Maulid Nabi, Membaca Sejarah Nabi Lewat Kitab Barzanji (2)

0
126

KHASKEMPEK.COM – Al-Barzanji adalah kitab karangan Syekh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji. Beliau lahir di Madinah tahun 1690 M, dan wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama suatu daerah di Kurdikistan Barzinj. Sebenarnya, kitab tersebut berjudul ‘Iqd al-jawahir (kalung permata), tapi kemudian lebih terkenal dengan sebutan al-barzanji.

Kitab tersebut, menceritakan tentang sejarah Nabi Muhammad yang mencakup silsilahnya, perjalanan hidup semasa kecil, remaja, menginjak dewasa hingga diangkat menjadi Rasul. Selain itu, juga menyebutkan sifat-sifat Rasul, keistimewaan-keistimewaan dan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan teladan bagi umat manusia.

Dijelaskan dalam kitab barzanji, ketika Nabi Muhammad Saw genap berusia dua puluh lima tahun, maka Beliau pergi berdagang ke negeri Syam, untuk memperdagangkan dagangan Siti Khadijah. Berikut ini teks dan terjemahnya:


وَ لَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ خَمْسًا وَ عِشْرِيْنَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِيْ تِجَارَةٍ لِخَدِيْجَةَ الْفَتِيَّةِ


Ketika Beliau Saw genap berusia dua puluh lima tahun, maka Beliau pergi berdagang ke negeri Syām, untuk memperdagangkan dagangan Khadījah.

وَ مَعَهُ غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدُمُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ وَ يَقُوْمُ بِمَا عَنَاهُ

Beliau disertai pembantu Siti Khadījah yang bernama Maisarah untuk membantu pekerjaannya selama dalam perjalanan dan selama berada di negeri Syām.

فَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةِ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَ رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةِ

Di tengah perjalanan, Beliau berhenti untuk beristirahat di bawah kayu dekat rumah tempat peribadatan seorang pendeta bernama Nasthūr.

فَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَ آوَاهُ

Maka pendeta itu segera dapat mengetahuinya, di kala bayang-bayang pohon itu memanjang dan melebar menaungi beliau dari teriknya panas matahari.

وَ قَالَ مَا نَزَلَ تَحْتَ هذِهِ الشَّجَرَةِ قَطُّ إِلَّا نَبِيٌّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةٍ

Pendeta itu berkata: “Tiada seorang jua pun yang berhenti di bawah pohon ini, melainkan nabi yang mempunyai sifat-sifat yang suci.”

وَ رَسُوْلٌ قَدْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَ حَبَاهُ

Dan Rasūl yang diistimewakan dan diberi anugerah dengan sifat-sifat utama.

ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ أَفِيْ عَيْنَيْهِ حُمْرَةٌ اِسْتَظْهَارًا لِلْعَلَامَةِ الْخَفِيَّةِ

Pendeta bertanya kepada Maisarah: “Adakah pada dua matanya terdapat tanda kemerah-merahan?”

فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَ تَوَخَّاهُ

Maisarah menjawab: “Betul, ada.” Maka sang pendeta meyakini dugaannya itu, lalu ia pun menjalin persaudaraan dengan nabi.

ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ لَا تُفَارِقْهُ وَ كُنْ مَعَهُ بِصِدْقِ عَزْمٍ وَ حُسْنٍ طَوِيَّةٍ

Dan Sang Pendeta berpesan kepada Maisarah: “Orang ini janganlah anda tinggalkan seorang saja, dampingilah dia dengan tujuan hati yang benar dan sebaik perlindungan.

فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ وَاجْتَبَاهُ

Karena sesungguhnya dia termasuk dari golongan orang yang dimuliakan Allah ta‘ālā dengan sifat kenabian dan dipilih-Nya menjadi nabi.”

ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيْجَةُ مُقْبِلًا وَ هِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِيْ عِلِّيَّةٍ

Kemudian dia kembali ke Makkah, ketika itu Khadījah ditemani oleh beberapa inangnya melihatnya dari atas rumah.

