Syekh Fadhil al-Jailani dan Awal Pertemuan dengan Kiai Musthofa Aqil

0
760

KHASKEMPEK.COM – Syekh Sayyid Prof Dr Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani merupakan cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang ke-25. Beliau dilahirkan pada tahun 1954 di desa Jimzarok provinsi Qurtalan Timur dan saat ini, beliau tinggal di Istambul, ibu kota Turki. Beliau diasuh oleh kakeknya Assayid Assyarif al-Quthb al-Kamil Syekh Muhammad Sidiq al-Jailani al-Hasani, dan ayahandanya Assayid Assyarif Allamah Syekh Muhammad Faiq al-Jailani al-Hasani.

Saat Syekh Fadhil berusia 2 tahun, beliau dibawa oleh kakeknya ke sebuah desa yang bernama Tilan yang terkenal dengan para ulama-ulama dan pembesar sadah Jailaniah. Di sana, beliau diasuh oleh kakeknya sampai usia 13 tahun. Beliau pernah dikirim ke kota Madinah al-Munawwaroh oleh kakeknya. Setelah itu, beliau kembali ke kota Jimzarok. Di kota kelahirannya, pada tahun 1978, beliau memulai penilitiannya tentang karya-karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani dan beliau juga meneliti ke beberapa kota-kota di negara lain.

Menurut penuturan Kiai Musthofa Aqil dalam ceramahnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang merupakan kakek Syekh Fadhil itu sangat terkenal dan mempunyai banyak pengikut di Indonesia. Oleh karena itu, nama beliau yaitu Sulthonul Aulia Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah biasa dijadikan tawassul. “Di mana tempat ada ila hadroti, ila arwahi, mesti ada Sulthonul Aulia,” kata Kiai Musthofa.

Kiai Musthofa melanjutkan ceritanya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani cucunya banyak, ribuan. Ada di Makkah, Madinah, Syiriah dan tempat yang lainnya. Salah satunya cucu keturunan yang ke-25 yaitu Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani yang lahir di Turki. Beliau sekolah madrasah di Mesir sampai mencapai doktor dalam bidang Bahasa Arab. Beliau adalah orang yang bersih. Sampai umur 70 tahun, beliau tidak pernah melihat acara televisi.

Syekh Fadhil ketemu dengan kakeknya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani lewat mimpi, dalam keadaan antara tidur dan terjaga. Kemudian Syekh Abdul Qadir dawuh kepada beliau, “Selamatkan kitab saya”. Berulang kali, sampai lebih dari sepuluh kali. “Selamatkan kitab saya,” tutur Kiai Musthofa.

Setelah sekian kali, akhirnya Syaikh Fadhil mempunyai satu semangat untuk menyelamatkan kitab Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Kemudian beliau permisi kepada keluarganya untuk diikhlaskan. Sampai beliau:

“Waqaftu jasadi, wa ruuhi, wa ilmi, wa maali li ajli kitabi syaikh.”

“Saya mewakafkan diri saya, umur saya, ilmu saya dan harta saya untuk menyelamatkan kitab Syekh Abdul Qadir al-Jailani,” terang Kiai Musthofa.

Lantas beliau melalang buana untuk mencari kitab tersebut, mengunjungi lebih dari 50 negara di dunia. Beliau mendatangi perpustakaan-perpustakaan besar dunia untuk mencari tulisan-tulisan dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Ternyata ditemukan 114 judul kitab dalam 13 fan. Dari nahwu, shorof, badi’, balaghoh, fikih, ushul fikih, hadis, tafsir dan lainnya. Bahkan ada satu kitab yang menerangkan tentang kimia. “Artinya, selain beliau seorang wali, beliau juga orang yang alim dalam masalah agama dan ilmu pengetahuan umum,” puji Kiai Musthofa.

Akhirnya, kitab-kitab Syekh Abdul Qadir al-Jailani ditemukan diperpustakaan dunia, seperti India dan Jakarta. Di Jakarta, ditemukan manuskrip kitab Al-Kunya. Kitab-kitab yang berhasil ditemukan tersebut berjumlah 114 judul dan yang berhasil dicetak baru 48 judul. Bahkan, yang paling mengesankan adalah ketika beliau menemukan kitab Tafsir yang berjumlah 6 jilid. Namanya Tafsir al-Jailani di perpustakaan kuno di Vatikan Itali.


Pertemuan Syekh Fadhil al-Jailani dengan Kiai Musthofa Aqil

Dalam hal ini, Kiai Musthofa pernah bercerita bahwa beliau punya santri namanya Ustadz Rohimudin dari Bekasi yang masih keturunan Banten. Ia belajar di Mesir. Kemudian kenal dengan Syekh Fadhil dan berkhidmah kepada beliau. Suatu hari, Syekh akan mencari manuskrip kitab dan mengajak ustadz Rohim. Beliau bertanya pada ustadz Rohim, “Guru kamu siapa? Ustadz Rohim menjawab, “Saya punya guru banyak, diantaranya Kiai Musthofa Aqil,” tutur Kang Muh.

Kemudian, Syekh diajak oleh Ustadz Rohim untuk berkunjung ke rumah Kiai Musthofa Aqil di Pesantren Kempek Cirebon. Menurut Kiai Musthofa, mungkin Syekh mengira Kiai Musthofa itu orangnya tua, besar dan tinggi. Tapi ternyata masih muda. Kemudian ustadz Rohim matur, “Kang Musthofa, Syekh Fadhil cucunya Syekh Abdul Qadir al-Jailani akan kesini. Alhamdulillah,” kata Kiai Musthofa.

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya pagi hari Jumat, Syekh Fadhil dengan Ustadz Rohim datang ke Kempek. Kemudian diadakan pertemuan yang dihadiri sekitar 400 kiai, bertempat di sebuah gudang yang dibuat menjadi ruang pertemuan dan di depan gudang merupakan tanah milik orang lain. Dalam pertemuan itu, Kiai Musthofa diberi kitab Tafsir oleh Syekh Fadhil.

Ketika selesai dari pertemuan, Kiai Musthofa matur kepada Syekh, “Ya Syekh berdoalah kepada Allah supaya tanah ini menjadi pondok pesantren.” Kemudian Syekh tersenyum. Kiai Musthofa paham isyarat tersebut, bahwa mana mungkin tanah milik orang lain mau dijadikan pondok. Kemudian Syekh mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Pada saat itu, sekitar jam 4 sore, ternyata Syekh Fadhil minta menginap di Kempek padahal tidak ada di jadwal.

Akhirnya, atas berkah doa Syekh Fadhil, hajat Kiai Musthofa Aqil terkabul. Setengah tahun kemudian, gudang itu dibangun aula al-Ghadier dan dimulai pembebasan tanah tersebut. Sehingga sekarang area ini telah menjadi Pondok Pesantren sebagai tempat santri mengaji. Wallahu A’lam.

Kabar gembira bagi kita semua bahwa Syekh Fadhil al-Jailani akan kembali berkunjung ke Kiai Musthofa Aqil di Pesantren Kempek pada tanggal 19 Desember 2019. Semoga kita semua bisa menghadiri acara dzikir bersama untuk mendapatkan ilmu dan barokah Syekh Fadhil dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Amin…(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here