Kiai, Kami Sangat Kehilangan, Mengapa Engkau Tinggalkan Kami Terlalu Cepat?

1
153

KHASKEMPEK.COM – Tulisan ini mungkin tidak dapat diresapi oleh setiap orang, bahkan setiap santri pondok pesantren Khas Kempek. Tulisan ini ditulis sekadar untuk meluapkan kerinduan pribadi penulis kepada salah satu Murabbi Ponpes Khas Kempek, yaitu Almarhum KH Ahsin Syifa Aqil Siroj. Setidaknya, selama satu tahun lebih penulis pernah tinggal di wilayah yang sama dengan kediaman almarhum, yaitu pondok Khas Kempek wilayah Al-Qadim.

Bukan sekadar tinggal di komplek pesantren yang sama, penulis selama waktu itu bahkan rutin setiap minggu dan setiap bulan untuk sowan langsung kepada almarhum. Untuk apa? untuk melaporkan kondisi pondok dan keuangan pesantren. Beliau yang dikenal sebagai kiai dengan kezuhudannya, selalu istiqomah dan meminta sendiri untuk mengawasi secara langsung pengeluaran dan pemasukan keuangan pesantren. Tidak pernah absen.

Apa tidak ada pengurus di pondok untuk sekadar mengurusi itu? Banyak. Tidak terhitung malahan. Namun entah, susah dijelaskan di sini. Khidmatnya untuk pesantren benar-benar total. Tidak sekadar mengawasi pengeluaran atau pemasukan pesantren, beliau bahkan mengecek dan memastikan barang-barang yang dibeli pondok memang ada wujud nyatanya, kami waktu itu diwajibkan mengerti, namanya apa, ditempatkan di mana, dan untuk apa kegunaannya. Semua barang. Ya, semuanya.

Jika memang barang-barang itu sesuatu yang besar mungkin menjadi suatu yang wajar. Namun tidak dengan Almarhum, beliau menanyakan semua apapun yang dibeli pondok, dari mulai satu biji paku, baud, hingga membeli semen. Apapun, sekecil apapun, seberapapun harganya, beliau meminta untuk tahu dan mengerti seperti apa barangnya dan untuk apa kegunaannya. Sedetail itu. Bahkan setiap hendak mensowankan pengeluaran pondok kami sering tidak tidur untuk memastikan semua barang yang dibeli pondok tahu namanya, kegunaannya, dan di mana ditempatkannya.

Ketelatenan dan kejelian Almarhum memang tak bisa dibantah siapapun. Bukan hanya dalam soal pemaknaan kitab kuning yang rumit isi kandungannya, bahkan dalam hal apapun. Terlalu cepat beliau pergi meninggalkan kami, untuk mengajarkan pelajaran hidup yang amat berharga itu. Kalau beliau meminta santri senior untuk mengawasi pengeluaran uang itu bukan hal sulit, namun Kang Ahsin memilih melakukan itu selama masa hidupnya, demi apa kalau bukan untuk ngabdi untuk pondok dan santri.

Di lain waktu setiap kami sowan laporan keuangan listrik pondok pesantren kami juga terenyuh. Beliau yang merupakan pengasuh pondok, ngajar ribuan santri, tidak digaji, ngajar dan menjadi imam setiap waktu, namun beliau enggan mau jika kelistrikan di rumahnya itu dibayar dengan uang pondok. Beliau selalu mengambil uang sendiri dari hasil tanam padi dan kantinnya di pondok untuk membayar listrik rumahnya. Masya Allah.

Sosoknya yang bersahaja, rajin ibadah, tawadhu, enggan menggunakan bahkan seratus perak pun uang pondok untuk supaya kebutuhan kelitsrikan atau keperluan rumah lainnya dibiayai pondok. Sampai ketika misalnya uang beliau kurang 500 rupiah karena bayarnya misalnya Rp. 200.500,- beliau akan mencari uang itu sampai dapat dan diberikan kepada kami sebagai ganti pembayaran listrik rumahnya yang digunakan untuk ngaji dan melayani santrinya.

Mungkin selama di pesantren kami sangat banyak mendapatkan ilmu tentang banyak materi. Fikih, tasawuf, nahwu, saraf, tafsir, dan selainnya, kami mendapatkan semua itu dengan mudah. Akan tetapi pelajaran hidup dari Almarhum Kang Ahsin tidak banyak ditemukan. Betapa beliau mengajarkan materi kehidupan secara nyata. Mengapa beliau terlalu cepat meninggalkan kami. Sangat kehilangan untuk banyak belajar arti kehidupan dan pengabdian yang tulus.

Kecintaan kepada ilmu dan pengabdian kepada santri pada pundak beliau amat besar. Selama beberapa tahun mengaji kitab langsung dengan beliau banyak memberi isyarat tentang itu. Beberapa di antaranya ketika ada santri yang tidak bisa membaca kitab beliau tidak pernah marah, akan tetapi justru beliau menangis. Air matanya tumpah membasahi pelupuk matanya. Hingga beliau menyalahkan diri sendiri bahwa semua itu karena sebabnya yang masih belum ikhlas mengabdi untuk santri. Bukan salah santri. Beliau tidak pernah menyalahkan kemalasan kami. Rabbi..

Kiranya tulisan ini tidak akan bisa menggambarkan secara lengkap, utuh dan tepat dalam mengungkap keikhlasan dan pengabdian Almarhum untuk kami para santrinya. Tidak bisa terhitung. Untuk mengakhirinya, tulisan ini juga hendak menyampaikan pengalaman kami ketika sowan boyong kepada Almarhum. Ketika kami izin pulang dari pesantren untuk selamanya, beliau langsung merespon dengan tetesan air mata, mengusap air matanya dengan tisu hingga terlihat basah, sembari berpesan “meskipun sudah tidak di pondok, harus selalu balik ke pondok setiap ada acara khataman. Dan, jangan cari kerjaan yang membuat kamu sulit untuk melakukan salat lima waktu.”

Terimakasih, Kiai. Terimakasih atas keikhlasan dan ketulusan mengajari dan mencintai kami. Engkau tegas, namun engkau tetap lembut, tak pernah sekalipun memarahi kami. Engkau mengajarkan kami bukan sekadar kandungan teks kitab, namun juga kandungan isi kehidupan. Engkau mengajari kami betapa hidup tidak lain adalah sebuah pengabdian, pengabdian kepada Allah, ilmu, sesama manusia, dan seluruh alam. Namun, engkau terlalu cepat meninggalkan kami. Kami sangat kehilangan. Alfaatihah..

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here