SUNGKEM

0
266
Lukisan KH. Maimoen Zubair / Mbah Moen (Foto: Koleksi Nayil Abdurrahman)

Empat tahun silam, seseorang pernah di-impeni bertemu KH. Maimoen Zubair, ulama kenamaan asal Jawa Tengah. Sebut saja namanya Mahmud.

Mahmud ini orangnya sedikit gagu jika bicara face to face dengan orang lain. Satu waktu, ia akan menjadi pendiam seperti batu. Pada saat lain, ia akan berubah menjadi lancar nggedabrus dan jenaka sambil tetap pasang muka serius. Itu pun ketika orang yang di hadapannya sudah kenal akrab.

Belakangan, kabarnya Mahmud ini sering meracau sendiri, tak jelas arahnya. Seperti orang kesurupan. Bagi beberapa orang yang mengenalnya, pemuda asal Cirebon itu terbilang unik dan mblawur. Ia sering memakai sandal yang ditulisi namanya sendiri sampai ke alas-alasnya, agar tak dicuri lain orang. Ia juga tak segan ngobrol dengan orang gila di perempatan gang rumahnya. Yang mengherankan, usai mereka ngobrol ceplas-ceplos, orang gila itu bilang ke orang-orang lain bahwa Mahmud orang baik. Pun demikian, Mahmud bilang ke orang sekitar bahwa dia (orang gila) itu tidak gila. Ditambah, mereka saling merindu satu sama lain. Barangkali itulah yang dinamakan mahabbah. Cinta tak pandang bulu.

~~~

Mahmud sampai saat ini belum pernah—padahal ingin sekali—sowan atau sekadar bersalaman dengan ulama sepuh kharismatik yang masyhur dikenal Mbah Yai Maimoen Zubair atau Mbah Moen.

Mbah Moen memang sering berkunjung ke Cirebon, terutama di Pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun dan Pesantren Kempek. Tak lain sebab di sana masih termasuk keluarga besar beliau dari jalur menantu KH. Ibnu Ubaidillah Syathori, yakni KH. Taj Yasin Maimoen Arjawinangun (sekarang Wakil Gubernur Jawa Tengah) dan ibu Ny. Hj. Shobichah Maimoen Kempek, istri KH. Muh. Musthofa Aqiel Siradj.

Entah kenapa, tiap kali beliau berkunjung ke Cirebon, Mahmud tak sempat bisa sekadar bersalaman. Adakalanya ia kebetulan sedang tidak di Cirebon sebab mengantar orang penting. Atau lagi repot-repotnya menjadi panitia dalam acara yang padahal dihadiri beliau dan tugas selalu tidak bisa ditinggal barang semenit-dua saja. Tinggal selangkah lagi. Cuma kepengin sungkem, lalu kerja lagi.

Terlebih, meski bukan orang penting, ia tidak jarang diparing gampang soal nyelonong lalu sungkem ke kiai-kiai. Tapi kok tetap saja, usahanya selalu gagal saat ingin sungkem ke Mbah Moen. Dan percaya atau tidak, sampai dalam mimpi pun begitu.

MIMPI BERTEMU MBAH MOEN

Kisaran tahun 2015, Mahmud pernah di-impeni bertemu beliau. Tepatnya, mimpi itu dialami sebelum ia merasa kangelan sungkem ke Mbah Moen sampai sekarang. Tapi seolah hal itu terjadi begitu saja setelahnya. Pikirnya, gara-gara mimpinya yang belum tentu benar itu, lalu ia seolah menjadi sangat sulit mendekati Mbah Moen. Sebab boleh jadi memang belum saatnya atau jangan-jangan ia memang ditakdirkan tak bisa sungkeman dengan beliau.

Saat itu, dia sedang mbuh bagaimana ceritanya, bisa sering di-impeni para sesepuh NU. Selain Mbah Moen, ia juga mimpi di-temoni Maulana Habib Luthfi Pekalongan. Eh, lebih tepatnya disewoti entok gemet ding sama Habib Luthfi. Pantas sampai terbawa mimpi, lha wong itu karena dasar dianya saja yang memang mblawur. Mossookkk ning acara haulan njerat-njerit politik … Kan nggilani …

