Arus Baru Konsolidasi Alumni Pesantren

0
87

‘Allimu awlaadakum fainnahum saya’iisyu fi zamanihim ghaira zamaanikum. Fainnahum khalaqa lizamaanihim wa nahnu khalaqnaa lizamaanina.

Dengan perasaan penuh bersalah, penulis menerobos gerbang dan langsung menyelinap ke kantor pengurus pusat Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat, tepat pukul dua dini hari. Hingga subuh, pada 28 September 2019 itu, sepasang mata ini tak juga bisa dipejamkan. Galau.

Kelahiran rasa salah itu, bukan tanpa sebab. Kegelisahan menyemburat lantaran tak seperti biasa-biasanya, pagelaran haul masyayikh yang menjadi agenda penting tahunan -terlebih bagi alumnus- hanya bisa penulis hadiri di hari puncaknya saja. Terlebih, tanpa bisa bersumbangsih apa-apa.


Pagi harinya, salah satu putra almarhum Buya Ja’far Aqil Siroj, Kang Ahmad Nahdi bercerita, memang ada sedikit pergeseran perihal tradisi silaturahmi, kumpul-kumpul, juga sowan. Sebagian alumni, katanya, banyak yang lebih mengagendakan berkunjung ke pesantren pasca lebaran. Sudah barang tentu, sekalian mengisi liburan.

Kang Nahdi, juga menyinggung riwayat spanduk yang memuat dawuh Mbah Yai Aqil Siroj ihwal etika mesantren. Peringatan berbunyi “Tata kramane wong mondok iku, mangkat katon batuke, balik katon jitoke. Etika mesantren itu, datang silaturahmi, dan pulang berpamitan kepada kiai” itu sengaja ditampakkan besar-besar demi menjaga kultur pesantren tetap langgeng dan terpelihara.


Pasalnya, tak sedikit juga, orang tua wali yang keluar masuk gerbang pondok semata menjenguk anaknya, tanpa melengkapi diri bertamu ke ndalem kiai maupun menemui ustaz untuk sekadar menanyakan perkembangan pendidikan yang dijalani buah hatinya.

Penulis bersepakat, inilah sebabak pergeseran nilai yang tengah terjadi. Meskipun dengan kebesaran Pesantren KHAS Kempek, fenomena yang menggeliat itu -barangkali- cuma berkisar nol koma sekian persennya saja.

Pergeseran tradisi organisasi

Pergeseran nilai, juga sebenarnya dirasakan penulis setelah menggenapi masa bakti menjadi pembantu kiai dan pesantren melalui amanat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan KHAS) periode 2016-2019. Jika boleh berargumen selain berkutat pada kesan kekurang-cakapan alias gagal dalam menjalankan tugas, faktor lainnya adalah munculnya kebutuhan mensiasati pola dan tren baru dalam kerja-kerja konsolidasi organisasi.


Penulis pernah berdiskusi dengan kawan peneliti yang fokus pada isu lintas generasi dari Komunitas Wargamuda, Wildanshah. Ia bilang, memang di setiap masa ada saja pola komunikasi dan semangat organisasi yang berubah, lantas berbeda. Benar, selaras dengan konteks sosial-politik yang menempa masing-masing individu sejak lahir, hingga dewasa.

Ambil misal, jika dibelah serampangan, lintas generasi yang dimaksud antara lain era baby boomers, X, Y, dan generasi z. Tak hanya soal pola komunikasi, obyek kegandrungannya pun berbeda.


Ikon generasi baby boomers, misalnya, direpresentasikan sosok Adam Malik, Soeharto, dan Habibie. Mereka adalah sosok remaja pada masanya menghadapi tantangan zaman berupa ketidakstabilan politik-ekonomi, mempertahankan NKRI, menangkal masuknya ideologi asing, dan melestarikan kebudayaan nasional. Maka, wajar, jika generasi muda era ini lebih banyak terlibat di partai politik. Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, NU, Partai Murba, Partai Indonesia, dan lainnya.

Era berikutnya adalah generasi X. Sampel yang dianggap mewakili masa ini di antaranya Iwan Fals, Rano Karno, Budiman Sujatmiko, dan Warkop DKI. Mereka adalah sosok anak muda yang menghadapi keterbatasan ruang berekspresi, maraknya kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), dan menguatnya individualisme. Mereka yang muda dan merasa resah, maka membangun organisasi gerakan dengan semangat perlawanan dinilai sebagai solusi.

Maka, naiklah minat dan keterlibatan generasi X dalam organisasi gerakan sosial. Sebut saja, massifnya keanggotaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Forum Kota (Forkot), Forum Besar (Forbes) hingga Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Berbeda lagi dengan gaya generasi Y atau yang lazim disebut milenial, yakni orang-orang yang lahir kurun waktu 1980-1995. Generasi Y hidup dan berkembang di era komputer yang sudah bisa diakses dari rumah, di sekolah, maupun di warung internet. Generasi Y hidup dalam fasilitas teknologi komputerisasi yang memudahkan seorang remaja mendapatkan informasi secara cepat.

