Kajian Alfiyah Ibnu Malik Ponpes Khas Kempek Cirebon, Bab Fa’il

0
325

KHASKEMPEK.COM – Pada era sekarang, banyak masyarakat tidak mengetahui bahwasanya santri memiliki peranan yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan indonesia. Karena, di samping mendalami ilmu agama, mereka juga ikut berjuang dan mengangkat senjata untuk melawan para penjajah.

Dengan semangat juang yang tinggi, mereka berhasil mengusir para penjajah, meraih kemerdekaan serta membentuk NKRI. Dan di sini, santri menjadi subyek yang berperan, bukan penonton, yang telah memberikan kontribusi secara nyata. Hal ini dibuktikan dengan ikut andilnya santri, dalam pertempuran 10 November yang tergelorakan oleh resolusi jihadnya Mbah Hasyim Asy’ari, pada tanggal 22 Oktober 1945. Oleh karena itu, kami tegaskan tidak akan ada 10 November sebagai hari pahlawan, jika tidak ada 22 Oktober.

Dari situ maka terlahirlah hari santri nasional untuk mengenang jasa, kontribusi, peranan dari santri dan kiai , untuk negeri. Dalam ilmu gramatika bahasa arab istilah subyek dinamakan dengan fail. Disini kami akan membahas fail lebih terperinci lagi bersama para pakarnya. Kang Risa Apa yang anda ketahui tentang fa’il?

Definisi fa’il, telah dipaparkan oleh Syekh Muhammad bin Abdillah bin Malik Al andalusi dalam baitnya:

الفاعل الذي كمرفعي أتى # زيد منيرا وجهه نعم الفتى

Fa’il adalah seperti dua isim yang di rofakan dalam contoh أتى زيد dan نعم الفتى

Fa’il secara etimologi yaitu من اوجد الفعل orang yang melakukan pekerjaan. Sedangkan Fa’il secara terminologi yaitu الاسم المسند اليه فعل على طريقة فعل او شبهه isim yang menjadi sandaran fiil yang berbentuk wazan فعل atau yang serupa dengannya.

Apa contohnya ? Contohnya dalam firmannya Allah Swt surat al Kahfi ayat 60 yang berbunyi:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًۭا.

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada santrinya : “ Aku tidak akan berhenti (bejalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun tahun ”.


Mahallusyahid lafadz مُوسَىٰ , dalam contoh ini lafadz tersebut posisinya sebagai fail, karena di rofakan oleh fiil yang terletak sebelumnya yakni lafadz قَالَ yang mana alamat rofanya menggunakan dhommah muqaddarah (di kira2kan pada alif) karena berupa isim mufrod yang mu’tal akhir yakni isim maqshur

Oke baik, saya akan bertanya kepada pakar yang lain, Kang Dadan. Apakah ada ketentuan khusus bagi suatu lafadz untuk bisa di kategorikan sebagai fa’il ?

Jelas adaa…
و بعد فعل فاعل فإن ظهر # فهو و الا فضمير استتر

Fa”il wajib terletak setelahnya fi’il, baik fa’ilnya berupa isim dzohir maupun isim dhomir.

Contohnya lafadz قال محمد هو ابن ملك , lafadz محمد merupakan isim yang di rofa’kan dalam hal ini terletak setelahnya fiil yaitu lafadz قال oleh karena itu lafadz محمد sudah bisa di kategorikan sebagai fa’il.
Kemudian ada lagi
وجرد الفعل إذا ما أسند # لاثنين أو جمع كفاز الشهدا


Fi’il harus tetap mufrod sekalipun di sandarkan pada fail isim dzhohir yang berupa tatsniyah atau jamak, sebagaimana lafadz فاز الشهدا

Lafadz فاز Yang sebagai fiil, dalam hal ini harus tetap mufrod, sekalipun di sandarkan pada fa’il isim dzhohir yang berupa jamak, yaitu lafadz الشهدا

Lantas bagaimana dalam hadits nabi

يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل و ملائكة بالنهار

Disitukan lafadz ملائكة sebagai fa’il, dan berupa jamak, ko kenapa lafadz يتعاقبون yang sebagai fi’ilnya ikut dijamakan juga?

Oooh nggak masalah..

Justru hadits inilah yang menjadi landasannya Syekh Ibnu Malik dalam hal di perbolehkannya mendatangkan alamat tasniyyah dan alamat jama pada kalimah fi’il

وقد يقال سعدا وسعدوا # والفعل للظاهر بعد مسند

Terkadang fi’il di masuki alamat tasniyyah ketika disandarkan pada fa’il isim dzohir yang berupa tasniyyah, dan dimasuki alamat jamak ketika di sandarkan pada fa’il isim dzohir yang berupa jamak, dan boleh diucapkan

سعدا المسلمان
dan
سعدوا المسلمون
Ini lebih di kenal dengan lughot
اكلوني البراغيث

Sedikit tambahan Ada satu ketentuan lagi yaitu…

وتاء تا نيث تلي الماضي إذا # كان لانثى كابت هند الاذى

Fi’il harus disertai ta’ ta’nits ketika fa’ilnya berupa muannats sebagaimana lafadz ابت هند الاذى , lafadz هند itu berposisi sebagai fail, dalam hal ini berupa muannats, oleh karena itu lafadz ابت yang sebagai fiilnya di sertai ta’ ta’nits.

Bagaimana dengan redaksi قال نسوة dalam surat yusuf ayat 30, di situkan lafadz نسوة sebagai fail dan berupa muannats, kenapa lafadz قال yang sebagai fiilnya tidak mendatangkan ta ta’nits?

والتاء مع جمع سوى السالم من # مذكر كالتاء مع إحدى اللبن

Fi’il yang di sandarkan pada fail yang berupa jamak,

Selama bukan merupakan jamak mudzakar salim maka fiilnya boleh mendatangkan ta tanits boleh juga tidak, termasuk lafadz نسوة dalam hal ini berupa isim jamak, maka lafadz قال yang sebagai fiilnya boleh untuk tidak mendatangkan ta tanits.

Oh jadi pada intinya, fa’il adalah isim yang di rofa’kan dan terletak setelahnya fi’il serta harus memenuhi kriteria yang telah di sebutkan tadi.

Oke kang Aziz… Apa ibroh atau pelajaran yang bisa di ambil dari pembahasan ini untuk generasi milenial sekarang ?

Ibroh yang bisa kita ambil dari pembahasan ini bahwasanya ketika kita ingin marfu’ atau memiliki kedudukan yang tinggi, maka kita harus menjalankan nilai nilai filosofis yang terkandung di dalam fail. Artinya harus bisa menjadi pemeran, bukan penonton, menjadi pribadi yang mengedepankan action daripada omong kosong belaka, dan yang berani mengukir sejarahnya dengan tinta emas. Dari peranan itulah kita akan di perhitungkan dan menjadi the leader in the world.

Oh berarti sangatlah pantas ya jika fa’il berada pada urutan pertama dalam konteks marfuatul asma? Tepat sekali, demikian, terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here