Cerpen Santri: Kenapa Matamu?

(Part II Pesan Ibu)

2
277

KHASKEMPEK.COM – Derum suara mobil lewat sudah setengah jam ini menjadi penghibur kami, mata Ibu masih fokus tertuju ke kanan jalan, menanti datangnya bis yang akan mengantarkannya pulang.

“Kita kesorean kayanya bu, bisnya sudah jarang lewat,” tegurku memecah lamunan ibu. Sejenak ia melihat wajahku, lalu merangkulku dari samping.

“Iya bu, kalau sudah sore biasanya bis jarang lewat,” tambah Kang Adi, pengurus pesantren yang mengantarkan kami ke jalan besar.

Pesantrenku ini berjarak lumayan jauh dari pinggir jalan. Untuk masuk ke pesantren, sebenarnya banyak sekali tukang becak yang mangkal. Tapi bagi kami, uang sebesar 10.000 lebih baik kami gunakan untuk makan. Untung saja ada pengurus pesantren yang tak segan mengantar kami.

Tak lama berselang, mobil bis yang dinanti pun datang. Dengan cepat kami langsung berdiri dari tempat duduk kecil dibawah pohon tersebut dan bergegas menyiapkan barang bawaan ibu. Kang Adi berdiri di pinggir jalan seraya melambaikan tangannya, pertanda ada penumpang yang mau naik.

Mataku terlihat sedikit berkaca sore itu, tapi aku berusaha terlihat tegar, ku hapus bibit air mataku dengan lengan bajuku.

“Jaga dirimu baik-baik ya nak, jangan tinggalkan sholat, taati peraturan pesantren,” tutur ibu. Ia menyalami ku dan mengecup keningku lalu menyalami kang Adi.

“Titip anak saya ya pak ustadz, bimbing dia,”

“Iya bu, itu sudah menjadi tugas kami,” balas Kang Adi setelah bersalaman dengan ibuku.

Sedari tadi aku hanya menunduk mengamati langkahnya yang mulai menaiki tangga bis, dan hilang dibawa pergi.

Aku menengok ke kananku, kang Adi terlihat tersenyum menatap ku, “Jangan sedih San, gak papa.”

Tak ku sadari, ternyata air mataku menetes. Mungkin itu yang membuat kang Adi tersenyum. “iya kang,” jawabku.

Kang Adi membalikkan badannya, menuju motornya yang terparkir di dekat kami duduk tadi. Akupun membuntutuinya kami segera pulang ke pesantren.

Motor Kang Adi mulai berjalan memasuki gerbang pesantren di pinggir jalan. Aku hanya diam menatap ke perumahan di pinggir jalan, sesekali terlihat anak-anak usia Sekolah Dasar yang tengah sibuk dengan gadget miringnya. Pemandangan yang miris memang, tapi apa daya.

Kamipun mulai melewati persawahan. Ya, sejak awal aku datang ke pesantren ini, aku sudah terpana melihatnya. Aku dan Ibu datang pagi tadi, dengan sejuknya pesawahan tersebut memamerkan sawah yang teramat luas, dengan gunung besar di belakangnya.

“Kamu kenapa ngelamun?” pecah Kang Adi.

“Enggak kang, saya lagi lihat sawah aja,”

“hehe, bagus ya? Oh iya hafalan Juz ‘Amma mu sudah sampai mana, San?”

Aku sudah hafal kang, sama tambahan Yasin dan Waqi’ah.”

“Wah, bagus berarti San, Kamu tinggal ngebagusin bacaannya aja di sini,” jawab kang Adi.

Motor yang dikendarai kami sudah mulai melintasi GOR pesantren yang terletak di kiri jalan, pertanda tak lama lagi kami sampai.

***

Kang Adi memarkirkan motornya di depan asramaku. Dengan ditemaninya, aku mulai berjalan masuk menuju asrama yang sudah lebih ramai dibanding saat aku menaruh barang tadi siang, bersama ibu. Koridor asrama dipenuhi banyak anak seusia lulusan Sekolah Dasar, saling berkejaran dan tertawa.

“ini kamarmu ya San?”

“iya kang,” jawabku

“sudah kenal ketua kamarnya?” aku hanya menggeleng menjawabnya.

Ia pun memanggil seseorang yang tengah duduk di pinggir kamar, dan aku pun dikenalkan dengan orang itu, namanya Kang Ihwan. Kalau diperhatikan wajahnya terlihat seperti orang Sunda, “ah tapi nanti juga tahu,” batinku.

Aku berjalan menuju lokerku, kamarku di pondok bisa dibilang lumayan besar. Ukurannya kurang lebih 6×10 meter. Walaupun sebesar itu, ternyata kamar ini ditempati sekitar 40 santri, ah tidak apa apa lah.

Aku perlahan membuka lokerku, mengamati barang yang ada di dalamnya. Ya, jujur aku sedang bingung sekarang harus melakukan apa. Di lingkungan yang baru dan belum kenal siapa-siapa. Aku melihat ke sebelah kiriku, ada beberapa anak yang sedang bercanda, “Coba minta kenalan ah,” batinku.

Akupun ikut duduk di lingkarannya, “kang, boleh kenalan gak?” sapaku sambil mengulurkan tangan.

Tak ada jawaban, tapi mereka semua memandangiku dengan sedikit menahan tawa. “Hahahaha,” tiba-tiba tawa mereka pecah. Aku tak paham apa yang mereka tertawakan, hingga salah satu dari mereka berkata, “Kenapa matamu?”

Aku mulai naik pitam, anak kecil seusia lulusan Sekolah Dasar mengatakan itu kepadaku. (Bersambung)

Baca juga: Pesan Ibu

2 KOMENTAR

  1. Cerita nya bagus, aku suka cerita berbau santri.. Coba deh tulis di apk wattpad, apk khusus buat nulis cerita. Insyallah banyak yang baca.

    Segitu aja komennya ya thorr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here