Buya Ja’far Aqiel, Sosok Santri Salaf Sekaligus Kiai Pluralis

0
182

KHASKEMPEK.COM – Untuk kesekian kalinya, setiap ada moment yang memantik getaran jiwa orang yang pernah mengaji dan sering duduk bersama gurunya untuk mengabdi, jujur pasti tidak akan pernah melupakan masa-masa kebersamaannya.

Dawuh, tindakan dan sikap selama hidupnya terekam sangat tajam dalam benak dan tertanam dalam sanubari. Dan semua itu mengkristal menjadi diamond, yang setiap sudutnya memancarkan kemilau yang berbeda-berbeda sesuai dengan bagian sisi sudut dimana kita bisa memandangnya.

Dan hari ini, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, penulis tak jemu untuk sekedar melihat sudut kecil dari pancaran berlian dari sosok guru kita, Al Maghfurlah Al Mukarrom Buya Ja’far Aqiel Siroj.

Tahun 2003, penulis mendampingi Buya Ja’far bersama ibundanya, Al Marhumah Nyai Hj. Afifah Harun dan istri tercintanya Ny. Hj. Daimah Nashir, dengan tujuan tidak lain hanya untuk berziyarah ke gurunya dan bersilaturrahim ke Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Tanggir Tuban Jawa Timur.

Sesampai di Tanggir, Buya berziyarah ke makam Al Maghfurlah KH. Mushlich Abdul Karim, kemudian dilanjutkan sowan silaturrahim ke KH. Hasan Tuba Muhammad (PP. Arjawinangun) teman seangkatannya yang kemudian menjadi menantu Sang Gurunya. Diantara hasil pertemuannya dengan teman yang pada waktu itu sudah menjadi Pengasuh Pesantren Tanggir, Buya diundang untuk hadir ke acara Akhir Sanah dan Haul pesantren almamaternya tersebut. Setelah beberapa bulan, Buya pun datang untuk kedua kalinya didampingi oleh penulis bersama Ang Kaji Nahdli kecil untuk memenuhi undangan tersebut dan memberi sambutan atas nama alumni.

Perlu diketahui, Buya agak lama mengaji pada Al Mukarrom KH. Mushlich Abdul Karim di Tanggir pada sekitar tahun 70-an. Dari Cirebon teman seangkatan Buya diantaranya Al Maghfurlah KH. Masduki Amin (Abah Uki PP. Gedongan), Al Maghfurlah KH. Hasan Tuba dan KH. Ibnu Ubaidilah (PP. Arjawinangun).

Sebagaimana diceritakan oleh Putranya, Kiai Muhammad BJ, Buya Ja’far pulang (boyong) dari Tanggir dan kemudian menikah. Namun setelah berkeluarga Buya pun masih mengikuti pasaran ngaji ke beberapa pesantren diantaranya tabarrukan ke Al Mukarrom Abah Dzim Pesantren Kaliwungu. Sebelum ke Tanggir, Buya pernah cukup lama mondok di Lirboyo, tabarrukan di Sarang, juga di Mranggen.

Jadi Buya sempat berguru dengan dua Kiai yang sama namanya, KH. Mushlich Pesantren Tanggir dan KH. Mushlich Pesantren Mranggen, seorang mursyid pengarang Kitab Manaqib Qodiriyyah “Nurul Burhan”, ujar Kang BJ mengakhiri cerita ayahnya.

Dari sini kita bisa melihat, latar belakang pendidikan Buya adalah pesantren, seorang santri yang tak lelah hidup melakukan pengembaraan intelektual dari satu bilik ke bilik-bilik pondok dan serambi masjid serta emperan rumah kiai. Tidak mengenyam pendidikan formal sebagaimana sarjana-sarjana zaman modern.

Buya seorang tradisional, santri salaf, tapi maaf bukan tasalluf “berlagak seperti kaum salaf“ sebagaimana trend golongan pendakwah sekarang. Meski demikian Buya sangat terbuka, wawasannya jauh ke depan, moderasi Islam diterapkan dalam perannya dikemudian hari. Ia berupaya menempatkan Islam sebagai solusi terhadap masalah-masalah sosial menurut ruang dan waktunya.

Berikut pengakuan dan testimoni dari umat agama lain dari pergaulannya selama Buya memimpin MUI  Kabupaten Cirebon dan juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

Yohanes Muryadi, adalah Umat Katolik Gereja Bunda Maria Cirebon, ketika Buya Ja’far wafat (2014) dia menulis sebagai berikut:

Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi anugerah seorang sahabat yang baik, yaitu  Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj. Saya sangat senang dan merasa beruntung setiap  bertemu dengan beliau.

Saya senang karena beliau adalah pribadi yang hangat, yang mau menerima siapa saja sebagai saudara. Setiap orang merasa diterima dengan tangan terbuka, dan dihargai di hadapan beliau.

Saya merasa beruntung karena beliau adalah teman bicara yang mengasyikkan. Banyak hal baik yang saya dapat dari beliau.