Tapi wong namanya mimpi, tetap saja mimpi. Alurnya selalu tak terduga. Tiba-tiba ini, tetiba itu. Ya memang gitu. Absurd. Sebab mimpi memainkan peran alam bawah sadar. Ada yang mungkin terjadi, ada yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Boleh jadi, yang dialami Mahmud ini adalah sejenis mimpi yangii terjadi. Tapi bisa jadi tidak.

Ia bercerita kurang lebih begini;

“Suatu siang, nampak sekali dalam mimpi itu, banyak santri berbaris seolah sedang menyambut kedatangan tamu besar nan terhormat. Sedang saya, ada di sela barisan rapih para santri. Kupikir itu tempat aman untuk melihat siapa tamu yang datang dan kemungkinan bisa sungkeman adalah 99%. Sudah saja, saya berdiri yakin di sana.

Berdiri dua santri di samping kiri saya berbadan tinggi nan tegap. Tampaknya mereka bukan santri, tapi tamu dari luar atau wali santri yang datang untuk sekadar ngalap berkah sebab mereka tak sarungan melainkan celanaan.

Setibanya tamu terhormat itu, ternyata yang ditunggu para santri adalah Mbah Moen. Saya takjub, tapi bukan karena yang rawuh beliau, sebab memang sudah seharusnya beliau dihormati selaku kiai alim nan sepuh. Tetapi, barangkali ini bukan hal biasa. Bayangkan … kiai sekaliber Mbah Moen yang usianya kian senja, beliau justru yang muter salaman dengan para santri. Santri hanya baris berdiri, lalu beliau muter untuk salaman. Benar-benar kiai besar yang tawaduk. Subhanallah!

Di sana, para santri tampak mencium tangan beliau. Pada saat yang bersamaan, giliranku segera. Saya sudah siap-siap sungkem dengan beliau. Lagi-lagi, rasa takjubku tersentak. Tak kusangka, ketika giliran dua orang di samping kiri saya bersalaman, justru Mbah Moen yang mencium tangan mereka. “Allahu Akbar! Siapa mereka?”, lirihku. Sayangnya, pertanyaanku belum sempat terjawab dan juga belum tiba giliran sungkeman, tetiba saya terbangun dari tidur pulas. Duh …

Tapi Mahmud masih penasaran. Sebenarnya dua orang di samping kiri dalam mimpinya itu siapa? Ia tak berani berspekulasi soal itu. Khawatir ia dianggap mengada-ada, omong kosong atau menyebar berita hoaks. Itulah kelebihannya. Kehati-hatian.

Beberapa hari kemudian, untuk mengobati rasa penasaran, ia tanyakan terkait mimpinya itu kepada orang-orang terdekat dan tidak sembarang orang. Bahkan, hal itu ia tanyakan ke salah satu keluarga Mbah Moen sendiri. Dan usahanya membuahkan hasil, di antaranya; ada yang mengatakan, dua orang itu salah satunya adalah Syeikh Muhammad Alawy al-Maliki, ada juga yang bilang yang satu malaikat, satunya lagi Nabi Khidir AS. Yang jelas mereka sama-sama memberi jawaban kepada Mahmud bahwa “mimpimu pertanda baik”.

Jika betul pertanda baik, ia sangat bersyukur. Tetapi masalahnya, ia tak sempat sungkem ke beliau-beliau. Akhirnya, ia berspekulasi bahwa gara-gara mimpi itu, ia seolah menjadi sulit sungkeman dengan Mbah Moen. Kan kamprett …! Gak logis prettt!

Satu hal yang membuat dia masih terbilang waras. Terlepas itu mimpi atau bukan, melebih-lebihkan atau tidak, ia yakin bahwa Mbah Moen termasuk auliya min masyàriq al-ardhi. Dan jika didasarkan pada kaidah “laa ya’rif al-walii illaa walii”, yang berarti, “hanya seorang wali yang mengetahui wali (lainnya)”. Menurutnya, ia hanya “menganggap” (ارى), bukan “mengetahui” (اعرف). Artinya, ia tahu diri. (Syauqi Utara)

 

~~~