Sisi Lain Buya Ja’far

0
304

KHASKEMPEK.COM – Pada umumnya santri pondok pesantren Kempek Cirebon mengenal Buya Ja’far, panggilan akrab KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj, sebagai sosok Kiai yang tegas, disiplin, komitmen tinggi, dan tidak kompromi dengan santri yang malas, tidak mau belajar, dan enggan berpakaian rapih. Setiap santri yang mengaji kepada beliau, khususnya ngaji kitab Alfiyah Ibn Malik, dipastikan faham betul betapa tegasnya – untuk tidak mengatakan keras – sikap Buya Ja’far dalam mendidik setiap santrinya.

Kiai Musthofa Aqil, sebagai adik kandungnya, pernah berkata, “Buya Ja’far itu Kiai yang terkenal disiplinnya, tegasnya, dan juga galaknya”. Pernyataan Kang Muh, panggilan Kiai Musthofa Aqil, yang disampaikan dengan candaan itu memang mengundang perhatian banyak orang, bukan hanya santri , tapi juga wali santri dan masyarakat Cirebon pada umumnya.

Namun di balik sikap yang ditegaskan Kang Muh itu, ada sisi lain dari Buya Ja’far yang jarang diketahui para santrinya, khususnya mereka yang belum pernah mengaji Alfiyah kepada beliau. Sifat itu adalah sifat kasih sayang, kelembutan dan welas-asihnya kepada banyak orang.

Suatu hari ketika penulis masih mengaji kitab Alfiyah kepada Abuya Ja’far, ada dua teman penulis yang dihukum beliau karena beberapa kali tidak bisa membaca dan menjelaskan satu bab dalam kitab Alfiyah. Abuya meminta mereka untuk membersihkan seluruh halaman pesantren. Tidak berhenti di situ, Abuya menggertaknya dengan tegas, “Bersihkan seluruh sampah yang ada di pesantren!, tidak boleh ada yang tersisa!, jika tidak bersih, akan saya antar kalian pulang ke rumah masing-masing!.”

Seketika teman-teman penulis membersihkan, Abuya masuk ke rumah. Abuya kemudian diam sejenak sambil menangis, meneteskan air mata. Dalam keadaan menangis, meneteskan air mata, Abuya berucap kepada Ibu Nyai, “Umi, ya Allah, kenapa santri-santri saya ini.. mengapa mereka belum bisa juga mengaji dengan baik..”. Saat itu pula penulis tak merasakan apapun kecuali kasih sayang beliau kepada santri-santrinya. Abuya enggan mau ketika kelak santrinya pulang menjadi orang yang bodoh, tidak mau mengabdi kepada masyarakat dengan bekal ilmu di pesantren.

Dalam waktu yang lain, penulis bersama teman satu kelas Alfiyah Ibn Malik, yang mengaji kepada Abuya Ja’far, ditargetkan oleh beliau untuk tidak perlu mengadakan khataman/wisuda. Abuya sampai-sampai menegaskan kepada Lurah Pondok supaya angkatan kami tak perlu diwisuda. Padahal, kataman Alfiyah adalah perayaan Pasca selesai ngaji kitab Alfiyah di Pondok pesantren Kempek yang sangat ditunggu semua santri. Alasannya karena kelas kami masih belum cukup ilmu, jauh dari panggang api memahami kitab Alfiyah dengan baik, sehingga bagi beliau tak pantas diwisuda. Bahkan beberapa kali satu kelas dimarahi karena kenakalan dan kebodohan kami.

Akan tetapi entah kenapa dua minggu sebelum tiba acara Haul Pesantren, yang sedianya tidak akan ada acara khataman Alfiyah, Abuya berubah fikiran. Abuya membolehkan kami diwisuda berbarengan Haul. Namun Abuya tidak mengizinkan kami memakai jas, sebagaimana wisudawan-wisudawan sebelum kami. Lagi-lagi alasannya karena kami masih nakal, bebal, dan tak layak memakai almamater jas saat khataman kitab Alfiyah.

Seminggu sebelum khataman tiba, kami diminta berkumpul di ndalem beliau. Tetiba Abuya mengizinkan kami untuk berwisuda dan diizinkan pula memakai jaz almamater khataman. Dengan nada lembut Abuya berkata kepada kami, “Ya.. silahkan.. Besok khataman Alfiyah.. pakai jasnya dengan rapih.. yang bagus.. yang gagah…”. Tidak ada yang kami rasakan saat itu kecuali kebahagiaan. Abuya yang sudah sejak lama mengingatkan kami agar tak perlu diadakan wisuda, dan tak perlu memakai jas kebesaran, seketika beliau dengan nada tulus, penuh kasih sayang, dan welas kepada kami, mempersiapkan semuanya bahkan meminta kami untuk serapih mungkin di depan tamu saat acara khataman nanti.

Rasanya sulit menggambarkan seluruh sisi lain Abuya Ja’far. Kasih sayangnya, ketulusannya, dan welas-asihnya tak cukup digambarkan dalam sederet kata dalam tulisan. Cerita di atas hanya sekelumit pengalaman saja. Ada banyak kejadian selama penulis mengikuti prosesi pengkajian kitab Alfiyah yang kadang tak mampu kami tebak. Selain tegas, disiplin, dan ‘galak’, Abuya Ja’far memiliki sifat kasih sayang, ketulusan dan welas-asih kepada seluruh santrinya. Sosoknyaa bukan saja sebagai guru dan Kiai, tetapi juga sebagai Ayah bagi semua santri yang siap dilindungi dohir-batinnya.

Menuju Haul Buya Ja’far Shodiq Aqil Siroj, pengasuh Pondok pesantren Khas Kempek Cirebon. Allahumma Ighfir Lahu warhamhu. (KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here