Pesantren Kempek dan Tradisi Syawalan Masyarakat Cirebon

0
65

Pesantren Kempek merupakan salah satu pesantren yang besar dan tua di wilayah tiga Cirebon. Pesantren ini memiliki santri dan alumni yang cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah.

Peran pesantren Kempek di tengah-tengah masyarakat juga sangat signifikan, tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu agama, pesantren Kempek juga sebagai penjaga tradisi-tradisi Islami yang berkembang di masyarakat sekitar.

Para kiai tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai pusat pergerakan spiritual. Melalui suri tauladan, para kiai menuntun untuk menempuh perjalanan spiritual seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Disinilah, ikatan emosional dan spiritual antara kiai pesantren Kempek dengan masyarakat terasa sangat kuat sekali. Seperti adanya tradisi silaturrahmi masyarakat ke rumah kiai pada bulan Syawal setelah lebaran Idul Fitri.

Tradisi Syawalan

Masyarakat Cirebon dan sekitarnya memiliki tradisi yang sudah mengakar dan selalu dirayakan setiap tahunnya yaitu Syawalan atau bada ketupat. Syawalan adalah hari kedepalan bulan Syawal yang dirayakan setelah selesai berpuasa sunnah selama enam hari.

Masyarakat mempercayai keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal yang pahalanya setara dengan puasa selama satu tahun. Nabi Muhammad SAW bersabdah:

من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال كان كصيام الدهر رواه مسلم

“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama enam hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.”

Syawalan tahun sekarang jatuh pada hari Rabu, 8 Syawal 1440 H bertepatan dengan 12 Juni 2019 M. Semenjak pagi sampai malam, masyarakat dengan jamaahnya masing-masing datang silih berganti untuk sowan dan silaturrahmi ke kiai dan nyai Kempek.

Mereka memohon nasihat dan do’a dari kiai Musthofa Aqil, kiai Nawawi Umar, Kiai Ni’amillah Aqil, nyai Jazilah Yusuf dan nyai Daimah Nashir serta kiai dan nyai Kempek yang lain.

Salah satu jamaah pimpinan Hajah Sami dari Lungbenda, Humaidah menuturkan dia berangkat bersama rombongan naik enam mobil angkot. “Dengan silaturrahmi ini, alhamdulillah kami bisa ngalap berkah kiai dan nyai Kempek.”

“Setelah dari Kempek, kami akan melanjutkan perjalanan silaturrahmi ke kiai dan nyai pesantren yang lain, seperti Babakan, Winong, Arjawinangun, Jagasatru, Gedongan, Buntet dan Benda Kerep,” kata alumni pesantren Kempek ini.

Acara silaturrahmi ini diakhiri dengan do’a dari kiai atau nyai, selain disuguhi air minum dan kue, para tamu juga ditawari makan. Biasanya menu utamanya adalah ketupat, lontong atau nasi dan sayur. Inilah alasannya kenapa tradisi ini disebut Syawalan atau bada ketupat.

KHASMedia