Alumni KHAS Kempek – KHASKEMPEK.COM https://khaskempek.com Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon Wed, 18 Sep 2019 04:29:14 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2 https://khaskempek.com/wp-content/uploads/2019/04/cropped-Logo-KHAS-Kempek-Cirebon-2-32x32.jpg Alumni KHAS Kempek – KHASKEMPEK.COM https://khaskempek.com 32 32 STIKES KHAS Kempek; Antara Tantangan dan Perkembangan https://khaskempek.com/stikes-khas-kempek-antara-tantangan-dan-perkembangan/ https://khaskempek.com/stikes-khas-kempek-antara-tantangan-dan-perkembangan/#respond Thu, 26 Mar 2020 23:00:00 +0000 https://khaskempek.com/?p=5692 KHASKEMPEK.COM – Pada hari Rabu, bertepatan pada bulan Ramadhan, tanggal 22 Mei 2019, oleh Bapak Prof. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada Kabinet Kerja 2014 – 2019, bertempat di halaman utama Ponpes KHAS Kempek, bersamaan dengan acara peringatan Nuzulul Qur’an dan doa khataman kitab ‘pengajian pasaran’, serta pelepasan […]

The post STIKES KHAS Kempek; Antara Tantangan dan Perkembangan appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Pada hari Rabu, bertepatan pada bulan Ramadhan, tanggal 22 Mei 2019, oleh Bapak Prof. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada Kabinet Kerja 2014 – 2019, bertempat di halaman utama Ponpes KHAS Kempek, bersamaan dengan acara peringatan Nuzulul Qur’an dan doa khataman kitab ‘pengajian pasaran’, serta pelepasan siswa kelas IX MTs dan SMP KHAS dan kelas XII MA KHAS Kempek, Bapak Menteri meresmikan pendirian STIKES KHAS Kempek, sebuah lembaga pendidikan tinggi kesehatan yang berdiri dibawah naungan Yayasan KHAS Kempek.

Kenapa Kesehatan?

Berdirinya STIKES KHAS Kempek merupakan terobosan sekaligus tantangan bagi dunia pesantren. Mewabahnya virus corona atau covid-19 yang semakin meluas secara global dan telah memakan korban jiwa ribuan orang serta memberi dampak yang sangat luas, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, perdagangan bahkan politik, membuktikan kepada kita, betapa ilmu kesahatan sangat penting untuk kita kuasai. Dan jika kita melihat sejarah, sesunguhnya dunia Islam pernah menjadi pelopor utama dalam perkembangan ilmu kesehatan dunia.

Tercatat, nama-nama besar ilmuan, seperti Ar-Razi, pakar ilmu anatomi. Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya Ar-Razi. Di dunia barat, ia dikenal dengan sebutan Razhes. Ar-Razi memberikan informasi para peneliti tentang small-pox (penyakit cacar). Ia menuliskannya dalam Kitab Al-Judari wa Al-Hasbah (cacar dan campak). Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh J. Ruska dengan judul Ar-Razi’s Buch: Geheimnis de Gehemnisse.

Kemudian Ibnu An-Nafis, pakar sirkulasi pernafasan. Nama lengkapnya Al-Din Abu Al-Hasan Ali Ibn Abi Al-Hazm Al-Qarshi Al-Dimashqi. Ibnu An-Nafis selain sebagai dokter, juga dikenal sebagai pakar hukum Islam bermazhab Syafi’i. Ia adalah dokter pertama yang mampu menerangkan secara tepat tentang paru-paru dan memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan, juga interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia.

Dalam studinya, Ibnu An-Nafis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, survei, dan percobaan. Ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang mempengaruhi tubuh.
Selanjutnya Abu Zayd Ahmad Ibnu Sahl Al-Balkhi (lahir di Persia, tahun 850). Ia merupakan ilmuwan yang pertama kali mengenalkan konsep kesehatan mental (At-Tibb Ar-Ruhani). Dalam kitab “Masalih Al-Abdan wa An-Anfus”, Al-Balkhi menghubungkan peyakit antara tubuh dan jiwa.

Ada juga At-Tabrani, pakar terapi konseling dan psikoterapi. Nama lengkapnya Ali Ibnu Sahl Rabban At-Tabari. Lewat kitab Firdaus Al-Hikmah yang ditulisnya abad ke 9 M, ia mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa.

Selanjutnya Abu Utsman Amr bin Bahr Al-Fuqaymi Al-Bashri, peletak dasar teori revolusi. Ia keturunan Abesinia, berkulit hitam. beliau telah menulis lebih dari 100 judul buku meliputi bidang biologi, botani, zoologi, sosiologi, politik, dan ekonomi.

Nama lain yang tidak kalah popuer adalah Ibnu Rusydi, nama lengkapnya Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad. Ia adalah ahli falsafah, pengobatan, matematik, teologi, ahli fikah mazhab Maliki, astronomi, geografi dan sains. Ibnu Rusydi lahir 1126 di Spanyol dan meninggal di Maroko.

Juga, Ibnu Sina Abu Ali Al-Husein atau dikenal dengan nama Avicenna (hidup antara tahun 986-1037 M.) Ia seorang ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu, hingga kepadanya diberikan julukan Syeh Al-Rais. Keistimewaannya antara lain pada masa umur 10 tahun sudah hafal Al-Quran, kemudian pada usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu. Bidang keahliannya adalah ilmu Kedokteran, ilmu Fisika, Geologi, Mineralogi, Medicine, Philosophy, Mathematics, Astronomy.

Ini artinya, dunia kesehatan sebenarnya sangat dekat dengan sejarah peradaban agama kita, bukan menjadi bagian, tapi pemeran utama. Maka sudah sangat pas, jika kemudian pondok pesantren, sebagai represantif dari dunai pendidikan Islam mengembangkan ilmu kesehatan. Sehingga, lulusan pesantren tidak hanya mumpuni dalam teks ilmu agama yang berbasisi pada kitab salaf (kitab kining), tapi juga mampu berbicara dan berperan nyata dalam bidang kesehatan di tengah masyarakat. Hal inilah yang sering diutarakan oleh Ketua Yayasan KH. Muhammad Musthofa Aqil Siroj dalam beberapa kesempatan.

Selanjutnya, setelah STIKes KHAS Kempek resmi berdiri, Ketua Yayasan memilih dan mengangkat dr. H. Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein, Sp.PD sebagai Ketua STIKES KHAS. Beliau adalah Ketua IDI Kabupaten Cirebon, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua LKNU dan Sekretaris PP PDNU.

Kemudian Ketua Yayasan menetapkan para wakil untuk mendampingi ketua. Yaitu, Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kurikulum, H. Ni’amillah Aqiel, M.Pd. Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan, Ahmad Ashif Shofiyullah, M.Hum. dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, H. Ahmad Nahdi, M.Pd. Selanjutnya ditetapkan Kaprodi Farmasi dan Gizi. Ketua Kaprodi Farmasi adalah Bapak Dosi Ahmad Yani, S.Si., M.Farm., Apt dan sedangkan Kaprodi Gizi adalah Ibu Yuswati, SKM. MKES.

STIKES KHAS Kempek mengambil dua jurusan, yaitu pogram mata kuliah farmasi dan mata kuliah gizi. Kini kegiatan perkuliahan STIKES KHAS sudah sampai semester dua. Perkuliahan dilaksanakan mulai pukul 10.30 sampai pukul 17.30. Dari jumlah mahasiswa angkatan pertama, sebanyak 72 mahasiswa; Farmasi 38 dan Gizi 34, semuanya adalah santri. Mereka adalah santri aktif yang tinggal dan mengaji di Pondok Pesantren KHAS Kempek.

