Tulisan tangan Kiai Ahsin yang didesain ulang oleh kang Muhammad Arwani

Ketika masih berstatus sebagai santri baru, hal yang paling berat adalah beradaptasi dengan lingkungan pesantren. Terutama dalam model pembelajaran yang jauh berbeda dengan sekolah formal. Di samping banyak materi yang harus dihafalkan, ada pula kewajiban mencatat materi dengan tulisan tangan.

Waktu itu, saya yang tergolong santri yang tulisannya paling buruk. Saya masih kesulitan menuliskan teks-teks Arab dengan cepat dan jelas. Apalagi kalau menulis makna gandul. Akibatnya, saya seringkali tertinggal dengan teman-teman sekelas.

Di Pesantren KHAS dulu (baca: MTM), santri baru biasanya dimasukan ke kelas SP (sekolah persiapan). SP dipersiapkan untuk menunjang santri-santri baru agar siap untuk memasuki kelas Awamil pasca lebaran. Sebab, santri baru yang masuk di tengah ajaran pondok pada waktu itu (baca: menjelang akhir tahun), rata-rata lulusan SD.

Hampir semua materi yang diajarkan di kelas SP ditulis dengan tangan. Ustadz menuliskan di papan tulis, kemudian para murid mencatatnya di buku masing-masing.

Seingat saya, ada tiga kitab yang diajarkan di kelas SP. Yakni, Syiir-syiir tauhid Jawa, Aan ani a, dan Tashrifan. Ketiga kitab ini, semuanya ditulis dengan tangan. Padahal, saat itu sudah ada versi cetaknya.

Bagi santri baru, beban menulis pelajaran sebanyak itu terasa berat. Bagaimana tidak? Menulis Arab saja masih kesusahan, belum lagi ditambah hafalan yang seabrek-abrek. Santri baru memang ribet dan berat tanggungjawabnya.

“Kenapa harus ditulis ulang di buku masing-masing? Toh, kitab cetaknya sudah ada. Tinggal baca, kan lebih mudah dan efisien,” pikir saya waktu itu. Mencari pembenaran ketika rasa malas untuk menulis datang.

Pertanyaan besar saya saat itu pun terjawab ketika saya memasuki tingkatan kelas Imrithi. Pada waktu itu, Kiai Ahsin (Allah Yarham) menceritakan metode pengajaran Kiai Aqil tempo dulu.

“Jamane Mama (baca: Kiai Aqil), semua kitab ditulis dengan tangan sendiri, ” terang Kiai Ahsin di tengah-tengah mengajar kitab al-Imrithi.

Dikatakan, Kiai Aqil mengajarkan kitab Tafsrifan, Awamil, Jurmiyah, Nadzom Bina, dan kitab-kitab lainnya kepada para santri dengan menuliskannya di papan tulis. Karena seringnya menulis, lanjutnya, Kiai Aqil sampai terkena penyakit paru-paru. Hal itu diakibatkan beliau acapkali menghirup debu kapur yang digunakan untuk menulis.

Selain itu, kata Kiai Ahsin, menulis sama halnya menggerakan tiga organ tubuh sekaligus. Berawal dari mata melihat, lalu diingat di memori kepala dan diaktualisasikan lewat tangan.

Kiai Ahsin menjelaskan kalau menulis dapat memaksimalkan kerja otak. Sebab, tanpa disadari kita akan menghafal dan mengingat-ingat apa yang ditulis sang guru di papan tulis ataupun ketika menyalin teks dari kitab.

Kedua, melatih kreatifitas tangan. Semakin sering diasah kemampuan menulisnya, semakin bagus pula tulisannya. Ibarat peribahasa Indonesia mengatakan, tajam pisau karena diasah.

Tulisan tangan Kiai Ahsin yang ditulis ulang oleh kang Sinar Kujang

Jadi, tidak heran kalau santri dulu memiliki kemampuan menulis yang baik. Ya, karena mereka terbiasa menulis materi-materi yang diajarkan sang guru. Sehingga, lambat laun kemampuan menulisnya semakin meningkat dan membaik.

Begitu nasihat Kiai Ahsin masih teringat jelas hingga sekarang. Di benak saya, nasihat-nasihat beliau sangat meneduhkan dan menyejukkan. Kerena nasihat beliau pula, saya masih menulis hingga hari ini. Alfatihah. (KHAS Media)