Kajian Alfiyah Ibnu Malik Ponpes Khas Kempek, Bab Mubtada Khobar

0
274

KHASKEMPEK.COM – Para pemuda pernah bersumpah kepada Indonesia. Akan bersatu dalam tumpah darah bangsa dan bahasa.

Menyedihkan jika pemuda ikut mempertajam perpecahan, malah aktif menyebarkan ujaran kebencian.

Gampang hanyut oleh informasi sembarangan, larut dalam propaganda informasi murahan.

Jangan mau sekedar menjadi serdadu bagi generasi tua, sebab masa depan justru milik kita para pemuda.

Jadilah penenang bagi rakyat yang gelisah. Jadilah penentu ketika semua jalan terlihat buntu .

Sebagi pemuda yang hidup diera globalisasi ini, di mana berita mudah diakses kapanpun dan dimanapun, kita harus menjadi informan yang budiman.
Tidak menyebar berita hoax dan tidak mengujar kebencian. Kita harus menginformasikan suatu berita sesuai dengan fakta.

Hal ini juga senada dengan kajian gramatika bahasa Arab, bahwa jika ditinjau dari segi etimologi, khobar memiliki arti berita, sedangkan kalau dikaji dalam perspektif nahwiyyah maka memiliki pengertian yang berbeda. Ini merujuk pada apa yang ada dalam untaiyan syair karya monumental as-Syekh al-Imam Abu ‘Abdillah Jamaluddin Muhammad ibn ‘Abdillah ibn Malik at-Thoi’ al-Andalusi:


وَالْخَبَرُ الْجُزْءُ الْمُتِمُّ الْفَائِدَة ۞ كَاللهُ بَرٌّ وَ الْأَيَادِي شَاهِدَة
وَمُفْرَداً يَأْتِي وَيَأْتِي جُمْلـَـة ۞ حَاوِيَةً مَعْنَى الَّذِي سِيْقَتْ لَه

Khobar ialah bagian yang menyempurnakan pemahaman bersamaan dengan mubtada, seperti lafad الله بر dan الأيادي شاهدة Adakalanya Khobar itu berbentuk mufrod dan berbentuk jumlah yang didalamnya mengandung ma’na mubtada.

Khobar terbagi menjadi dua: Khobar mufrod dan Khobar jumlah. Khobar mufrod ialah ما ليس جملة ولا شبهها ولو كان مثنى أو مجموعا (khobar yang bukan berupa jumlah dan syibh jumlah meskipun berbentuk tasniyah atau jamak)

Contoh dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 32 yang berbunyi:


ولا تكونوا من المشركين من الذين فرّقوا دينهم وكانوا شيعا كّل حزب بما لديهم فرحون

“Janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik, yakni orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Mahalusyahid lafad فرحون ini merupakan Khobar mufrod karena bukan berupa jumlah baik jumlah ismiyah atau fi’iliyah dan bukan syibeh jumlah (dhorof dan jar majrur) meski lafad فرحون ini berbentuk jamak, lafad فرحون dibaca rofa’ menjadi Khobar dari mubtada lafad كل حزب ciri rofa’ nya dengan menggunakan wawu karena lafad فرحون merupakan jamak mudzakar salim dari mufrod فرح.

Ayat ini menunjukan bahwa setiap firqoh (kelompok) merasa bangga dengan apa yang dia percayainya, menyangka bahwa hanya dirinya sajalah yang benar dan menganggap kelompok selain mereka salah (sesat).

Contoh lain ialah buah pikir hujjatul Islam as-Syekh al-Imam Abi Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghozali at-Tusi dalam karya monumentalnya kitab Ihya Ulumiddin:


والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

“Negara dan agama adalah saudara kembar, agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu tanpa dasar akan runtuh dan dasar tanpa penjaganya akan hilang.”

Mari kita analisis bersama, mahalussyahid lafad توأمان merupakan Khobar mufrod, karena bukan berupa jumlah baik jumlah ismiyyah atau filiyah dan bukan berupa syibeh jumlah (dzorof dan jer majrur) meski lafadz توأمان berbentuk tasniyyah, lafad توأمان di baca rofa menjadi Khobar mufrod yang di rofakan oleh mubtada lafadz الملك . ciri rofanya menggunakan alif karena lafadz توأمان merupakan masdar ghoiru mim bentuk tasniyyah mudzakar dari lafadz توأم .

Kita sebagai generasi muda jangan sampai menyalah pahami buah pikir Imam Ghozali ini, bahwa negara butuh bentuk agama sehingga tidak butuh idiologi Pancasila, seperti yang sering di gaungkan oleh kelompok pengusung khilafah, yang menginginkan agama sebagai hukum dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tapi juga, kita tidak boleh memisahkan relasi agama dengan negara. Seperti paham yang di bawakan oleh kelompok sekuler. Dari penjelasan ini, bahwa kita sebagai generasi milenial (muda) harus menyikapi nya dengan sikap moderat (wasatiyyah). Ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi:


خير الأمور أوساطها

“Sebaik-baik persoalan adalah yang tengah-tengah.”

Artinya tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri, kita harus mengambil jalan tengah dan keseimbangan antar dua hal yang berbeda atau bertentangan, seperti keseimbangan antara konsep dan realitas, usul (pokok) dan furu’ (cabang). Keseimbangan antara relasi agama dan bangsa.

Berlanjut kepembahasan yang kedua yakni Khobar jumlah. Yang dimaksud jumlah ialah jumlah fi’liyyah (fiil fail), jumlah ismiyyah (mubtada Khobar), dan syibeh jumlah (dzorof dan jer majrur). Dengan syarat jumlah itu masih berhubungan dengan mubtada, jika tidak memiliki hubungan (kolerasi) maka tidak bisa menghasilkan faidah ikhbar, dan tidak dinamakan kalam.

Dalam hal ini kami hanya akan membahas tentang jumlah fi’liyah saja,. Mengutip maqolah as-syekh Abdullah al-mu’tazzi di dalam kitab adabud dunya waddiin karya as-syekh abi hasan ali ibn Muhammad ibn habib al basri al mawardi yang dikenal dengan Imam Mawardi:


الملك بالدين يبقى والدين بالملك يقوى

“Kekuasaan yang bersanding dengan agama akan menjadi stabil dan agama yang bersanding dengan kekuasaan akan menjadi kuat dan kokoh.”

Mahalussyahid lafadz يبقى ini menempati mahal rofa karena menjadi Khobar jumlah (jumlah fiiliyyah) dari lafadz الملك lafadz يبقى di baca rofa karena merupakan fiil mudhore yang tidak kemasukan amil nasib (menasobkan) dan amil jazim (menjazemkan).

Peryataan syekh Abdullah al mu’tazzi ini mengindikasikan bahwa ketika kita menginginkan negara yang stabil, rakyat menjadi makmur dan sejahtera. Maka kita harus menjalin hubungan baik dengan pemimpin negara.

Bahkan, syariat islam memerintahkan ulama dan ummat islam menjalin hubungan erat dengan penguasa. Tidak merasa kaku serta menganggap bila dekat dengan penguasa akan menodai kehormatan diri dalam beragama.

Karena dakwah dan pemerintahan merupakan dua pilar perbaikan terhadap ummat. Bila keduanya bertemu dan bersatu, maka tujuan dan sasaran dakwah tercapai cita-cita membangun ummat akan terealisasikan, dan integritas suatu bangsa akan tetap terjaga.

*Kajian ini disampaikan oleh: Maulana Akrom, Ahmad Hikam dan Shohibul Mighfar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here