SEPUCUK SURAT UNTUK IBU (1)

0
156
Seorang anak sedang menulis surat (Foto ilustrasi: Tribunnews)

Ini adalah kisah seorang santri, sebut saja namanya Zaed. Ia berasal dari salah satu daerah di tanah Pasundan. Sekarang dia sedang mesantren di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Dipesantren ini, ia mengaji di kelas al-Awamil (kelas tingkat dasar yang diambil dari nama kitab nahwu). Sedangkan sekolahnya kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTs), setingkat dengan SLTP.

Diawal-awal mesantren, Zaed merasa tidak betah hidup didalam pesantren, karena harus berpisah dengan kedua orang tua dan keluarganya di rumah. Ia juga kesulitan untuk menghafal pelajaran yang dibebankan kepadanya. Dari mulai hafalan Juz ‘Amma sampai hafalan nadzom al-Awamil.

Belum lagi aktifitas dan mata pelajaran yang dipelajari di MTs. Semua ini membuat Zaed sering melamun dan kepikiran di rumah terus. Tapi untungnya, Zaed bertemu dengan kakak kelasnya yang masih sekamar. Sehingga ia banyak mendapatkan nasihat dan motivasi. Dan inilah yang membuat Zaed berubah. Bagaikan mendapatkan cahaya dalam kegelapan, ia berusaha bangkit dan semangat untuk mengaji dan belajar disini.

Kemudian, Zaed menulis keluh kesah dan pengalamannya dalam sepucuk surat yang ia kirim kepada Ibu dan Bapaknya di rumah.

Kepada: Ibu dan Bapak

Di rumah

Assalamu’alikum…

Ibu, bagaimana kabarnya? Bu, kemarin Zaed cerita sama teman kamar yang sudah dua tahun disini. Zaed tanya, bagaimana biar bisa betah? Terus, kenapa kok susah hafalan? Gimana biar mudah dan cepat hafal?

Katanya, sih, kalau mondok harus fokus. Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Tapi, apa mikirin rumah itu aneh? Terus, katanya kalau di pondok harus ingat tujuan mondok. Yang bikin bingung, tujuan Zaed mondok apa? Kan, yang ngirim Zaed ke pondok Ibu sama Bapak?

Terus, katanya, kalau masalah hafalan semua orang bisa hafal asal orang tersebut tekun dan bersungguh-sungguh. Berarti Zaed belum tekun ya, Bu? Belum bersungguh-sungguh ya, Bu?

Kalau memang dengan mondok dapat membuat Bapak dan Ibu bahagia, Zaed akan berusaha bersunguh-sungguh. Zaed akan menjadi santri yang tekun buat Ibu, buat Bapak. Zaed akan berusaha.

(bersambung)

(KHASMedia/Didi)