Puisi Cinta Ibnu Zaidun dan Wallada

0
259
Ibnu Zaidun dan keindahan puisinya merupakan ekspresi rasa cintanya kepada Wallada putri penguasa terakhir dinasti Bani Umawiyyah. (Foto: Shutter Stock)

KHASKEMPEK.COM – Mengkaji sastra Arab Andalusia, seyogyanya jangan sampai melewatkan membaca karya sastrawan besar seperti Ibnu Zaidun. Keindahan puisi-puisinya merupakan ekspresi rasa cintanya kepada sosok perempuan berperawakan cantik, cerdas dan anggun yaitu Wallada putri penguasa terakhir dinasti Bani Umawiyyah, Muhammad bin Abdurrahman yang bergelar al Mustakfi Billah sekitar abad XI masehi.

Wallada, perempuan cerdas terhormat merasa bangga dengan segala hal kemulayaan yang dimilikinya. Ia menjadi tokoh perempuan yang banyak menarik perhatian, pernah menolak memakai kerudung ditempat ramai sehingga menjadi gunjingan para ulama fikih saat itu. Ia memakai gaun bersulamkan bait-bait puisi yang ia buat sendiri. Dibagian kiri tertulis:


أنا والله أصلح للمعالي
وأمشي مشيتي وأتيه تيها

Demi Allah, Aku pantas berpangkat tinggi
Kulalui hidup ini dengan bangga


Sedangkan bagian kanan:


أمكن عاشقي من صحن خذي
وأعطي قبلتي من يشتهيها

Cubit pipiku wahai kekasihku.
Ciumku untukmu wahai kekasih tercinta.

Wallada, pemilik bola mata biru yang sangat indah sering mendatangkan para pujangga dan seniman beken dari seantero kota Cordova dalam perhelatan seni di kedai sastra miliknya, termasuk Ibnu Zaidun. Sejak pertama kali bertemu, ia sudah terpesona disamping kecantikan dan keanggunan paras wajahnya, namun senandung merdu dan keindahan syair yang dinyanyikannya.

Benih-benih cinta itu terus bersemayam dalam hati, hingga memuncah saat pertemuan terindah bersama Wallada di taman bunga (madinah al Zahra) Cordova. Sejak itu, ia semakin terkenal kepiawaiannya sebagai sastrawan ternama.

Namun kisah cinta mereka sangat rumit dan penuh intrik. Hal ini, kita temukan dalam beberapa bait puisi bernuansa kecemburuan, keinginan, kerinduan dan akhirnya kandas karena ada pihak ketiga. Seperti dalam puisi an nuniyyah Ibnu Zaidun yang ia tulis untuk Wallada.


أضحى التنائي بديلا من تدانينا
وناب عن طيب لقيانا تجافينا

Kedekatan kita kini telah berubah menjadi perpisahan.
Indahnya pertemuan kita kini telah berganti menjadi perpisahan.


Begitu pula Wallada membalas Ibnu Zaidun dengan bait puisi kerinduan.


ترقب إذا جن الظلام زيارتي
فإني رأيت الليل أكتم للسر

وبي منك ما لو كان بالشمس لم تلح
وبالبدر لم يطلع وبالنجم لم يسر

Bila malam tiba menunggu kedatanganku.
Karena kutahu, malam adalah penyimpan rahasia terpercaya.


Alangkah manisnya rasa cinta ini andai bintang ikut merasakan, matahari takkan bersinar lagi.
Bulan dan benda angkasa apapun takkan pernah kuasa mengarungi langit malam.


Ibnu Zaidun juga menulis bait puisi disaat merindukan kisah pertemuannya dengan Wallada di taman bunga.


إني ذكرتك بالزهراء مشتاقا
والأفق طلق ووجه الأرض قد راقا

Aku merindukanmu disaat bunga-bunga bermekaran.
Disaat ufuk terang dan wajah bumi memikat.


Untuk mengetahui seluruh bait puisi ini, silahkan bisa lihat video dengan mengunjungi Channel YouTube pada link dibawah ini.
https://youtu.be/l7Z6HzHj4Po
(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here