berperang bersama kalian.” (HR: Bukhari dan Ahmad)

Pengutipan Miqdad terhadap ungkapan yang ada dalam ayat-ayat tersebut, dan itu terjadi sebelum perang Badar, menunjukkan bahwa ayat-ayat itu turun sebelum perang Badar. Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. maka ayat ini diperkirakan turun sebelumnya.

Demikian, semoga bermanfaat. (KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here