Kiai Musthofa Aqiel: Keimanan, Ketakwaan dan Kemaslahatan dalam Puasa Ramadhan

0
236

KHASKEMPEK.COM – Bulan Ramadhan tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Kita benar-benar merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah kita rasakan, yakni ketakutan dan kecemasan dengan pandemi virus corona atau Covid-19.

Namun hal itu tidak mengurangi makna Ramadhan bagi kita, bahwa Allah telah memuliakan kita dengan kedatangan bulan Ramadhan. Apalagi ayat Al-Qur’an yang mewajibkan puasa Ramadhan itu diawali dengan Ya ayyuhal ladzina amanu.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat ini menerangkan: Pertama Ya ayyuhal ladzina amanu ini berkaitan dengan persoalan akidah. Kedua kutiba ‘alaikumus shiyam, di sini berhubungan dengan syariah. Ketiga, kama kutiba ‘alal ladzina min qoblikum, penekanan tentang sejarah (kemasyarakatan). Keempat, la’allakum tattaqun, tujuan dari semuanya yaitu takwa kepada Allah SWT.

Mari kita pahami sedikit demi sedikit dari awal. Pertama, Ya ayyuhal ladzina amanu. Dalam Ulumul Qur’an diterangkan bahwa perbedaan antara ayat yang diturunkan di Makkah dan Madinah adalah, jika yang diturunkan di Makkah kebanyakan pakai ya ayyuhan nas, wahai manusia secara umum. Namun ketika menggunakan ya ayyuhal ladzina amanu berarti ayat itu diturunkan di Madinah.

Mengapa demikian? Hal ini agar orang-orang Madinah mempersiapkan imannya untuk menerima hal-hal yang bersifat syar’i. Karena ketika ada perintah, kemudian diterima dengan iman, maka akan merasa legowo, ridho dan ikhlas.

Salah satu contoh, ketika Nabi Muhammad SAW sedang melakukan thawaf kemudian mencium hajar aswad, yang diikuti sahabat Abu Bakar dari belakang. Pada saat itu, Abu Bakar secara akal menolak perbuatan nabi. Namun ada suara keimanan yang berkata:

Wahai Abu Bakar, apakah engkau beriman kepada Allah? Iya, jawab beliau. Lalu bagaiman caranya beriman kepada Allah? Di sini beliau terdiam. Kemudian beliau dituntun, apabila engkau iman kepada Allah, maka syaratnya ikuti Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya, sahabat Abu Bakar mendekati hajar aswad untuk menciumnya sambil berkata: Wahai batu, demi Allah aku tahu adalah batu yang tidak ada manfaat dan mudhorot. Kalau saja aku tidak melihat sendiri nabi mencium kamu, maka aku tidak akan mencium kamu.

Di sini keimanan akan menerima segala perintah-perintah Allah dengan tulus dan ikhlas, tidak ada campur tangan akal. Kita yakini bahwa Allah menciptakan segalanya untuk kemaslahatan manusia. Kemaslahatan ini hendaknya kita pelihara karena nabi berkata: La dhororo wala dhiror, tidak boleh membuat diri sendiri bahaya dan tidak boleh membuat bahaya kepada orang lain.

Hal ini untuk melurukan dan menghasilkan ketakwaan kita kepada Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan keselamatan dan ketenangan. Oleh karena itu, marilah kita menerima dan mengamalkan puasa dengan penuh keimanan dan percaya kepada Allah yang menciptakan kemaslahatan baik untuk diri kita sendiri atau orang lain. (KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here