Kedepan, jika sarana dan prasarana telah siap, seluruh mahasiswa akan di asramakan secara khusus. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembinaan dan pengawasan. Nantinya, di asrama akan diisi dengan kegiatan kepesantrenan yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa.

Untuk mendukung kegiatan perkuliahan, akan diterapkan aturan khusus, seperti diperbolehkanya mahasiswa membawa laptop dan handphone guna menunjang tugas kuliah, terutama mengakses informasi – informasi yang tidak didapat di perpustakaan atau ruang kuliah. Tentu saja dengan tetap berpedoman pada tata-tertib dan budaya serta nilai-nilai atau tradisi Pesantren KHAS Kempek.

Selanjutnya, seperti yang disampaikan oleh Ketua Yayasan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, KH. Muhammad Musthofa Aqiel Siroj, nantinya gedung dan sarana prasarana STIKES akan berada dalam satu kawasan khusus di wilayah ujung barat, bersama dengan SMK KHAS Kempek. (KHASMedia)

*Mansur Jamhuri, Staf Adm. STIKES KHAS Kempek

The post STIKES KHAS Kempek; Antara Tantangan dan Perkembangan appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/stikes-khas-kempek-antara-tantangan-dan-perkembangan/feed/ 0
Almarhum Buya Ja’far; Guruku, Inspiratorku https://khaskempek.com/almarhum-buya-jafar-guruku-inspiratorku/ https://khaskempek.com/almarhum-buya-jafar-guruku-inspiratorku/#respond Mon, 27 Jan 2020 23:00:05 +0000 https://khaskempek.com/?p=5050 KHASKEMPEK.COM – Beliau Sosok kiai yang sangat telaten dan tegas sekali dalam mendidik santri santrinya, dalam mengajarkan Al-Qur’an, mengajarkan Alfiyah Ibnu Malik dan mencontohkan kedisiplinan tanpa batas terhadap semua santrinya . Saya ingat setelah selesai Hataman Al Qur’an Januari 2011, saya sowan beserta keluarga untuk meminta doa dan meminta ridho ipun panjenengan. Beliau berpesan, “Aja […]

The post Almarhum Buya Ja’far; Guruku, Inspiratorku appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Beliau Sosok kiai yang sangat telaten dan tegas sekali dalam mendidik santri santrinya, dalam mengajarkan Al-Qur’an, mengajarkan Alfiyah Ibnu Malik dan mencontohkan kedisiplinan tanpa batas terhadap semua santrinya .

Saya ingat setelah selesai Hataman Al Qur’an Januari 2011, saya sowan beserta keluarga untuk meminta doa dan meminta ridho ipun panjenengan. Beliau berpesan, “Aja boyong ya Drus, lanjut ngaji Alfiyah Karo isun endah olih berkahe Alfiyah lan kyai Kempek,” padahal saat itu, rencana saya berniat untuk sowan minta ridho dan dalam hati berniat pindah pondok, namun ungkapan beliau membuat saya dan keluarga saya saat itu mendukung untuk lanjut mengaji Alfiyah kepada beliau .

Tahun 2011 sampai 2012, saya dengan teman-teman istighol memasuki jenjang Alfiyah Ula, Alfiyah Tsani. Ketika mengaji Alfiyah kepada Abuya KH. Ja’far Shodiq Aqiel banyak sekali kenangan yang didapat, yang bisa diambil pelajaran, sosok kedisiplinan dalam mengajar telaten dalam makna, beliau sering mengatakan jangan merasa sudah bisa, kitab harus penuh, cocogan jangan cuma satu kali, kalau bisa cocogan yang membaca kita sendiri, jangan kita yang mendengarkan temen membaca.

Alhamdulillah tepat di Tanggal 19 Januari 2013 kami santri Alfiyah Istighol bisa menghatamkan Nadzom Alfiyah 1002 Bait. Meskipun beliau sibuk menjadi ketua MUI Cirebon, beliau senantiasa tetep disiplin mengajarkan Al-Qur’an dan Alfiyah beserta keistiqomahan beliau dalam membaca sholawat 1000 kali setiap Subuh.

Beliau sering berpesan jangan lupa mendoakan kiai-kiai Kempek dan tawasul kepada pendiri Pondok Pesantren Kempek, Mbah KH. Harun, Mbah KH. Umar Sholeh, Mbah KH. Aqiel Siroj dan KH. Nashir Abu Bakar. Juga beliau sering mengingatkan harus selalu mendoakan kedua orang tua agar diberikan kesehatan rejeki lancar dan berkah hidupnya.

Beliau sosok kiai yang sangat disiplin dalam semua hal, dalam hal disiplin ilmu, dalam hal disiplin waktu, dalam hal disiplin telaten kepada santri santrinya. Beliau pernah berpesan kepada para santri, “Santrine Isun Aja Bulit”. Artinya santri saya jangan curang, dalam hal apapun.

Maafkan kami Buya, jika selama mengaji sering membuat engkau marah, bendu karena malas-malas dalam cocogan, malas dalam melalar nadzom Alfiyah, namun insy Allah kami punya semangat untuk menjadi seseorang yang bisa meneladani engkau dalam semua hal, terutama dalam hal kedisiplinan ilmu dan kedisiplinan waktu.

Nyuwun ridho e panjenengan Buya. Mugi-mugi Al-Qur’an lan Alfiyah ingkang dipun pelajari saking panjenengan saged dadosaken futuh e kulo lan angsal barokah ipun sedoyo masyayikh Kempek.

Alfatihah untukmu Buya KH. Ja’far Shodiq Aqiel, Guruku, sang inspiratorku, Syekhina wamurabbi Ruuhina.

Curahan hati Santri Alfiyah Istighol 2013 (Muhammad Idrus)

The post Almarhum Buya Ja’far; Guruku, Inspiratorku appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/almarhum-buya-jafar-guruku-inspiratorku/feed/ 0
Ikhwan Khas Jakarta Adakan Haul Buya Ja’far Ke-6 https://khaskempek.com/ikhwan-khas-jakarta-adakan-haul-buya-jafar-ke-6/ https://khaskempek.com/ikhwan-khas-jakarta-adakan-haul-buya-jafar-ke-6/#respond Sun, 26 Jan 2020 13:03:23 +0000 https://khaskempek.com/?p=5030 KHASKEMPEK.COM, CIPUTAT, JAKARTA -Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan Khas) Jakarta melakukan tahlil dan do’a bersama memperingati haul pengasuh Pondok Pesantren Khas Kempek, Almaghfurlah Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj.   “Kami melakukan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk Almaghfurlah Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj. Acara ini memang ditujukan kepada alumni Kempek […]

The post Ikhwan Khas Jakarta Adakan Haul Buya Ja’far Ke-6 appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM, CIPUTAT, JAKARTA -Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan Khas) Jakarta melakukan tahlil dan do’a bersama memperingati haul pengasuh Pondok Pesantren Khas Kempek, Almaghfurlah Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj.  

“Kami melakukan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk Almaghfurlah Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj. Acara ini memang ditujukan kepada alumni Kempek yang berada di Jabodetabek,” ujar Nurul Anwar, Ketua Departemen Sosial dan Keagamaan Ikhwan Khas Jakarta.

Tahlil serta doa bersama ini dilaksanakan setelah Isya di Sekretariat Ikhwan Khas Jakarta, Sabtu (25/01/2020).

