Kuncine Santri Manut Kiai

0
105

KHASKEMPEK.COM – Paramadina merupakan kampus impian saya dulu waktu masih di pesantren. Sayangnya saat lulus sekolah Aliyah, di pondok saya belum tamat kelas Alfiyah.

Saat teman-teman sekalas di Aliyah memutuskan untuk boyong dari pesantren dan melanjutkan kuliah, saya sendiri ketika sowan minta izin boyong ke almarhum Abuya KH. Ja’far Sodiq Aqil Siradj tidak di izinkan. Saya masih ingat betul pesan almarhum, saat itu beliau berpesan:

“Lanjutaken dipit ngaji Alfiyahe karo isun, kuliah mah gampang kapan bae bisa, tapi nutugaken ngaji Alfiyah iku angel, ngaji Alfiyah dudu mung sebatas ngaji tok, tapi ngalap berkah juga. nuruta karo isun, insya Allah, engko digampangaken dalane.”

Mendengar pesan tersebut, saat itu pikiran saya campur aduk, ada rasa ingin memberontak karena merasa tidak adil. Disaat temen-temen yang lain diizinkan boyong dan bisa bebas mengejar keinginan mereka untuk melanjutkan kuliah, saya sendiri tidak mendapatkan izin sama sekali.

Lebih sakitnya lagi saat itu, salah satu teman dekat saya justru di terima, dapat beasiswa di kampus Paramadina. Di usia labil itu sayapun makin dilema antara ambisi dan manut kiai. Saat itu rasanya tidak logis kalo tidak langsung masuk kuliah, karena syarat beasiswa yang akan saya ikuti adalah lulusan tahun itu juga, jika berhenti satu tahun saya tidak akan bisa mengikuti program beasiswa itu lagi.

Untuk mengobati rasa kecewa, akhirnya saya disuruh kuliah di kampus Unswagati Cirebon agar bisa tetap melanjutkan kelas Alfiyah sambil kuliah, tapi hanya bertahan beberapa minggu saja, saya memutuskan untuk keluar karena itu bukan kampus yang saya inginkan dan akhirnya dengan berat hati saya berhenti satu tahun untuk fokus menyelesaikan kelas Alfiyah, saat itu saya hanya mencoba ikhlas dan manut apa kata kiai.

Sembilan tahun berlalu, hari ini saya cukup terkejut karena diumur yang belum layak ini saya diberi kesempatan untuk menjadi dosen di kampus yang dulu saya impikan. Padahal dulu almarhum Abuya KH. Ja’far Shodiq Aqil Siradj tidak tahu kampus mana yang saya inginkan, tetapi hari ini ucapan beliau terbukti bahkan melampaui ekspektasi saya yang dulu cuma ingin kuliah di kampus ini, malah menjadi dosen.

Saya tidak tahu akan seperti apa jika dulu saya tidak manut sama beliau. Pesan saya untuk adik-adik yang masih mondok, nurutlah sama kiaimu karena kuncine santri iku manut Kiai.

Untuk Almaghfurlah Abuya KH. Ja’far Shodiq Aqil Siradj, Al Fatihah…

(KHASMedia)

Baca juga: Kang Hamdan: Kiai Ulet nan Teliti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here