Memaknai Arti Konsistensi dan Kontinuitas Ala Pesantren

0
76

KHASKEMPEK.COM – Tradisi pesantren sering sekali mengharuskan santrinya untuk melatih diri, melakukan aktivitas secara konsisten dan kontinue seperti ketika pertama kali masuk pondok untuk selalu shalat lima waktu secara berjamaah selama 40 hari, membaca Alquran setiap sehabis shalat lima waktu, mengulang pelajarannya setiap setelah mengaji dan masih banyak lagi. Salah satu tujuannya untuk mencetak santri menjadi agen waktu.

“Agen waktu” itu istilah yang saya gunakan selaku penulis mengartikan istilah sufi yang di utarakan oleh para ahli tahqiq yang tercantum dalam kitab Risalatul Qusayairiyah: الصوفي إبن وقته yang nantinya ketika mereka terjun dalam kehidupan dan kondisi baru, tidak lagi berada di lingkungan yang mendukung untuk kebaikan, ia akan tetap konsisten dan merawat untuk melakukan kebaikan tersebut, meskipun itu suatu hal yang kecil dipandang.

Kala itu, sewaktu mengaji Tafsir Jalalain dan Ihya Ulumudin, Kiai Musthofa berkata pada santri-santrinya, “Selagi kamu di pondok biasakanlah hal-hal yang positif seperti shalat berjamaah, baca Alquran, ngaji tafsir dan lainnya. Karena ketika kalian di rumah kalian akan kesulitan untuk melakukannya.

Saya selaku santrinya, bertanya-tanya, apakah benar? Sulit untuk melakukannya ketika di rumah (terjun di masyarakat). Yaaa tentu benar, perkataan itu pun seakan menjadi kejutan bagi saya dan terjadi di banyak santri-santri yang lain ketika di rumah, sungkan untuk melakukan aktivitas yang biasa ia kerjakan sewaktu di pondok.

Mengapa demikian? Karena lingkungan yang berbeda membuat kita tertantang untuk konsisten melakukan kebaikan, jelas konsistenlah yang selalu di dengungkan oleh para ulama, sehingga ada maqolah “al-istiqomatu khoirun min alfi karomah (istiqomah “dalam segala hal” itu lebih baik “nilai esensinya” dibandingkan dengan seribu karomah “kewalian”). Sampai amalan sedikitpun menjadi lebih baik jika dilakukan secara konsisten dibanding amalan banyak tetapi tidak konsisten.

Mengartikan definisi istiqomah menurut Syaikh Ali bin Muhammad Al-Jurjani dalam kitab Atta’rifaatnya:

كون الخط بحيث تنطبق أجزاؤه المفروضة بعضها علي بعض علي جميع الأوضاع.

Suatu garis (خطة) dimana bagian yang telah di tentukan berlaku satu sama lain dalam segala kondisi.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari definisi di atas yaitu kita harus tetap berada dalam suatu garis yang telah kita tentukan, lalu kita lakukan secara kontinue dan tidak terhalang oleh situasi kondisi apapun (kecuali memang mengharuskan untuk berubah).

Akhir kata semoga kita semua selalu diberikan ketetapan dalam jalur keistiqomahan di setiap kondisi atau pun situasi.

Oleh: Muhammad Ghozy Al Fatih, Almuni KHAS Kempek, Akhtual 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here