Haul ini dihadiri dihadiri oleh beberapa alumni Kempek yang tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Acara diprakarsai oleh Ikhwan Khas Jakarta ini tidak hanya mengenang 6 tahun wafatnya Almaghfurlah Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj, akan tetapi dijadikan wadah silaturahmi para alumni Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. (KHASMedia/Fauzi)

The post Ikhwan Khas Jakarta Adakan Haul Buya Ja’far Ke-6 appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/ikhwan-khas-jakarta-adakan-haul-buya-jafar-ke-6/feed/ 0
Sisi Lain Buya Ja’far https://khaskempek.com/sisi-lain-buya-jafar/ https://khaskempek.com/sisi-lain-buya-jafar/#respond Sat, 25 Jan 2020 11:00:31 +0000 https://khaskempek.com/?p=5003 KHASKEMPEK.COM – Pada umumnya santri pondok pesantren Kempek Cirebon mengenal Buya Ja’far, panggilan akrab KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj, sebagai sosok Kiai yang tegas, disiplin, komitmen tinggi, dan tidak kompromi dengan santri yang malas, tidak mau belajar, dan enggan berpakaian rapih. Setiap santri yang mengaji kepada beliau, khususnya ngaji kitab Alfiyah Ibn Malik, dipastikan faham […]

The post Sisi Lain Buya Ja’far appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Pada umumnya santri pondok pesantren Kempek Cirebon mengenal Buya Ja’far, panggilan akrab KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj, sebagai sosok Kiai yang tegas, disiplin, komitmen tinggi, dan tidak kompromi dengan santri yang malas, tidak mau belajar, dan enggan berpakaian rapih. Setiap santri yang mengaji kepada beliau, khususnya ngaji kitab Alfiyah Ibn Malik, dipastikan faham betul betapa tegasnya – untuk tidak mengatakan keras – sikap Buya Ja’far dalam mendidik setiap santrinya.

Kiai Musthofa Aqil, sebagai adik kandungnya, pernah berkata, “Buya Ja’far itu Kiai yang terkenal disiplinnya, tegasnya, dan juga galaknya”. Pernyataan Kang Muh, panggilan Kiai Musthofa Aqil, yang disampaikan dengan candaan itu memang mengundang perhatian banyak orang, bukan hanya santri , tapi juga wali santri dan masyarakat Cirebon pada umumnya.

Namun di balik sikap yang ditegaskan Kang Muh itu, ada sisi lain dari Buya Ja’far yang jarang diketahui para santrinya, khususnya mereka yang belum pernah mengaji Alfiyah kepada beliau. Sifat itu adalah sifat kasih sayang, kelembutan dan welas-asihnya kepada banyak orang.

Suatu hari ketika penulis masih mengaji kitab Alfiyah kepada Abuya Ja’far, ada dua teman penulis yang dihukum beliau karena beberapa kali tidak bisa membaca dan menjelaskan satu bab dalam kitab Alfiyah. Abuya meminta mereka untuk membersihkan seluruh halaman pesantren. Tidak berhenti di situ, Abuya menggertaknya dengan tegas, “Bersihkan seluruh sampah yang ada di pesantren!, tidak boleh ada yang tersisa!, jika tidak bersih, akan saya antar kalian pulang ke rumah masing-masing!.”

Seketika teman-teman penulis membersihkan, Abuya masuk ke rumah. Abuya kemudian diam sejenak sambil menangis, meneteskan air mata. Dalam keadaan menangis, meneteskan air mata, Abuya berucap kepada Ibu Nyai, “Umi, ya Allah, kenapa santri-santri saya ini.. mengapa mereka belum bisa juga mengaji dengan baik..”. Saat itu pula penulis tak merasakan apapun kecuali kasih sayang beliau kepada santri-santrinya. Abuya enggan mau ketika kelak santrinya pulang menjadi orang yang bodoh, tidak mau mengabdi kepada masyarakat dengan bekal ilmu di pesantren.

Dalam waktu yang lain, penulis bersama teman satu kelas Alfiyah Ibn Malik, yang mengaji kepada Abuya Ja’far, ditargetkan oleh beliau untuk tidak perlu mengadakan khataman/wisuda. Abuya sampai-sampai menegaskan kepada Lurah Pondok supaya angkatan kami tak perlu diwisuda. Padahal, kataman Alfiyah adalah perayaan Pasca selesai ngaji kitab Alfiyah di Pondok pesantren Kempek yang sangat ditunggu semua santri. Alasannya karena kelas kami masih belum cukup ilmu, jauh dari panggang api memahami kitab Alfiyah dengan baik, sehingga bagi beliau tak pantas diwisuda. Bahkan beberapa kali satu kelas dimarahi karena kenakalan dan kebodohan kami.

Akan tetapi entah kenapa dua minggu sebelum tiba acara Haul Pesantren, yang sedianya tidak akan ada acara khataman Alfiyah, Abuya berubah fikiran. Abuya membolehkan kami diwisuda berbarengan Haul. Namun Abuya tidak mengizinkan kami memakai jas, sebagaimana wisudawan-wisudawan sebelum kami. Lagi-lagi alasannya karena kami masih nakal, bebal, dan tak layak memakai almamater jas saat khataman kitab Alfiyah.

Seminggu sebelum khataman tiba, kami diminta berkumpul di ndalem beliau. Tetiba Abuya mengizinkan kami untuk berwisuda dan diizinkan pula memakai jaz almamater khataman. Dengan nada lembut Abuya berkata kepada kami, “Ya.. silahkan.. Besok khataman Alfiyah.. pakai jasnya dengan rapih.. yang bagus.. yang gagah…”. Tidak ada yang kami rasakan saat itu kecuali kebahagiaan. Abuya yang sudah sejak lama mengingatkan kami agar tak perlu diadakan wisuda, dan tak perlu memakai jas kebesaran, seketika beliau dengan nada tulus, penuh kasih sayang, dan welas kepada kami, mempersiapkan semuanya bahkan meminta kami untuk serapih mungkin di depan tamu saat acara khataman nanti.

Rasanya sulit menggambarkan seluruh sisi lain Abuya Ja’far. Kasih sayangnya, ketulusannya, dan welas-asihnya tak cukup digambarkan dalam sederet kata dalam tulisan. Cerita di atas hanya sekelumit pengalaman saja. Ada banyak kejadian selama penulis mengikuti prosesi pengkajian kitab Alfiyah yang kadang tak mampu kami tebak. Selain tegas, disiplin, dan ‘galak’, Abuya Ja’far memiliki sifat kasih sayang, ketulusan dan welas-asih kepada seluruh santrinya. Sosoknyaa bukan saja sebagai guru dan Kiai, tetapi juga sebagai Ayah bagi semua santri yang siap dilindungi dohir-batinnya.

