KEBERANIAN DUA AQIL SIROJ YANG MEMBUAT GEMPAR

0
186
Buya Ja'far dan Buya Said berjabat tangan dalam acara Munas NU tahun 2012 (Foto: KHASMedia)

Abuya Jafar Shadiq Aqil Siroj (Alm) dan Abuya Said Aqil Siroj adalah dua putra dari Kiai Aqil Siroj, Ponpes Khas Kempek Cirebon. Keduanya memiliki keberanian dan ketegasan yang hampir sama. Benar-benar tidak ada rasa takut dalam diri mereka, selagi urusannya masih dengan manusia. Bagi keduanya, hanya Allah yang perlu ditakuti.

Di ranah publik, utamanya kepada pemerintah, yang baginya tidak adil, Abuya Jafar selalu mengkritik keras, sekalipun pada hal-hal sepele. Suatu hari kala Penulis masih mengaji Alfiyah kepada Abuya Jafar, Abuya bercerita kepada kami, santri Kempek saat itu, bahwa beberapa Kiai di Cirebon telah diberi sarung oleh Gubernur Aher pada masanya. Namun, sarung yang diberikan Gubernur kepada Buya Jafar lebih bagus daripada sarung-sarung yang ia beri kepada kiai-kiai lain. Sontak saja, Abuya dengan nada tegas dan berani berkomentar di depan Gubernur, “Saya tidak terima sarung ini jika kiai-kiai lain dikasih sarung yang lebih jelek dari saya!”, harus sama semua, Pak!”.

Keberaniannya itu juga kami rekam ketika beliau cerita kepada kami kala beliau menjabat MUI Cirebon. Beliau dengan berani mengkritik keras pejabat-pejabat MUI di lingkungannya, dikarenakan kinerja yang kurang memuaskan. Bahkan suatu saat, ketika di Kempek baru mengadakan MUNAS NU, di depan ratusan pejabat pemerintah, menteri, ulama se-Indonesia, dengan membanggakan kerja keras santrinya, beliau menegaskan kepada Ketum PBNU, “Munas ini adalah kerja keras saya!, Said Aqil akan gagal dan malu jika bukan perjuangan pondok ini!. Walau Kang Said Ketua NU, tapi kepala tidak akan lebih rendah dari punggung”, pungkasnya dengan nada menekan.

Betapa banyak sekali keberanian Abuya yang super hebat yang kami rekam, kala masih menimba ilmu kepadanya. Misalnya, beliau enggan mau dan akan ‘marah’ ketika ada santri yang tidak rapih dalam berpakaian, bahkan pengurus pondok pun tidak jarang ‘dimarahin’ karena ketidakbecusan mengurus Santri, “Kalian ini santri. Wajib rapih. Wajib wangi. Wajib bersih. Pengurus juga harus intens mengontrol santri. Kalau tidak mau rapih, tidak boleh mondok!”.

Tidak berbeda dengan kakaknya, adalah adiknya, Abuya Said Aqil Siradj. Hampir semua orang Indonesia mengenal ketegasan dan keberaniannya, bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai kekurangsopanan seorang Kiai. Namun bagi kami, santrinya, itu merupakan sikap dan watak Abuya yang memang tidak pernah takut dengan selain Allah. Selagi bagi dirinya benar, dan berdalil, maka akan ia sampaikan. Begitupun yang batil, sekalipun banyak diikuti orang, akan ia katakan itu salah.

Cukup banyak pernyataan-pernyataan Abuya Said, yang, mungkin sebagian orang terkaget-kaget dibuatnya. Adalah saat ramai Gerakan 212 yang hendak Demo di Monas dua tahun silam. Ketika hampir semua umat Islam setuju dengan aksi itu, Abuya dengan tegas menyatakan untuk menolak, “Tidak!, orang NU tidak boleh demo! Kalau ada pun, jangan pakai atribut NU!”. Ungkapannya ini yang membuatnya dicap kafir, pendukung penista agama.

Kepada pemerintah pusat pun tidak sedikit ia mengkritik. Satu saat Kemendikbud mengeluarkan PERMEN agar semua sekolah di Indonesia diberlakukan Full-Day. Kiai Said mengkritik tegas dan sangat tidak setuju dengan itu karena Madrasah yang selama ini berperan di Masyarakat akan hilang. “Tidak. Saya dan NU menolak sekolah full day school!, Sampai kapanpun saya akan perjuangkan agar full day tidak diterapkan, dan PERMAN dibatalkan Presiden!”.

Pernyataan yang sedang heboh sekarang ialah terkait Khatib Jumat, KUA, penceramah, hingga Menteri Agama harus dari NU. Abuya memotivasi para kader NU agar tempat-tempat berdakwah, KUA, dan bahkan kementerian Agama harus dari NU, karena selain NU salah, sebab banyak menganggap bid’ah. Pernyataannya itu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Sekelas MUI pun protes agar Abuya menarik ucapannya. Namun dengan tegas ia menjawab, “Tidak!, Saya tidak akan menarik ucapan say!. NU bukan bawahan Majelis Ulama, bukan!. Nggak ada hak perintah-perintah saya!”.

Apa yang keduanya ungkapkan tidak lain mengajarkan kepada kita bahwa tidak perlu ada yang ditakuti selain Allah. Manusia semuanya memiliki kekurangan. Bagi Abuya Said dan Abuya Jafar, selagi apa yang diucapkan adalah kebenaran, meski semua orang tidak setuju, keduanya akan tetap menyampaikannya dengan tegas dan berani, kepada siapapun itu. Sebaliknya, bagi keduanya, jika sesuatu dianggap salah sesuai dalil yang ada, meski semua orang setuju, beliau berdua akan katakan dengan berani bahwa itu salah. Meski semua orang menganggapnya benar.

Semoga Allah menjaga keduanya.
Alfatihah..

Penulis: Lufaefi, Santri Bontot Alm. Abuya Jafar Shadiq Aqil Siroj.