Yohanes melanjutkan bahwa Buya memiliki  pengalaman yang luas, yang selalu direfleksikan, sehingga bermakna, serta visi jauh kedepan yang jelas, maka setiap pendapat yang beliau sampaikan selalu berbobot dan innovatif.

Segala macam topik diskusi, sekecil apapun jika dibicarakan dengan beliau menjadi tema yang menarik. Saya sering merasa terkejut, kagum, dengan pandangan beliau pada hal-hal tertentu karena pendapat itu sangat baru,  belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

Sehabis berdiskusi dengan beliau saya merasa beruntung karena saya tidak hanya mendapat perluasan wawasan tetapi juga pencerahan.

Sebagai Kiai NU, seluruh hidupnya dibaktikan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dengan memperhatikan pendidikan kaum muda lewat pondok pesantren asuhannya. Beliau selalu memikirkan masa depan para santrinya, agar mereka menjadi manusia yang takwa, dewasa, mandiri, sederhana, bermanfaat bagi sesamanya.

Ribuan santri yang sudah lulus dari Pondok Pesantrennya, yang  tersebar di seluruh pelosok Indonesia menjadi tenaga-tenaga trampil pengabdi bangsa berjiwa pelayanan.

Saya  terharu sekali, pada saat pemakaman beliau, para santri kelihatan sangat kehilangan. Mereka berdoa sepanjang waktu bagi Buya dengan cinta dan hormat.

Demi kemajuan pesantrennya, dan para santrinya, demi kemajuan NU pada umumnya, para Kiainya, dan warga NU seluruhnya, Buya H. Ja’far siap menjalin kerja sama dengan siapa saja. 

Beliau pernah  menghadirkan Bapak BJ. Habibie, seorang cendekiawan Muslim yang cerdas, Presiden Republik Indonesia ke-3, dan seorang Menteri dari Jerman, ke Pesantren Beliau di Kempek.

Aktifis Forum Lintas Iman tersebut mengakui bahwa Buya adalah seorang pluralis. Beliau dapat berelasi dan bekerjasama dengan semua pihak, tanpa membedakan agama, suku bangsa, dengan prinsip saling menguntungkan dan bermanfaat bagi masyarakat, menuju pada kemuliaan.

Buya, Kiai yang selalu mengenakan sarung dan tampil sederhana ini, jika  berbicara  penuh semangat, tanpa basa-basi, tetap menjaga kesopanan, tak ada yang terselubung, dengan bahasa sederhana, sehingga pandangannya mudah dimengerti, dan bebas dari apriori.

Dalam berelasi dengan semua pihak, Ketua MUI Kabupaten Cirebon ini, selalu menghormati umat agama lain. Beliau biasa melontarkan oto kritik, kritis terhadap Islam, dan warga NU, dengan ide-ide dan refleksinya, demi kemajuannya, tetapi selalu menaruh hormat kepada agama lain.

Tak ada cela atau ungkapan negatif dari beliau terhadap agama non Muslim. “Tuhan itu Esa untuk seluruh umat manusia, dan karenanya seluruh umat manusia itu apapun agama dan bangsanya, adalah satu keluarga. Kita wajib saling menghormati” begitu ungkapnya setiap kali,  yang membawa rasa damai bagi orang yang mendengarnya. Demikian menurut Yohanes.

Ia melanjutkan bahwa Beliau adalah tokoh nasional yang memiliki relasi yang amat luas, juga dengan para pejabat, maka ketika Kempek ditunjuk menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional NU se-Indonesia, dengan persiapan waktu yang relatif pendek dan dengan biaya yang tak sedikit termasuk menyediakan tempat menginap dengan segela keperluannya  bagi para utusan, berkat kemampuan beliau sebagai seorang organisator, dan bantuan teman-temannya, musyawarah Nasional itu sukses.

Dan sebagai puncak perenungan saya, beliau adalah insan yang sederhana, rendah hati, yang menyadari kerapuhan dan keterbatasannya, yang selalu mendekatkan diri pada  Tuhan.

Buya menyadari bahwa Tuhanlah yang berkarya, dan Buya sebagai alat-Nya. Karenanya karyanya selalu diberkati Tuhan.

Buya H. Ja’far Shodiq Aqiel Siroj, selamat jalan, terima kasih atas kebaikan dan persahabatan Buya, inilah kata akhir yang ditulis oleh Anggota FKUB Kota Cirebon tersebut.

Dalam konteks ini, Penulis melihat Buya Ja’far tengah memahami bahwa signifikansi Islam ditinjau kembali dari dimensi partikularnya. Yang hanya sebatas ritual dan asketisisme yang bersifat personal. Islam bukan hanya berlaku untuk umatnya, tetapi merupakan sebuah misi kemanusiaan yang holistik sehingga menggenapi misi Islam sebagai agama yang “rahmatan lil aalamien“.

Dimensi iman, islam dan ihsan secara lurus difahami sebagai perangkat lengkap untuk hidup bahagia dunia akhirat. Sehingga mungkin tidak terlalu jauh untuk dikatakan bahwa Buya menempati posisinya sebagai aktualisasi dimensi ihsan dalam Islam.

