Potret Keseharian Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon

0
371
Mengaji Tafsir - Santri Putri KHAS Kempek
Santri Putri Pondok Pesantren KHAS Kempek sedang mengaji kitab Tafsir Jalalain (Foto: KHASMedia)

KHASKEMPEK.COM – Pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, meskipun dewasa ini telah muncul pesantren-pesantren yang dilabeli sebagai pesantren modern. Tradisionalisme di pesantren tersebut menjadi ciri khas dan karakter pesantren pada umumnya. Mengingat, meskipun mengetasnamakan dirinya modern, pesantren itu tetap mempertahankan materi, metode dan sistem pengajaran lama.

Sebagai misal, di salah satu pesantren yang terletak di Cirebon; pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek, sekalipun sudah ada sekolah-sekolah formal, dari mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA), pesantren tersebut tetap mengedepankan kajian kitab kuning. Atau misal lain, meskipun di pesantren asuhan Kiai Said Aqil Siroj tersebut menekankan santrinya menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, namun tradisi menghafal bait-bait kitab ulama klasik masih terjaga dengan rapih.

Pesantren KHAS Kempek memiliki segudang budaya yang khas dan relevan untuk masa saat ini dan masa yang akan datang.  Ada banyak bentuk aktivitas keseharian para santri KHAS Kempek yang menyimpan nilai peradaban yang berharga untuk masa depan bangsa.

Salah satu contohnya, di pesantren KHAS Kempek dihuni oleh banyak santri yang berasal dari daerah-daerah yang beragam dan berbeda-beda. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa, meskipun para santri berasal dari berbagai daerah atau kota yang satu sama lain berbeda, namun tempat tinggal (kamar) santri di pesantren tersebut dibagi secara acak tanpa mempertimbangkan kedaerahan. Santri-santri dari satu daerah tidak disatukan dalam satu kamar atau asrama. Yang ditekankan dalam pembagian kamar di pesantren ialah pembagian secara merata berdasarkan jumlah bilangan, bukan karena unsur-unsur etnis, budaya, atau bahasa.

Potret budaya di atas menyimpan makna dan pelajaran yang sangat penting, yaitu budaya toleransi. Para santri disatukan dalam satu tempat – bahkan satu kamar – meskipun berasal dari daerah-darrah yang berbeda dan tentunya tidak saling mengenal. Dalam proses saling mengenal itu, tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Diperlukan kesaling-pahaman antar kepribadian dan kebudayaan masing-masing. Antar satu dengan yang lainnya dibutuhkan sikap saling mengerti dan tidak mudah emosi dalam perbedaan. Dengan demikian, jiwa toleransi menjadi tertanam rapih di dada para santri. Mereka tidak kaget ketika dihadapkan dengan problem perbedaan.

Satu hal lain yang melekat dalam aktivitas santri yaitu kebersamaan. Kebersamaan menjadi ciri khas bagi warga pesantren. Satu hal yang paling khas bagi para santri pesantren KHAS Kempek adalah kebersamaan saat makan. Meskipun di pesantren KHAS Kempek makanan para santri sudah disiapkan satu  per-satu (piring) untuk setiap santri dan telah disiapkan oleh petugas pesantren, namun tradisi makan bersama tidak sedikitpun luntur. Dua sampai tiga kali sehari para santri makan secara bersama-sama di satu gedung terbuka yang terletak tidak jauh dari pesantren. Tidak hanya itu, baik santri senior atau pun junior semuanya menyatu demi menyantap makan setelah belajar, di setiap siang dan malamnya.

Kegiatan makan bareng para santri menyimpan nilai-nilai dasar toleransi yang sangat melekat. Dalam pada itu, para santri – baik sanior atau junior – mengantri untuk mendapat giliran mengambil nasi dalam satu piring. Para senior tidak mendahului junior, begitupun junior tidak merasa harus didahulukan dari para seniornya. Betapa nilai-nilai itu mengajarkan makna toleransi yang sangat mendalam. Dengan tetap membudayakan mengantri, para junior menghargai senior, dan para senior menyayangi junior.

Pembelajaran toleransi juga dapat tercermin dalam tradisi yang menjadi khas pesantren KHAS Kempek, yaitu mengkaji beragam pemikiran dalam kitab, baik kitab-kitab fikih, tafsir, ataupun kitab-kitab hadis yang satu dengan lainnya berbeda secara mencolok.

Dalam kitab-kitab fikih misalnya, di pesantren KHAS Kempek diajarkan empat mazhab fikih, yaitu Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi. Di bidang tafsir, pesantren KHAS Kempek memberikan stimulus banyak tafsir, seperti Al-Jalalain, Marah Labid, Ibnu Katsir, bahkan Tafsir Fi Zilal Al-Quran. Sedangkan riwayat-riwayat hadis juga dibentuk dalam kurikulum pendidikan dengan keragaman kitab-kitabnya. Para santri tidak melulu dijejali dengan satu kitab referensi, namun disuguhi beragam macam kitab sebagai pembelajaran riwayat-riwayat Nabi, seperti sahih Al-Bukhari, sahih Muslim, An-Nasa’i, dan At-Tirmizi.

Budaya toleransi juga tertanam dalam jiwa santri KHAS Kempek ketika melakukan diskusi, atau biasa dikenal dengan Bahtsul Masail. Bahtsul Masail yaitu kegiatan memusyawarahkan problem keagamaan atau sosial secara bersama-sama.

Para santri KHAS Kempek dituntut untuk menyampaikan pendapat masing-masing atas problem yang dihadapi secara seksama oleh para santri dari berbagai angkatan. Dalam menyampaikan pendapat, etika yang wajib diikuti adalah tidak bolehnya berargumen atas dasar emosi dan marah-marah. Setiap pendapat yang diajukan tidak boleh menjatuhkan pendapat teman yang lain dan harus berdasarkan data ilmiah sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab pesantren.

Aktivitas Bahtsul Masail, walaupun titik tekannya untuk mendalami keilmuan pesantren, namun sesungguhnya menyimpan nilai-nilai kesaling-toleransian antar satu santri dengan santri yang lainnya. Dalam itu, secara tidak langsung para santri dibentuk dan didesain untuk menjadi pribadi yang terbiasa menghargai orang lain yang berbeda. Para santri dibiasakan untuk berdalil dengan fakta-fakta ketika dihadapkan dengan problema kehidupan, dan yang paling penting, diajarkan untuk menjadi pribadi yang amarahnya tidak mudah tersulut jika menghadapi perbedaan.

Budaya-budaya pesantren memiliki nilai peradaban yang sangat langka. Pembelajaran toleransi dimulai dari sejak dini, sehingga tertanam dalam jiwa setiap santri tanpa adanya unsur doktrinal. Demikian itu perlu ditatamkan pada jiwa-jiwa anak negeri sedari dini untuk mewujudkan generasi bangsa yang sadar akan keberagaman, kesaling-pahaman dan menghargai satu dengan yang lain dalam bingkai perbedaan.

Kenyataan ini menemukan urgensi besar dimana bangsa Indonesia terdiri dari keberagaman, baik suku, ras, agama, atau bahasa. Kesemuanya itu dapat terjaga dengan baik dan menjadi aset bangsa yang mendunia jika santri-santri nusantara terus menjadi garda depan dalam menjaga nilai-nilai toleransi ala pesantren dan membaktikan dirinya untuk negeri.

*Penulis adalah alumni KHAS Kempek

Sumber: https://rmi-nu.or.id/2019/04/12/pesantren-khas-kempek/

(KHASMedia) 

Baca juga: Kelembutan Dibalik Ketegasan Buya Ja’far Aqil Siroj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here