Menuju Haul Buya Ja’far Shodiq Aqil Siroj, pengasuh Pondok pesantren Khas Kempek Cirebon. Allahumma Ighfir Lahu warhamhu. (KHASMedia)

The post Sisi Lain Buya Ja’far appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/sisi-lain-buya-jafar/feed/ 0
الشيخ العلامة جعفر الصادق عقيل سراج ؛ المعلم الثاني وصانع الرجال ومربي الأجيال https://khaskempek.com/%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%8a%d8%ae-%d8%a7%d9%84%d8%b9%d9%84%d8%a7%d9%85%d8%a9-%d8%ac%d8%b9%d9%81%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%a7%d8%af%d9%82-%d8%b9%d9%82%d9%8a%d9%84-%d8%b3%d8%b1%d8%a7%d8%ac-%d8%9b-%d8%a7/ https://khaskempek.com/%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%8a%d8%ae-%d8%a7%d9%84%d8%b9%d9%84%d8%a7%d9%85%d8%a9-%d8%ac%d8%b9%d9%81%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%a7%d8%af%d9%82-%d8%b9%d9%82%d9%8a%d9%84-%d8%b3%d8%b1%d8%a7%d8%ac-%d8%9b-%d8%a7/#respond Fri, 24 Jan 2020 12:20:25 +0000 https://khaskempek.com/?p=5006 يعتبر المعلم من يحمل رسالة العلم، رسالة متصلة بالمسؤولية لمن له قدرة على الصبر والعطاء. وهو ليس مجرد ناقل للمعرفة فحسب، بل يمتد دوره لتنمية قدرات الأجيال. وهو من يبذل جهده من أجل جعل الطلاب ذوي شأن عظيم. وهو من يخرج الناس من الظلمات إلى النور ومن الجهل إلى العلم. فهو مربي الأجيال وصانع الرجال. […]

The post الشيخ العلامة جعفر الصادق عقيل سراج ؛ المعلم الثاني وصانع الرجال ومربي الأجيال appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
يعتبر المعلم من يحمل رسالة العلم، رسالة متصلة بالمسؤولية لمن له قدرة على الصبر والعطاء. وهو ليس مجرد ناقل للمعرفة فحسب، بل يمتد دوره لتنمية قدرات الأجيال. وهو من يبذل جهده من أجل جعل الطلاب ذوي شأن عظيم. وهو من يخرج الناس من الظلمات إلى النور ومن الجهل إلى العلم. فهو مربي الأجيال وصانع الرجال. وهذه السمات جسدت وغرست في شخصية معلمنا ومربي روحنا الشيخ المغفور له جعفر الصادق عقيل. وهو المعلم الثاني بعد والدي

ومن الجدير بالذكر، كان التعلم في معهدنا (مجلس تربية المبتدئين كمفيك تشربون) يأخذ معظم نهار الطالب من بعد صلاة الفجر إلى صلاة الظهر أو العصر عدا يوم الجمعة. ولم يكن الشيخ جعفر يغيب عن المعهد إلا نادرا، وهو كعادة مشايخ المعاهد بأندونيسيا يقضي يومه إما في التربية والتعليم وصلاة الجماعة، وإما في استقبال الوافدين على المعهد

وكان الشيخ جعفر يجلس متربعا على الأرض مواجها على الطويلة، وتتجمع الطلاب على مسافة قريبة من الشيخ، وينشدون منظومة أبيات ألفية ابن مالك. ولكل طالب محل لا يتعداه. ويبتدئ بالبسملة والحمدلة والصلاة على رسول الله، ثم يشرع لهم في تقرير الدرس من كتاب ألفية ابن مالك في النحو والصرف، وفتح المعين في الفقه الشافعي. ومتى فرغ من قراءة دروسه ختمها بقراءة الفاتحة والدعاء لتلاميذه بالفتح والتنوير

كما تميز الشيخ جعفر بالحركية الإجتماعية والنشاطات الدينية، امتلك الشجاعة والملازمة التي تزينها الحكمة، فكان يزور إليه زعماء الدولة ومعسكرها وعلماءها والناس يحبونه حبا جما

وفي يوم ذكرى وفاة المعلم الثاني وصانع الرجال ومربي الأجيال، نسأل الله تعالى أن يجعل عن يمينه نورا حتى تبعثه آمنا مطمئنا في نور من نوره تعالى. ويجعله من الذين سعدوا في الجنة، خالدين فيها ما دامت السموات والأرض. والحمد لله رب العالمين

The post الشيخ العلامة جعفر الصادق عقيل سراج ؛ المعلم الثاني وصانع الرجال ومربي الأجيال appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/%d8%a7%d9%84%d8%b4%d9%8a%d8%ae-%d8%a7%d9%84%d8%b9%d9%84%d8%a7%d9%85%d8%a9-%d8%ac%d8%b9%d9%81%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%a7%d8%af%d9%82-%d8%b9%d9%82%d9%8a%d9%84-%d8%b3%d8%b1%d8%a7%d8%ac-%d8%9b-%d8%a7/feed/ 0
Menguasai Ilmu Eksakta, Sains dan Humaniora Melalui Kitab Kuning https://khaskempek.com/menguasai-ilmu-eksakta-sains-dan-humaniora-melalui-kitab-kuning/ https://khaskempek.com/menguasai-ilmu-eksakta-sains-dan-humaniora-melalui-kitab-kuning/#respond Mon, 23 Dec 2019 04:21:12 +0000 https://khaskempek.com/?p=4649 KHASKEMPEK.COM – Menjelang usia satu abad, melalui lembaga pendidikannya berupa pondok pesantren, organisasi NU masih terus eksis berperan membangun masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui forum-forum kajian, halaqah dan diskusi ala pesantrenan, seperti bahtsul masail yang belum lama dilaksanakan pada MUNAS dan MUBES NU di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar kota Banjar pada 27 Februari […]

The post Menguasai Ilmu Eksakta, Sains dan Humaniora Melalui Kitab Kuning appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Menjelang usia satu abad, melalui lembaga pendidikannya berupa pondok pesantren, organisasi NU masih terus eksis berperan membangun masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui forum-forum kajian, halaqah dan diskusi ala pesantrenan, seperti bahtsul masail yang belum lama dilaksanakan pada MUNAS dan MUBES NU di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar kota Banjar pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019, banyak sekali menghasilkan keputusan-keputusan yang mungkin bisa membantu para pemangku kebijakan dan pengelola pemerintahan dalam mengurai permasalahan bangsa ini.

Forum bahtsul masail biasanya dihadiri oleh para kiai-kiai dan cendikiawan yang memiliki keahlian dalam keilmuan Islam, berbagai macam persoalan keagamaan dan kebangsaan yang belum ada hukumnya dan belum pernah dibahas oleh ulama dahulu akan didiskusikan secara mendalam dalam forum ini.

Menurut Idris Mas’udi, seorang pegiat bahstul masail jebolan pesantren Lirboyo dan Darussunnnah, “Pada gilirannya, forum ini menjadi wadah utama untuk merawat tradisi intelektual di tubuh NU dalam merespon dan menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban hukum”. Sedangkan rujukan utama dalam menjawab hukum-hukum di forum tersebut selain Alquran dan Hadits adalah pendapat (qaul) para ulama yang banyak bertebaran tertulis dalam kitab kuning.

Jadi, bisa dipastikan para peserta bahtsul masail adalah seseorang yang sudah selesai dengan penguasaan kitab kuning, karena kitab kuning atau (kutub al Turats) merupakan jantung intelektual NU.

Di lingkungan NU, penguasaan terhadap kitab kuning diajarkan sangat ketat dan disiplin di lembaga pendidikan yaitu pesantren. Kurikulum pesantren yang berbasis kitab kuning dari berbagai disiplin keilmuan menjadi ciri khas tersendiri, baik di tingkat pemula (ibtida), pertengahan (wustha) dan tinggi (‘ulya). Para santri dituntut harus menguasai dalam bidang Fiqh, misalnya; Mabadi al Fiqhiah, Safinah al Najah, Riyad al Badi’ah, Fath al Qarib, Fath al Mu’in dan Jam’u al Jawami’. Dalam bidang Nahwu; Matn al Ajurumiah, al ‘Imrithi, Mutammimah Kawakib al Duriah, dan Alfiah Ibnu Malik. Dalam bidang Aqidah; Aqidah al ‘Awam, Kifayah al ‘Awam, Fath al Majid, Umm al Barahin, dan Syarah Umm al Barahin karya Al Dasuki. Begitu pula bidang lainya yaitu Tafsir, Hadits, ‘Ulum al Qur’an, Muthtalah al Hadits, Balaghah, Mantiq, dan Qira’ah.