Syeikh Muhammad Abduh (1849-1905) menyebutkan bahwa “Islam menghilangkan segala macam perbedaan rasial dalam dunia kemanusiaan, dalam hubungannya dengan Tuhan, dalam peran sertanya diantara sesama manusia, dalam kelompok rasial atau ikatan tertentu, maupun dalam harga dirinya sebagai makhluk yang tertinggi di mata Tuhan….”, John J. Donohue, John L. Esposito “Islam dan Pembaharuan” PT. Rajagrafindo, 1995 hal 33.

Sudah kita fahami bersama, bahwa kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah terbagi dalam 2 periode; Makkiyyah dan Madaniyyah. Dalam bukunya Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, KH. Said Aqiel Siroj  menyebutkan bahwa pada periode Makkah persaudaraan yang muncul hanya sebatas persaudaraan internal umat Islam (Ukhuwah Islamiyah). Mereka tergabung dalam komunitas as-sabiqunal awwalun (komunitas yang pertama kali masuk Islam) yang berjumlah puluhan hingga ratusan saja.

Capaian seperti ini dapat dimaklumi, selain karena ajaran yang masih baru, juga karena keperluan konsolidasi internal secara intensif.

Sedangkan pada periode berikutnya, periode Madaniyah, peluang Nabi Muhammad SAW untuk membangun tatanan masyarakat plural semakin terbuka, yakni dengan dikeluarkannya kesepakatan bersama antara kalangan umat Islam dengan kaum Yahudi di Madinah, yang dikenal dengan sebutan Shahifah Al-Madinah (Piagam Madinah).

Dalam Piagam yang memuat 47 pasal itu, sungguh pun dibuat oleh mayoritas umat Islam, tapi sama sekali tidak disebut asas Islam ataupun dasar Al-Qur’an dan Hadits.

Kandungan piagam ini merupakan bagian dari upaya melapangkan jalan rekonsiliasi diantara unsur etnis, agama, dan kelompok yang ada di Madinah saat itu. Ini penting untuk kepentingan membangun pranata sosial kemasyarakatan yang damai, aman dan sentosa, bebas dari intimidasi, anti penindasan, anti sektarianisme, dan anti diskriminasi. Oleh karena itu, wajah Islam sejak saat itu semakin menampakkan dimensi fungsioanalnya ketimbang dimensi normative dan formalitasnya.

Selanjutnya Kiai Said mengingatkan: “Walhasil santri sebenarnya memiliki potensi yang besar bagi pengembangan masyarakat pluralis. Potensi tersebut akan tenggelam manakala eksklusivitas pada diri mereka menonjol. Para santri juga harus mulai meningkat pada transformasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Jika salama kurun waktu yang lalu telah berhasil membangun transformasi kultural dan sosial, keberhasilan ini akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dengan sebuah transformasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi“.

“Kita pun menyadari, dari jutaan santri tentu tidak semua menjadi kiai. Oleh karena itu perlu diarahkan pada beragam bentuk-bentuk spesialisasi yang didasarkan pada kemampuan masing-masing santri. Disinilah perlunya formulasi baru bagi pola pendidikan pesantren pada sepuluh dasawarsa kedepan“. Demikian Ketum PBNU menutup tulisannya.

Menyambung dengan harapan dari Kiai Said, baru-baru ini sebagaimana dikutip dari Surat Kabar Repubika 12/10/2020, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) KH. Ma’ruf Amin berharap, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya mulai mempersiapkan penguasaan teknologi digital sebagai alat dakwah. Ia menilai, sistem dakwah melalui teknologi digital akan lebih efektif pada saat ini.

“Dalam konteks dakwah dewasa ini salah satu tantangan yang mesti kita siapkan adalah penguasaan teknologi digital dalam bentuk media sosialdan lain-lain sebagai alat dakwah“.

Ia meyakini, dakwah dengan sistem digital lebih memungkinkan masyarakat untuk menyimak dakwah kapan saja, dimana saja, dan waktunya pun lebih fleksibel. Musytasyar PBNU ini menambahkan “Terutama untuk menyesuaikan generasi milenial dan generasi Z”.

Jadi, sebagaimana Kiai-Kiai NU masa sebelumnya dalam mengamalkan ukhuwah imaniyah (kerukunan lintas iman), Buya Ja’far sudah mewujudkan dimensi ihsan dalam bentuk dan pola beragama yang sudah popular dikalangan Nahdliyyin dengan istilah tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), i’tidal (jalan tengah) dan tasamuh (toleran).

Walhasil, kita sebagai santri dan generasi penerus perjuangan NU dan Pesantren, bisa mengambil ibrah dan tauladan dari guru-guru kita untuk mengemban amanah dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Semoga Kiai Nyai NU dan Pesantren wabilkhusus Syaikhina Buya Ja’far mendapatkan derajat tertinggi di akhirat…… aamien, Lahum Al Faatihah

Selamat Hari Santri Nasional 2020.

Wallahu a’lam bisshawab,

Nurkholik Tawan, 20.10.2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here