Berguru Kepada Kiai Said Aqil Siradj

0
68
Kiai Said & Kiai Ishomudin - Kiai KHAS Kempek
KH. Said Aqil Siradj dan KH. Ahmad Ishomuddin saat berada di Chicony Square, Jinjiang District, Chengdu, Tiongkok. (Foto: FB Gus Ishom)

Oleh: Kiai Ahmad Ishomuddin

Saya adalah orang yang sangat beruntung bisa mengenal dari dekat Prof. KH. Said Aqil Siroj, MA. sudah sejak lama, jauh sebelum beliau menjabat Ketua Umum PBNU. Oleh keluarganya beliau biasa dipanggil dengan sebutan buya. Para sahabat dekatnya, terutama yang berasal dari Cirebon dan sekitarnya, menyebutnya dengan Kang Said. Sedangkan saya biasa memanggilnya dengan Kiai Said.

Kiai Said sejak belia pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, dan kemudian di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Selanjutnya selama lebih kurang 13 tahun melanjutkan studinya di Universitas Ummul Qura, di Makkah al-Mukarramah, hingga tamat program doktoral. Kiai Said dikenal sangat cerdas dan memiliki ingatan yang sangat kuat. Sangat layak jika sejak lama Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) tertarik untuk bersahabat dengannya. Kiai Said kemudian menjadi salah seorang kader utama Gus Dur. Gus Dur dan Kiai Said adalah dua orang tokoh muslim berpengaruh luas yang berkhidmat kepada umat melalui PBNU yang karena keterkenalannya tidak perlu diperkenalkan lagi.

Saya merasa beruntung relatif sering mendampingi Kiai Said yang senang berdiskusi tentang berbagai persoalan, terutama masalah agama. Bila sedang bersama saya, Kiai Said senang berdiskusi dalam spektrum yang luas tetapi terfokus, baik tentang organisasi, sejarah, politik, filsafat, akidah, tashawwuf dan pemikiran para tokohnya, dan hingga masalah-masalah fikih, baik klasik maupun kontemporer. Kiai Said dalam berbagai kesempatan pernah bertanya kepada saya, secara langsung atau terkadang melalui telpon, mengenai berbagai masalah fikih kontemporer.

Tentu saja jika Kiai Said bertanya kepada saya belum tentu karena beliau tidak tahu, tetapi barangkali sedang mengkonfirmasi saja, atau bahkan mungkin untuk menguji kembali ingatan saya. Menjawab pertanyaan Kiai Said yang seringkali datang tak terduga itu tentu saja tidak mudah dan perlu berhati-hati, karena jawabannya harus logis, sistematis, dan ilmiah. Biasanya Kiai Said juga meminta referensi jawaban diambil dari kitab apa atau minimal lengkap dengan kaidah fikihnya atau kaidah Ushul al-fiqhnya.

Setiap menjelang Musyawarah Nasional Alim Ulama NU dan Muktamar NU, Kiai Said biasanya selalu menanyakan kepada saya tentang apa saja materi-materi Bahtsul Masail yang akan dibahas oleh para kiai NU dalam hajatan besar NU tersebut. Saya bersyukur diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menyumbang berbagai ide pemikiran orisinil yang sedikit banyak ada manfaatnya bagi warga NU khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Saya melihat Kiai Said sebagai seorang ulama dalam artian yang sesungguhnya, ilmu agamanya sangat mendalam, terutama spesialisasinya di bidang ilmu muqaranat al-adyan (perbandingan agama-agama) dan saya lihat beliau juga mengamalkannya. Kiai Said juga adalah sosok ulama yang memiliki kecintaan kuat terhadap tanah air, mampu menjadi teladan khususnya bagi warga NU.
Ya, memang idealnya seorang ulama memang harus sangat mendalam ilmu agamanya, banyak amal baiknya dan luas pula wawasan kebangsaannya.

Dalam setiap perjalanan bersamanya, saya melihat Kiai Said tak berhenti mewiridkan berbagai zikir, mengulang-ulang hafalan al-Quran-nya, dan kadangkala membacakan syair-syair berbahasa Arab yang berisi puja-puji terhadap Rasulullah SAW. atau berisi kata-kata bijak. Semua itu dilakukannya dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan, dan dalam berbagai kesempatan. Karenanya saya pun tertular merasakan aura ketenangan saat bersamanya.

Padahal saya tahu persis, Kiai Said adalah seorang tokoh yang paling banyak disalah pahami, kontroversial, dan semua tahu bahwa panah-panah fitnah, kebencian, hoaks, hingga ancaman pembunuhan banyak ditujukan kepadanya. Saya juga tahu persis bahwa para pembencinya belum tentu lebih baik dari dirinya, dalam ilmu, amalnya, apalagi pengaruhnya.

Saya tidak pernah mendengar Kiai Said membalas semua keburukan itu dengan keburukan, tidak pula dengan cacian balasan. Saya bersaksi, bahwa Kiai Said adalah orang baik yang berani melakukan perbaikan, bukan saja untuk agama dan bangsanya sendiri, tetapi juga untuk bangsa lain di dunia ini. Kiai Said, kita semua tahu, ada banyak orang yang sangat mencintainya dan tentu saja ada mereka yang teramat membencinya, meskipun belum pernah berjumpa dengannya sama sekali.

Grand Hyatt Chengdu
Chicony Square, Jinjiang District, Chengdu,
Tiongkok.

Sumber: Facebook KH Ahmad Ishomuddin

KHASMedia