Kajian Alfiyah Ibnu Malik Ponpes Khas Kempek, Bab Af’alul Muqorobah

0
545

KHASKEMPEK.COM – Mubtada dan khobar adalah susunan yang sangat harmonis, artinya ketika ada mubtada pasti di situ ada khobar. Namun keharmonisan mubtada dengan khobar ini akan rusak dengan adanya amil nawasihul ibtida, yang tadinya khobar ini selalu mengiring mubtadnya, karena datangnya amil nawasihul ibtida, maka rusaklah susunannya.

Amil nawasihul ibtida itu terbagi menjadi tiga bagian, bagian yang pertama adalah كان واخواتها bagian yang kedua adalah ان واخواتها dan bagian yang ketiga adalah ظن واخواتها.

Mengenai كان واخوتها dari sudut pandang ma’nanya terbagi menjadi tiga, yang pertama berma`na mendekatkan atau yang dikenal dengan istilah افعال المقاربة , yang kedua berma`na pengaharapan atau yang dikenal dengan istilah افعال الرجاء,dan yang ketiga berma`na memulai atau yang dikenal dengan istilah افعال الشروع . Semuanya terangkum dalam bab افعال المقاربة.

Dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan mengenai افعال المقاربة. Adapun definisi افعال المقاربة sendiri ialah ماوضع لدلالةعلي قرب وقع الخبر yang artinya fiil-fiil yang diciptakan untuk menunjukkan ma`na dekat terjadinya ma`na isim terhadap khobarnya.

Mengenai fiil-fiil yang termasuk dalam افعال المقاربة telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Malik dalam baitnya yang berbunyi:


ككان كادوعسي لكن ندر # غيرمضارع لهذين الخبر

Lafadz كاد dan عسى itu seperti halnya lafadz كان dalam segi pengamalannya, merofa’kan pada isimnya dan menashobkan pada khobarnya, akan tetapi pengamalannya jarang terjadi apabila khobar keduanya bukan berupa fi`il mudhore.


اعوذبالله من الشيطان الرجيم
لقدتاب الله علي النبي والمهاجرين والانصارالذين اتبعوه في ساعة العسرة من بعدما كاديزيغ قلوب فريق منهم ثم تاب عليهم انه بهم رؤف رحيم . (التوبة : 117)

“Sesunggunya Allah telah menerima taubat nabi, kaum muhajirin dan anshor yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolangan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha penyayang kepada mereka”.

Pokok pembahasan pada lafadz من بعد ما كاديزيغ lafadz كاد merupakan af`alul muqorobah yang mengamal seperti pengamalannya lafadz كان , merofa`kan pada isimnya yang berupa dhomir mustatir yang kembali pada lafadz بعض الفريق dan menashobkan pada khobarnya secara mahal yaitu jumlah fi`liyah lafadz يزيغ , dimana lafadz كاد ini berma`na muqorobah yang artinya qoum muhajirin dan anshor hampir saja putus asa dan tidak mengikuti nabi dalam peristiwa perang tabuq, karena perang tabuq itu terjadi pada saat kesulitannya orang-orang muslim, kesulitan dalam makanan, air dan udara yang amat panas, sehingga membuatnya hampir saja berpaling dan tidak mengikuti nabi.

Hukum khobarnya af`alul muqorobah ini berbeda dengan كان واخوتها , dalam baitnya Imam Ibnu Malik menjelaskan:


وكونه بدون ان بعد عسى # نزر وكادالامر فيه عكس

Keberadaan khobar setelah عسى jika tidak di sertai ان مصدريه itu hukumnya jarang , sedangkan pada lafadz كاد justru di hukumi sebaliknya, artinya lebih sering tidak disertai ان مصدريه.

Tetapi menurut madzhab Imam Sibawaih dan jumhur ulama Bashrah mengatakan bahwa, khobarnyanya كاد yang bersama dengan ان مصدرية hanya ada ditemukan dalam syair saja, seperti dalam syair berikut:


كادت النفس ان تفيض عليه * اذغداحشو ربطة وبرود

Mahalu syahid pada lafadz كادت, lafadz كادت merupakan af`alul muqorobah yang mengamal seperti pengamalannya lafadz كان ,meropa`kan pada isimnya yaitu lafadz النفس dan menashobkan pada khobarnya secara mahal dengan disertai ان مصدرية yaitu lafadz ان تفيض.

Yang artinya: “Jiwa ini hampir saja hancur luluh saat melihatnya menjadi isi kain kapan” .

Sedangkan pada lafadz عسي itu khobarnya harus disertai ان مصدرية karena lafadz عسي disebut juga dengan istilah af’alurroja, dikatakan afalur roja karena berma’na harapan, sebab yang namanya harapan adalah suatu pekerjaan yang belum terjadi, maka khobarnya harus disertai ان مصدرية yang merupakan harfu nashbin, wamasdarin, wastiqbalin. Dikatakan harfu nashbin karena menashobkan pada fi`il mudhore yaitu lafadz تفيض , dikatakan harfu masdarin karena menjadi sebabnya fi`il mudhore dita’wili masdar yaitu lafadz افاضا dan dikatakan harfu istiqbalin karena menertentukan zamannya fi`il mudhore yang tadinya hal atau istiqbal menjadi istiqbal.

Sedangkan Pengertian afaluroja sendiri adalah
الخبر ما وضع لدلالة علي الرجاء yang artinya fiil –fiil yang diciptakan untuk menunjukkan makna pengharapan terhadap khobar, seperti dalam firman Allah yang berbunyi:


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وهوشرلكم والله يعلم وانتم لا تعلمون

Mahalu syahid pada lafadz عَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا lafadz عَسَىٰ merupakan afalurroja yang mengamal seperti pengamalanya كان merofakan pada isimnya yang berupa domir sya`n dan menasobkan pada khobarnya secara mahal dengan diusertai أَن yaitu jumlah fi`liyah lafadz أَن تَكْرَهُو.

Yang artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu benci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, dan allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Dalam ayat Alquran tadi kita ambil pelajaran bahwasannya. Ketika kamu mencintai sesuatu, janganlah terlalu, karna mungkin saja itu buruk bagimu atau menjadi sesuatu yang kamu benci. Dan ketika kamu membenci sesuatu, janganlah terlalu, karna mungkin saja iyu buruk bagimu atau menjadi sesuatu yang kamu cintai. Allah tahu yang terbaik bagi kita dan tahu apa yang kita butuhkan. Sekian, terima kasih.

*Kajian ini disampaikan oleh: Al-Rihlah, Kelompok 9: M. Adnan, M. Sehu dan M. Faizal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here