Pesantren sudah cukup lama mengajarkan dan mengembangkan kajian keilmuan-keilmuan tersebut, namun ada beberapa bidang keilmuan yang belum banyak atau tidak tersentuh sama sekali oleh pesantren yaitu bidang ilmu-ilmu eksakta dan humaniora. Padahal kitab kuning yang ditulis oleh ulama terdahulu banyak juga yang mengkaji keilmuan tersebut.

Integrasi Keilmuan Pesantren

Fathi Hasan Malkawi dalam buku Manhajiyah al Takamu al Ma’rifi menyebutkan, istilah Integrasi keilmuan (al Takamul al Ma’rifi) biasanya disematkan kepada seorang ensiklopedis yang memiliki kemampuan dan kepakaran terhadap berbagai disiplin keilmuan. Hal ini tidak sedikit kita menjumpai dari para ulama pesantren yang memiliki kemampuan dan kepakaran tidak hanya dalam satu bidang ilmu tertentu saja seperti bahasa atau sastra, namun pakar juga dibidang fiqh, ulum al Qur’an, ulum al hadits, sejarah bahkan astronomi, kedokteran atau matematika.

Pada waktu itu, ilmu kedokteran selalu bergandengan dengan ilmu teologi. Para dokter sering merangkap dengan ahli metafisik dan filsafat. Ibnu Sina misalnya, dikenal pakar Filsafat juga kedokteran, Ibnu Rusyd terkenal ahli fiqh, teologi, filsafat dan kedokteran, dan Ibnu Taimiyah banyak menulis fiqh, teologi, hadits, tasawuf dan logika. Imam Thabari tidak hanya dikenal sebagai pakar tafsir, namun dikenal juga pakar fiqh, sejarah dan sastrawan. Ibnu Khaldun tidak hanya seorang petualang politik, namun beliau dikenal sebagai sejarawan, hakim mazhab Maliki di Mesir dan sebagai peletak dasar ilmu sosiologi, ekonomi, serta pendidikan.

Sejak dipercaya oleh guru saya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menjadi kepala pesantren dan madrasah Aliyah al Tsaqafah pada tahun 2013, yaitu tahun pertama pesantren berdiri dan diresmikan hingga sekarang, saya selalu memberikan pemahaman kepada para santri tentang pentingnya integrasi ilmu-ilmu pengetahuan, bahwa disana tidak ada dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Semua cabang keilmuan sama pentingnya untuk dipelajari oleh para santri. Adapun yang membedakan adalah klasifikasi pembagian dan pengkelompokan, baik sekala prioritas atau hukum mempelajari, seperti diungkapkan oleh Imam al Ghazali dengan istilah “Ihya ‘Ulumuddin”. Beliau mengkelompokan ilmu dari sisi hukum, yaitu Fardlu ‘Ain dan Fardlu Kifayah. Fardlu ‘Ain sudah jelas, sedangkan Fardlu Kifayah beliau membagi lagi, ada yang Syar’i dan bukan Syar’i. Kelompok Syar’i terbagi lagi, ada yang terpuji (mahmud), tercela (mazdmum) dan (mubah).

Jika kita mengamati pemikiran Imam Syafi’i, kita akan mendapati beliau adalah seorang penganjur integrasi keilmuan. Beliau mengistilahkannya dengan “Jima’ al ‘Ilm” atau Qiyas. Beliau mengkelompokkan ilmu menjadi; ’Ilm al Dien dan ‘Ilm al Dunya, ‘Ilm al Dien terbagi; ‘Ammah (Fardlu ‘Ain) dan Khashshah (fardlu Kifayah).

Begitu pula Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, yaitu bagian pertama dari kitab beliau berjudul al ‘Ibr wa Diwan al Mubtada wa al Khabar fi Tarikh al ‘Arab wa al ‘Azam wa al Barbar, beliau mengistilahkannya dengan ‘Ilm al Shanai’, terbagi dalam kelompok; Thabi’i, yaitu ilmu hasil pemikiran manusia itu sendiri seperti hikmah atau filsafat dan Naqli, yaitu ilmu yang hanya diperoleh dari (khabar) informasi dari Tuhan dan disini tidak ada peran akal sama sekali kecuali hanya mengqiyaskan saja.

Dengan demikian, apa yang sudah disebutkan oleh Imam Syafi’i, al Ghazali dan Ibnu Khaldun bahwa ilmu-ilmu pengetahuan seluruhnya terintegrasi, dan tidak ada dikotomi diantara cabang satu keilmuan dengan lainnya.

Urgensitas pembelajaran ilmu eksakta, sains dan humaniora di pesantren

Sebenarnya ada beberapa bidang keilmuan eksakta yang diajarkan di pesantren, seperti Falak dan Faraid, namun itu sangat minim pengajarannya, kebanyakan pesantren mengajarkannya hanya sebagai mapel tambahan, bukan termasuk pembelajaran pokok dalam KBM seperti halnya Nahwu dan Fiqh. Begitu pula bidang humaniora, pengajaran sejarah misalnya mungkin masih sebatas Sirah Nabawiyah seperti Khulashah Nurul Yaqin karya Umar Abdul Jabar.

Oleh karena itu, mestinya pesantren melalui Kitab Kuning harus mengajarkan dan mengembangkan bidang keilmuan tersebut. Saya meyakini bidang eksakta dan humaniora sama seperti Nahwu dan Fiqh atau lainnya, yaitu memiliki tahapan-tahapan kajian mulai dari level dasar sampai tingkat tinggi sehingga bisa diajarkan kepada para santri sesuai dengan tingkatan pembelajaran.

Salah satu contoh kitab kuning di bidang matematika yang sangat populer, selain kitab al Mukhtashar fi ‘Ilm al Jabar wa al Muqabalah karya Abu Musa al Khawarizmi, ada karya Ibnu Yasamin seorang ulama pakar matematika hidup sekitar abad 12 di kota Fes, Maroko berjudul al Urjuzah al Yasaminiyah fi al Jabr wa al Muqabalah atau Poem on Algebra and Restoration berbentuk syair ber-bahr rajaz seperti nazdam Alfiyah Ibn Malik dalam bidang gramatika bahasa Arab. Beliau memberikan rumusan tentang aljabar yang ia pahami pada masanya. Menurutnya, aljabar terkait dengan angka, akar, dan rangkaian angka. Beliau memuat juga tentang persamaan yang dibuat al Khawarizmi berserta cara untuk memecahkan persamaan tersebut. Disisi lain, Ibnu Yasamin memberikan penjelasan tentang perbandingan, perkalian dan pembagian.

Ada juga kitab ulama akhir abad 19 berjudul Risalah fi ‘Ilm al Jabar wa al Muqabalah ditulis oleh Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Karya lain, yaitu bidang kedokteran yang ditulis oleh Ibnu Thufail berjudul Urjuzah fi al Thib. Puisi berbahar rajaz itu terdiri dari tujuh ribu tujuh ratus bait. Setelah muqaddimah, Ibnu Thufail mengawali pembahasan pertama tentang jenis-jenis penyakit di bagian kepala, seperti sakit kepala, mencegah rambut beruban sebelum waktunya, kurap di kepala, kotoran telinga, termasuk juga penyakit malaria dan jenis penyakit lainnya termasuk metode pengobatannya. Di akhir kajian, Ibnu Thufail menutup dengan pembahasan jenis-jenis penyakit badan akibat faktor ekternal dan cara pengobatannya dan tentang racun yang terbagi dalam empat puluh bab. Dan tentu masih banyak karya ulama terdahulu di bidang eksakta dan humaniora, seperti karya Ibnu Sina, Abu Qasim al Zahrawi, al Razi dan lainnya.