وَ مَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيْفِ مِنْ وَهَجِ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلَّاهُ

Sedangkan dua malaikat menaungi (memayungi) kepalanya dari teriknya panas matahari.

وَ أَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ بِأَنَّهُ رَأَى ذلِكَ فِي السَّفَرِ كُلَّهُ وَ بِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَ أَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةِ

Akhirnya Maisarah melaporkan seluruhnya kepada Khadījah tentang peristiwa yang terjadi selama dalam perjalanan, dan melaporkan wasiat yang telah disampaikan oleh pendeta Nasthūr itu.

وَ ضَاعَفَ اللهُ فِيْ تِلْكَ التِّجَارَةِ رِبْحَهَا وَ نَمَّاهُ

Dan ternyata harta yang diperdagangkan Beliau Saw itu dilipatkan oleh Allah dalam keuntungannya.

فَبَانَ لِخَدِيْجَةَ بِمَا رَأَتْ وَ مَا سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةِ

Berdasarkan apa yang disaksikannya sendiri, dan apa yang telah didengarnya dari Maisarah, maka mengertilah Khadījah, bahwa sesungguhnya Beliau adalah Pesuruh Allah (Rasūlullāh) untuk seluruh makhluk.

الَّذِيْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ وَاصْطَفَاهُ

Yang telah diistimewakan oleh Allah ta‘ālā dan dipilihnya.

فَخَطَبَتْهُ لِنَفْسِهَا لِتَشُمَّ مِنَ الْإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهُ

Kemudian Khadījah melamarkan dirinya, dengan maksud agar ia dapat merasakan bau iman dan kesegarannya.

فَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ هذِهِ الْبَرَّةُ النَّقِيَّةُ

Maka Beliau Saw memberitahukan maksud Khadījah itu kepada paman-pamannya untuk dimintai pertimbangan.

فَرَغِبُوْا فِيْهَا لِفَضْلٍ وَ دِيْنٍ وَ جَمَالٍ وَ مَالٍ وَ حَسَبٍ وَ نَسَبٍ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ يَهْوَاهُ

Mereka juga ikut menyetujuinya, karena keutamaannya, agamanya, kecantikannya, hartanya, dan nasabnya. Dan seluruh golongan beliau sendiri juga mendukungnya.

وَ خَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَ أَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللهَ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةٍ

Abū Thālib pada acara pinangan itu berkhutbah memuji Nabi Saw setelah memuja kepada Allah dengan puji-pujian.

وَ قَالَ: هُوَ وَاللهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأ ٌعَظِيْمٌ، يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهُ

Abū Thālib berkata: “Demi Allah, Dia mengemban urusan yang besar yang akan terpuji kesudahannya.”

فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَبُوْهَا، وَ قِيْلَ: عَمُّهَا، وَ قِيْلَ: أَخُوْهَا لِسَابِقِ سَعَادَتِهَا الْأَزَلِيَّةِ

Lalu Khadījah dinikahkan oleh ayahnya sendiri, dan ada yang mengatakan pamannya, dan ada yang mengatakan saudaranya. Kebahagiaan Khadījah yang semacam ini karena memang sudah didahului ketentuannya pada zaman azali.

وَ أَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلَادِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إلَّا الَّذِيْ بِاسْمِ الْخَلِيْلِ سَمَّاهُ.

Dari perkawinan itu, Beliau Saw memperoleh anak yang cukup banyak, kesemuanya beribukan Khadījah, kecuali seorang anak yang bernama Ibrāhīm. (Adapun Ibrāhīm adalah beribukan Mariyah, seorang istri Rasūlullāh Saw berasal dari Mesir).

Demikian, semoga dengan membaca kisah Nabi Muhammad Saw, kecintaan kita kepada beliau semakin bertambah dan semoga kita akan mendapatkan syafaatnya di hari akhir. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here