Dengan demikian, secara alamiah, penguasaan dan pengetahuan dasar pengetahuan dan teknologi sudah menjadi karakter generasi milenial.
Soal kegandrungan berorganisasi, beda pula. Lantaran perkembangannya diwarnai dengan isu-isu kecanduan dan distrupsi teknologi, praktik korupsi oknum politisi, serangan kebudayaan asing, maraknya hoaks, politisasi isu SARA, dan menguatnya paham radikalisme agama, alhasil mereka lebih berkembang menjadi remaja yang sensitif, inklusif, kreatif, sekaligus produktif.

Ikon generasi Y bisa direpresentasikan ketokohan Raditya Dika, Nicholas Saputra, Sherina Munaf, dan Agnes Monica. Dari sampel tersebut, generasi Y lebih banyak menyalurkan minat untuk mengikuti forum-forum ketimbang organisasi mapan seperti generasi pendahulunya. Mereka, lebih memilih menyukai kekegiatan-kegiatan seperti Indonesia Youth Conference (IYC), Young On Top, Sinergi Muda, Forum Indonesia Muda, Parlemen Muda, dan forum anak muda lainnya.

Terakhir, generasi Z atau yang sering disebut generasi post-millenial atau information Generation (iGeneration). Mereka adalah remaja yang lahir diawal 1995 sampai tahun 2000-an.

Sejak bayi, generasi Z terbiasa dengan manfaat teknologi. Smartphone sudah menggantikan mainan tradisional, kehadiran ponsel pintar sama pentingnya dengan kehadiran orang tua mereka sendiri.

Lahir di era teknologi yang terus-menerus berkembang menjadikan generasi Z mudah beradaptasi. Dengan kemampuan itu, mereka cenderung memiliki wawasan luas, ambisius dalam berkarier, dan kecenderungan berpikir instan.

Ihwal tren berorganisasi, generasi Z sudah barang tentu memiliki banyak teman di media sosial, namun kikuk saat harus berinteraksi langsung di dunia nyata.

Perkaranya, Ikhwan KHAS adalah organisasi yang wajib mengorkestrasi lintas generasi. Paling tidak, dua generasi terakhir, yang jika boleh jujur, pertanyaan mana “Hidup mengabdi sembari menuju mapan, atau hidup mapan dulu baru mengabdi” akan membuka debat berkelindan seperti urusan duluan ayam atau telur?

Orkestrasi = kompromi + adopsi

Tentu, rumus umum dalam melakukan kompromi demi terciptanya kemaslahatan adalah al muhafadhah ‘alal qadim al shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Memelihara yang lama yang masih baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.

Belum lagi, jika diperkenankan melirik saran modifikasi yang ditawarkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2015-2019 KH Ma’ruf Amin, yakni dengan menambahkan kalimat wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Kemaslahatan itu, kata beliau, justru mesti selalu ditinjau ulang. Sebab, boleh jadi sesuatu dipandang kebaikan hari ini, dua tiga tahun ke depan sudah dianggap tidak maslahat. Karena itu, penelusuran demi ditemukannya puncak kemaslahatan perlu dilakukan melalui kerja akademik berupa percobaan-percobaan.

Pun Ikhwan KHAS, beberapa kali mencoba metode keorganisasian klasik. Bahkan, kelahirannya bersumber dari musyawarah besar yang melibatkan masyayikh, ustaz, dan banyak alumnus. Begitu pula, dengan hal-hal yang baru. Misalnya, semangat kemunculan organisasi alumni berbasis regional tidak ditanggapi Ikhwan KHAS dengan sentralisasi struktural.

Contoh terangnya, penulis berkali-kali menyarankan kepada Ketua Ikhwan KHAS Jakarta Raya, Kang Akmad Fauzi, bahwa apa yang yang dilakukan teman-teman di ibu kota bukan berarti secara garis struktural berada di bawah organisasi Ikhwan KHAS mandataris Mubes 2016. Semuanya sejajar, seperti juga yang dilakukan Ikhwan KHAS Bandung Raya, Ikhwan KHAS Mesir, dan Ikhwan KHAS Maroko.

Dalam hal ini, Ikhwan Khas (tanpa embel-embel regional) cuma bertugas sebagai forum pengantar aspirasi alumni terhadap pesantren, juga penyampai titah kiai kepada para alumni.

Selebihnya, kompromi, adopsi, dan orkestrasi, bukan perkara mudah. Di mana-mana, periode pertama kepengurusan memang harus lebih rela diklaim kurang. Sebab, membangun pondasi yang kuat memang harus lebih banyak memakan waktu dan energi ketimbang tahap pengecatan pagar.

Meski begitu, dari sekian banyaknya pergeseran yang tengah terjadi dan bisa dikompromikan, ada satu yang tak boleh ditawar. Organisasi alumni tetap wajib menjadi tempat pengabdian kepada kiai, masyayikh, dan pesantren sebagai sumber keberkahan.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS (Ikhwan KHAS) Kempek Cirebon.

(KHASMedia)

Baca juga: Membenahi Algoritma Dakwah Nahdliyin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here