Dari sini, dunia pesantren dewasa ini sebenarnya sudah melakukan peng-integrasi-an ilmu-ilmu pengetahuan eksakta, humaniora dan agama dengan hadirnya sekolah-sekolah formal di lingkungan pesantren. Baik MTs, MA dalam kementrian agama, atau SMP, SMA dan SMK dari kemendikbud. Namun, yang saya tekankan disini adalah kajian-kajian eksakta dan humaniora yang bersumber langsung dari kitab kuning atau (kutub al Turats). Setidaknya kita bisa memberi bekal informasi kepada para santri bahwa ulama-ulama kita dahulu tidak sekedar menguasai ilmu-ilmu agama, namun mereka pakar bahkan menjadi peletak utama dasar-dasar ilmu-ilmu modern. Sehingga akan lahir generasi santri yang memiliki wawasan keilmuan multi disiplin. Wallahu A’lam bi Shawab.

•Penulis adalah salah satu wakil ketua di Lembaga Dakwah PBNU dan kepala Madrasah Aliyah di Lingkungan Pondok Pesantren Luhur al Tsaqafah Jakarta.

The post Menguasai Ilmu Eksakta, Sains dan Humaniora Melalui Kitab Kuning appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/menguasai-ilmu-eksakta-sains-dan-humaniora-melalui-kitab-kuning/feed/ 0
Pesantren KHAS Kempek: Upaya Membendung Arus Radikalisme Indonesia https://khaskempek.com/pesantren-khas-kempek-upaya-membendung-arus-radikalisme-indonesia/ https://khaskempek.com/pesantren-khas-kempek-upaya-membendung-arus-radikalisme-indonesia/#respond Thu, 05 Dec 2019 23:00:44 +0000 https://khaskempek.com/?p=4435 KHASKEMPEK.COM – Belakangan ini media Indonesia sedang ramai memberitakan gerakan radikal yang dilakukan oleh sebagian orang, berita ini terus memenuhi kanal-kanal berita seperti pasca penikaman terhadap mantan Menkopolhukam Wiranto, dan bom bunuh diri di Medan belum lama ini. Paham radikal ini sebetulnya sudah ada sejak lama, hingga saat ini paham tersebut masih menjadi pekerjaan pemerintahan […]

The post Pesantren KHAS Kempek: Upaya Membendung Arus Radikalisme Indonesia appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Belakangan ini media Indonesia sedang ramai memberitakan gerakan radikal yang dilakukan oleh sebagian orang, berita ini terus memenuhi kanal-kanal berita seperti pasca penikaman terhadap mantan Menkopolhukam Wiranto, dan bom bunuh diri di Medan belum lama ini. Paham radikal ini sebetulnya sudah ada sejak lama, hingga saat ini paham tersebut masih menjadi pekerjaan pemerintahan untuk menyelesaikannya.

Bukan berhenti disitu saja, perlunya peran penting dari orang tua dan kondisi sosial kultural lingkungan dapat ikut serta membendung paham paham radikal. Paham radikalisme agama, ini sudah ada sejak masa kekhalifahan, yakni peperangan antara kelompok sahabat Ali Bin Abi Thalib dan Muawiyah dalam merebutkan kekuasaan, perang ini berakhir dengan kesepakatan untuk berabitrase bersama. Nampaknya dalam keputusan ini ada sebagian kelompok dari sahabat Ali yang tidak setuju, hingga akhirnya memisahkan diri, lalu membuat kelompok sendiri, kelompok ini lalu dikenal dengan sebutan Khawarij.

Kelompok khawarij ini pada gilirannya nanti akan menyerang kempimpinan sah dua kelompok diatas, mereka beralasan bahwa kepemimpinan sahabat Ali dan Muawiyah bukan menggunakan hukum Allah, malah menggunakan hukum manusia, katakanlah musyawarah pada waktu itu, maka baginya kelompok tersebut dianggap kafir bahkan wajib untuk diperangi, atas alasan inilah para akademisi menganggap permulaan munculnya paham paham radikal.

Beberapa pihak menyatakan bahwa fenomena radikalisme agama dewasa ini merupakan kelanjutan dari episode khawarij, karena menggunakan doktrin takfiri dan melawan pemerintahan yang sah. Ada berbagai versi mengenai pengertian dari radikal, diantaranya adalah paham atau sebuah aliran yang menginginkan perubahan dan pembaharuan sosial dengan cara kekerasan, bisa juga, radikalisme itu pola berfikir dan bertindak dengan kekerasan sebagai kendaraannya, pada kelanjutannya paham radikalisme ini berkembang menjadi terorisme.

Lalu bagaimana perkembangan radikalisme di negeri kita? Setidaknya dapat kita analisa semenjak era reformasi, era reformasi ini ditandai dengan arus globalisasi yang pesat dan kebebasan dalam berpendapat, agaknya kedua hal ini dapat memberi keluasan bagi kelompok radikal untuk mengembangkan paham paham radikalisme dinegri ini. Biasanya relawan paham radikal ini mengajak seseorang yang berpendidikan rendah, terutama dalam dasar-dasar ilmu agama, yang mengalami kesenjangan sosial, ekonomi dan sebagainya.

Dalam aksinya yang menggunakan cara kekerasan, sering kali kelompok ini mengatasnamakan agama atau tuhan sebagai legitimasi atas tindakannya tersebut, berdasarkan pemahaman teks teks agama yang disalah pahami, terlebih pada ayat-ayat peperangan dan jihad.

Wahid Institut dalam penelitiannya menyebutkan, beberapa karakteristik dari kelompok radikal, yakni menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya, mengatasnamakan tuhan untuk menghukum kelompok yang berbeda keyakinan, mengkafirkan sesama muslim, sikapnya yang super eksklusif seakan tidak menerima keberadaan yang lain, intoleran dan seterusnya.

Pergerakan arus radikalisme kiranya oleh sebagian pengamat dapat dicegah dan dibendung dengan dasar pendidikan agama yang kuat, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami teks-teks agama terutama ayat-ayat jihad dan peperangan, maka karenanya, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan agama dinilai tepat untuk membendung dan mencegah berkembangnya paham-paham radikal sehingga melahirkan kelompok ekstrim.

Upaya membendung paham radikalisme

Sudah mafhum bagi kita semua bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, peranannya begitu signifikan kepada Indonesia, ini terbukti sudah sejak lama pesantren mampu merawat keberagaman dan menjaga persatuan bangsa. pesantren sudah banyak melahirkan tokoh yang luar biasa manfaatnya bagi warga dan negara, Gus Dur, Gus Mus dan masih banyak yang lainnya.

Di negara kita ada banyak sekali pondok pesantren, salah satunya adalah pondok pesantren Khas Kempek Cirebon. Pesantren yang dikenal kiainya dengan sebutan Pandawa Lima ini, sekarang diasuh oleh Kiai Musthofa Aqil Siroj. Seperti pada umumnya, pesantren Khas memilki cirinya tersendiri, yaitu baca Alquran ala Kempekan yang terbilang sulit, bacaannya yang fasih sesuai dengan makhorijul huruf dan tajwidnya. Sebelum mengaji Alquran saja, ngaji Alfatihah terlebih dahulu sampai berbulan-bulan baru bisa lulus, setelah itu hafalan Juz 30 (Juz ‘Amma), baru kemudian ngaji Alquran, ngaji Alquran pun tidak sebentar, paling minimal 4 tahun baru khataman.

