Cerpen Santri: Pesan Ibu

1
363

KHASKEMPEK.COM – Panas matahari berhasil meneteskan keringat ibuku siang ini, sudah berkali-kali ia mengusap wajahnya menggunakan tisu. ia memegang erat tanganku, seakan tak ingin ditinggal anak semata wayangnya.

“Antrian nomer 78”, pekik seseorang di belakang mic, aku dan ibu bergegas berdiri.

“Nomer 78 ya mas?,” tanya ibuku

“Benar, atas nama Hasan ya bu, silahkan masuk,”

Ibuku hanya mengangguk membalasnya. Kepalanya tertunduk sembari melangkah memasuki ruangan registrasi. Setidaknya, ruangan ini lebih sejuk ketimbang di halaman sekolah.

“Ah, ternyata masih antri lagi,” keluhku dalam hati. Pandangan kami langsung tertuju ke salah satu kursi kosong di sudut ruangan, segera mencari posisi untuk kembali mengantri.

“Pendaftar di pesantren ini banyak sekali ya bu,” ucapku sambil menatap matanya yang terlihat sedikit berbinar.

Andaikan ibu tidak pakai masker, pasti aku tahu bagaimana ekspresi wajah beliau. Ia tak henti-hentinya menatap wajahku. Aku dapat melihat perasaan sedih dan haru dari bola matanya.

“Kamu benar ikhlas ingin mesantren kan nak,” tanya ibu, terlihat setetes air mata menetes di samping pelipisnya, bercampur dengan keringat.

Aku tertegun, pertanyaan ini juga ditanyakan ayah padaku bulan lalu, sebelum ia meninggal. Ia pergi dikarenakan penyakit yang telah diidapnya sejak bertahun-tahun lalu. Dan sejak itulah, ibuku menjadi poros bagi keluarga kami.

“Ibu kenapa bertanya gitu?” Tanyaku penasaran.

“Ayahmu dulu nak, ingin sekali belajar di pesantren. Namun dikarenakan biaya, ia hanya bisa meratapi impiannya. Sejak menikah dengan ibu, ayahmu sudah mulai menabung agar kamu bisa masuk pesantren nak,” ia menatapku dengan lembut, menyiratkan kasih sayangnya kepadaku selama 15 tahun ini.

“Ia berjuang keras untuk mengumpulkan uang nak. Sampai akhirnya, ia terserang penyakit dan kamu baru bisa masuk pesantren saat masuk Madrasah Aliyah,” tambahnya. Kali ini ibu menarik bahuku, melepaskan tangisnya dalam pelukanku.

Aku berusaha tegar, namun air mataku tetap tak dapat terbendung. Sejak ayah jatuh sakit, ibuku membanting tulang untuk mendapatkan pekerjaan seadanya, mulai dari membantu di warung bakso, hingga menjadi kuli angkut di pasar.

“Hasan ikhlas bu, hasan ingin jadi anak shalih agar dapat membahagiakan ayah sama ibu,” tangisku pecah dalam pelukannya, tak peduli apakah sekitarku memperhatikan atau tidak.

“Luruskan niatmu nak, bersihkan hatimu disini. Pesantren itu tempat yang ramai, kamu akan menemukan beragam sifat di dalamnya, jangan sampai hatimu menyimpan iri, dengki ataupun penyakit hati lainnya. Sampai kapanpun, tak masalah jasadmu kotor, asalkan hatimu tetap bersih.” Kali ini ia telah melepas pelukannya, namun tangannya masih kuat memegang bahuku.

Aku hanya tertunduk mendengarkan pesan ibu, sesekali aku mengintip, ia sudah terlihat lebih tegar dibanding sebelumnya.

“Ibu yakin kamu bisa, kamu sama seperti ayahmu, tidak suka menyimpan dendam,” tambah ibu.

Sejak saat itu, aku berjanji kepada diriku sendiri akan tetap menjaga pesan ibu. Perlahan aku menatap wajahnya, kini senyum mulai terpancar di wajahnya, bak pelangi yang muncul setelah badai.

“Ananda Hasan!” Panggilan itu memecahkan lamunan kami.

“Ayo cepat nak,” seru ibu. (Bersambung)

***

Penulis: M. Bahrul Ulum, Santri Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here