Sebanding dengan sikap seseorang yang radikal, pesantren Khas ini sudah dari dulu hadir dalam upaya membendung arus paham radikalisme, memberikan sistem imunitas kepada para santri dan lingkungan sekitarnya. Formulasi pendidikannya jelas mampu mencegah paham radikal, seperti mengedepankan akhlakul karimah, diajarkannya dasar-dasar agama Islam dengan baik dan bertahap, agar tidak salah kaprah dalam memahami teks-teks agama terutama mengenai ayat-ayat peperangan dan jihad.

Santri-santri Khas Kempek dalam soal nasionalisme dan paham kebangsaan tidak usah diaragukan lagi. Starting point-nya adalah sikap maiyyah para santri dengan kiai-kiainya, hubungan dzohiron wa bathinan inilah yang nantinya akan menjaga dan menuntun pergerakannya saat berkiprah dimasyarakat. Kiai dan ustadz pesantren Khas Kempek memiliki pemahaman dan implementasi ajaran dan nilai-nilai agama yang benar, baik untuk diikuti, sikapnya yang lemah lembut dan tulus bagi sesama. Di samping itu, realita lingkungan pesantren Khas Kempek mampu menampung keragaman identitas, saling menghargai dan sikap toleransi hadir ditengah-tengah mereka. Kenyataan ini, pada gilirannya dapat mencetak pribadi yang memiliki imun dari paham radikalisme. Lingkungan pesantren Khas Kempek dan pendidikannya merupakan tindakan preventif sedini mungkin dari paham paham radikal.

Selain itu, pondok pesantren Khas Kempek melalui situs resmi www.khaskempek.com dan akun-akun sosial medianya, senantiasa mengkampanyekan Islam yang ramah, damai dan santun. Santri-santri Khas Kempek menyadari betul bahwa tindakan radikal itu bukanlah ajaran Islam. Islam adalah agama yang membawa rahmat bukan yang membawa laknat dan mengumbar kekerasan. Begitu juga, para alumni pesantren Khas turut berkontribusi dalam membendung perkembangan arus radikalisme di Indonesia. Setidaknya pemahaman agama yang didapatkan di pondok dulu, dan berbekal pengalamannya dapat disebarluaskan kembali ke masyarakat, serta mengkonfirmasikan bahwa tindakan radikal itu bukanlah bagian dari ajaran agama.

Di sini, peran alumni sangat penting harapannya mampu mengarahkan, menjaga serta mendampingi masyarakat dari paham-paham radikal, agar menciptakan lingkungan yang berperadaban dan harmonis. Jebolan-jebolan pesantren sudah saatnya menjadi penggerak masyarakat. Jangan takut dan bimbang, karena ilmu dan pengalaman yang didapatkan dulu, bisa menjadi modal untuk hal tersebut.

Sudah saatnya peran santri berada ditengah masyarakat, santri jangan lagi menjadi silent majority. Sekarang waktunya untuk bergerak menuju ke noisy majority, seperti yang Buya Said Aqil ucapakan, “Nanti kelak dimasyarakat, jangan jadi penonton saja. Jadilah aktor, jadilah pemain ditengah masyarakat”. Peran alumni pesantren ditunggu oleh masyarakat, ibarat paku dalam sebuah bangunan, perannya begitu sentral untuk menyatukan lapisan masyarakat.

Oleh karenanya, mesti kita sadari bersama bahwa semua agama mengajarkan cinta damai, agama yang rahmatan lilalamin. Jangan biarkan paham radikal ini menyebar luas kemasyarakat, sehingga citra Islam menjadi buruk. Mari bergandengan tangan melawan arus radikalisme. Mari bersatu padu menjaga bangsa dari virus yang mengancam dan merusak peradaban dan keadaban bangsa.

Penulis: Alumni KHAS Kempek Akhtual 2017

The post Pesantren KHAS Kempek: Upaya Membendung Arus Radikalisme Indonesia appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/pesantren-khas-kempek-upaya-membendung-arus-radikalisme-indonesia/feed/ 0
Pesantren, Tempat Belajar Mengenal Diri https://khaskempek.com/pesantren-tempat-belajar-mengenal-diri/ https://khaskempek.com/pesantren-tempat-belajar-mengenal-diri/#respond Fri, 29 Nov 2019 02:11:19 +0000 https://khaskempek.com/?p=4353 KHASKEMPEK.COM – Bukan hanya belajar ilmu agama dengan segala ragamnya, pesantren mendidik santri untuk mengenal diri. Karena mengenal diri jauh lebih sulit daripada mengenal orang lain. Mengenal diri membuat seseorang mengenal orang lain dan mengenal Tuhan-Nya. Sebaliknya, mendahulukan mengenal orang lain seringkali menjerumuskan kepada kebencian, dan sulit untuk memahami diri. Mengenal diri juga menjadi kunci […]

The post Pesantren, Tempat Belajar Mengenal Diri appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Bukan hanya belajar ilmu agama dengan segala ragamnya, pesantren mendidik santri untuk mengenal diri. Karena mengenal diri jauh lebih sulit daripada mengenal orang lain. Mengenal diri membuat seseorang mengenal orang lain dan mengenal Tuhan-Nya. Sebaliknya, mendahulukan mengenal orang lain seringkali menjerumuskan kepada kebencian, dan sulit untuk memahami diri.

Mengenal diri juga menjadi kunci mengenal ilmu. Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah: 171 mengistilahkan mengenal diri dengan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, sebagai syarat seorang hamba memahami ilmu. Mengenal diri membuat pribadi mengedepankan akhlak, dibandingkan sekadar ilmu. Sangat wajar jika memiliki ilmu tidak menjamin seseorang juga memiliki akhlak.

Pentingnya mengenal diri daripada mengenal selainnya membuat pribadi sadar siapa dirinya, yang tidak lain sebagai hamba Allah. Alquran QS. Albaqarah: 50 menggambarkan pribadi yang enggan mau mengenal diri salah satunya sosok Fir’aun, yang dengan kesombongan enggan mengakui Sang Penciptanya. Alih-alih merasa paling benar, ia ditenggamkan ke dalam jurang kebianasaan. Keengganan untuk mengenal diri membuat Fir’aun enggan menjadi pribadi yang manusiawi.

Belajar mengenal diri dibentuk sedari dini melalui pendidikan pesantren. Sedari menjadi Santri yang paling baru di antara yang lainnya, menjadi anak baru dari pengasuh pesantren, melatih sadar diri dan mengenal siapa dirinya. Pribadinya terbentuk secara alamiah. Yang muncul kemudian adalah rasa rendah hati. Mengenal diri membuatnya siap menerima ilmu dari siapapun, dan dalam bentuk apapun.

Pelajaran mengenal diri dibentuk dengan kesadaran akan pentingnya saling mengenal satu sama lain dalam keluarga baru, baik di asrama atau bahkan di kamarnya. Belajar kesalingan, baik saling memahami, saling memberi, saling berbagi, saling menghormati, menyayangi keluarga barunya di pesantren, membentuk kesadaran diri yang terus diasah dan menjadi kepribadian. Pesantren, Tempat Belajar Mengenal Diri.

Depok, 29 Nopember 2019.

The post Pesantren, Tempat Belajar Mengenal Diri appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/pesantren-tempat-belajar-mengenal-diri/feed/ 0
Jangan Batasi Mimpimu! https://khaskempek.com/jangan-batasi-mimpimu/ https://khaskempek.com/jangan-batasi-mimpimu/#respond Sat, 02 Nov 2019 11:37:40 +0000 https://khaskempek.com/?p=4065 KHASKEMPEK.COM – Sudah sejak lama, nama Jack Ma terdengar begitu familiar di telingaku. Saat duduk di bangku universitas, aku mulai tertarik membaca dan mempelajari kisah hidupnya, bocah kecil yang hidup di pelosok desa dengan keterbatasan ekonomi, ditolak lamaran kerjanya, hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia melalui bisnis raksasanya, Ali Baba. Tidak bisa dinafikan […]

The post Jangan Batasi Mimpimu! appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Sudah sejak lama, nama Jack Ma terdengar begitu familiar di telingaku. Saat duduk di bangku universitas, aku mulai tertarik membaca dan mempelajari kisah hidupnya, bocah kecil yang hidup di pelosok desa dengan keterbatasan ekonomi, ditolak lamaran kerjanya, hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia melalui bisnis raksasanya, Ali Baba.

Tidak bisa dinafikan jika bertemu dengannya suatu hari nanti adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Meskipun aku sadar kalau itu adalah sesuatu yang kemungkinan terjadinya sangat kecil. Harapan ini semakin mengecil saat aku menyadari bahwa jarak ribuan kilometer tak dapat ditempuh menggunakan motor Mio-ku. Maka menonton ceramahnya di Youtube dan membaca berita dari beberapa media menjadi opsi terbaik untukku.

Rencana Allah memang sangat indah. Disaat keinginanku untuk bercengkrama dengannya sudah sepenuhnya sirna, Dia memberikan aku Rizki untuk dapat menimba Ilmu di negara dimana Jack Ma berada. Lebih dari itu, aku tidak perlu menjelajah negeri tirai bambu yang sangat luas untuk bertemu dengannya, Allah mempertemukanku dengan Jack Ma di sekolah dimana aku belajar, karena ia menjadi salah satu advisor di jurusanku. Jangankan bermimpi, sedikit terbesit dalam pikiranpun tak ada.

Suatu hari, banner tentang akan adanya pertemuan para advisor dengan para pimpinan lembaga riset dunia serta presiden dari beberapa negara, terpampang jelas di depan sekolah. Beruntung, aku ditunjuk pihak sekolah dan menjadi satu-satunya perwakilan mahasiswa Asia di forum itu.

Hari itu menjadi sangat spesial bagiku, dimana aku duduk berdekatan dengan Jack Ma, para pimpinan lembaga riset dunia, beberapa Presiden serta Beberapa Professor yang aku kagumi seperti Prof. Danny Quah, Dean of LKY SPP, National University of Singapore.

Memang benar kata guru waktu di Madrasah dulu, jangan batasi mimpimu. Tugasmu hanya berusaha dengan sungguh-sungguh, selebihnya pasrahkan sama Allah SWT.

Alhamdulillah…

MTM KHAS Kempek

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Tsinghua University

(KHASMedia)

The post Jangan Batasi Mimpimu! appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/jangan-batasi-mimpimu/feed/ 0
IYLP 2004, Lima Belas Tahun Kemudian (1) https://khaskempek.com/iylp-2004-lima-belas-tahun-kemudian-bagian-satu/ https://khaskempek.com/iylp-2004-lima-belas-tahun-kemudian-bagian-satu/#respond Wed, 18 Sep 2019 02:04:44 +0000 https://khaskempek.com/?p=3429 KHASKEMPEK.COM – Indonesian Youth Leadership Program (IYLP) adalah program “short course” dari U.S. Embassy. MA KHAS Kempek memperoleh peluang untuk mendelegasikan dua siswa cum santri dan seorang guru pada tahun 2004 untuk mengikuti program ini di negara bagian Virginia dan Washington DC, USA. Dari seleksi yang dilakukan di Hotel Alia, Cikini, Jakarta, santri yang terpilih […]

The post IYLP 2004, Lima Belas Tahun Kemudian (1) appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
KHASKEMPEK.COM – Indonesian Youth Leadership Program (IYLP) adalah program “short course” dari U.S. Embassy. MA KHAS Kempek memperoleh peluang untuk mendelegasikan dua siswa cum santri dan seorang guru pada tahun 2004 untuk mengikuti program ini di negara bagian Virginia dan Washington DC, USA.

Dari seleksi yang dilakukan di Hotel Alia, Cikini, Jakarta, santri yang terpilih dari MA KHAS adalah Penulis sendiri dan Syukron, ditemani Pak Nur Kholik sebagai guru pembimbing.

Dari sisi IYLP, tahun 2004 adalah angkatan pertama program ini. Tahun-tahun berikutnya IYLP diisi dengan formasi sekolah yang lebih beragam, bukan (hanya) pesantren yang terintegrasi dengan lembaga sekolah seperti angkatan pertama.

Program berjalan selama kurang lebih 1 bulan, mulai Juni hingga Juli 2004. Penulis beruntung sempat menyaksikan perayaan hari kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli, bertepatan dengan agenda kunjungan ke kota Williamsburg dan Jamestown. Bersama Yorktown, ketiganya merupakan “historic triangle” karena punya peran penting dalam sejarah revolusi Amerika. Williamsburg menjadi museum hidup era kolonial abad 17-18.

Setelah lima belas tahun berlalu, ingatan Penulis tentang detail kognisi yang diperoleh selama program sudah agak kabur, ditambah ketiadaan catatan selama mengikuti program. Namun masih banyak peristiwa yang masih diingat dan bisa dibagikan.

Demokrasi dan Islam

Tema besar short course ini adalah “Demokrasi dan Islam”. Ada pengalaman lucu yang Penulis alami terkait kuliah tentang demokrasi. Dalam sebuah kuliah yang diampu oleh Prof. Dan Stiffler, salah seorang profesor di Randolph-Macon Woman’s College, Lynchburg, Virginia, Penulis bertanya, “apakah demokrasi itu sejatinya adalah sebuah sistem ataukah prinsip?”.

Memori seorang siswa kelas 1 Aliyah tidak mampu menampung jawaban panjang yang disampaikan Prof. Dan, tetapi berkat bertanya demikian Penulis diganjar “Most Phillosophical Award” di penghujung program. Suatu award suka-suka untuk hiburan semata.

Dalam beberapa sesi, peserta IYLP dibimbing oleh Syeikh Ahmed Abdul Rashid, seorang sufi, mursyid tarekat, dan penulis buku “Islam and Democracy: A Foundation for Ending Extremism and Preventing Conflict“, dan “Applied Sufism: Classical Teachings for the Contemporary Seeker“.

Berkaitan dengan tema di atas, peserta IYLP juga berkesempatan berkunjung ke Capitol Hill untuk melihat rapat Kongres dari dekat, audiensi dengan Senator asal Negara Bagian Virginia, dan berkunjung ke kantor The Council on American–Islamic Relations (CAIR) di Washington.

Rangkaian safari dan kuliah itu sesungguhnya tengah berusaha menegaskan bahwa demokrasi (ide Barat) berjalan seiring (selaras/tidak bertentangan) dengan ajaran Islam. Sesuatu yang sesungguhnya bukan barang aneh dalam konteks keindonesiaan. Kecuali memang kala itu situasi sosial dan politik Amerika masih dirundung trauma pasca peristiwa 9/11.
(KHASMedia)


Penulis adalah alumni KHAS Kempek angkatan lulus 2006 dan alumni IYLP 2004

The post IYLP 2004, Lima Belas Tahun Kemudian (1) appeared first on KHASKEMPEK.COM.

]]>
https://khaskempek.com/iylp-2004-lima-belas-tahun-kemudian-bagian-satu/feed/ 0