Nusantara dalam Catatan Pelancong Arab

1
146

KHASKEMPEK.COM – Dalam literatur Arab klasik, sering kita jumpai istilah Bilad al Syarq al Aqsha (negeri timur nun jauh). Istilah ini, biasa digunakan oleh orang Arab dan Eropa untuk penyebutan negeri-negeri yang berada di bagian timur jauh dari Jazirah Arab seperti Cina, India, Nusantara dan sekitarnya. Memang sedari dahulu bangsa Arab cukup banyak memiliki informasi tentang geografi, kekayaan alam, agama, dan budaya masyarakat timur jauh.

Hal itu, dapat kita telusuri sejak pra Islam, mereka sudah melakukan kontak langsung dengan masyarakat timur jauh, baik di lautan maupun daratan melalui jaringan perdagangan, pertukaran budaya, atau kegiatan traveling.

Dari dulu orang Arab, terutama yang tinggal di perbatasan selatan Jazirah Arab seperti Hadramaut, ‘Aden dan kepulauan Socotra di Yaman memiliki peran mediator perdagangan antara negeri-negeri semenanjung Mediterania dan wilayah timur jauh. Bahkan, sampai pada masa penguasaan Yunani, Romawi terhadap Mesir dan beberapa wilayah di bagian timur Arab.

Mereka mendatangkan barang-barang dari negri timur jauh seperti batu-batu mulia, rempah-rempah dan kain muslin (kain katun dengan tenunan polos) untuk ditukar dengan barang-barang Mesir. Semua itu, mereka dapatkan langsung dari India dan sekitarnya atau melalui para pedagang India di pelabuhan teluk ‘Aden. Berkat perdagangan dan kontak langsung ini, bangsa Arab membangun peradaban cemerlang yang berpusat di kota Saba.

Pengetahuan mereka yang berlangsung cukup lama tentang negeri timur jauh, banyak direkam dalam catatan-catatan karya sastra, filsafat, sejarah, dan geografi terutama pada masa kodifikasi ilmu pengetahuan. literasi Arab tentang dunia timur jauh, memang sangat beragam, namun studi catatan para pelancong dan kajian geografi memiliki peran sentral dalam memperkenalkan dunia timur jauh.

Diantara tokoh studi penulis perjalanan dan pakar geografi pada abad ke-10, pertama; Abu Ishaq al Istakhri (w. 951 M). Nama beliau meskipun tidak sefamilier Ibnu Batutah pada abad ke-14, namun banyak menulis catatan berharga dengan bahasa Arab dalam kitab al Masalik wa al Mamalik dan Shuwar al Aqalim tentang wilayah-wilayah yang ia kunjungi selama era Abbasiyah di zaman keemasan Islam.

Kedua; Ibnu Hawqal (w. 977 M), selama tiga puluh tahun hidupnya dihabiskan untuk perjalanan keliling dunia dan berhasil menulis ulang kitab al Masalik wa al Mamalik-nya al Istakhri secara detail dan teliti.

Ketiga; Al Maqdisi (w. 997 M) dengan karya Ahsan al Taqasim fi Ma’rifah al Aqalim. Keempat ; Al Mas’udi ( w. 955 M ) penulis kitab Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jauhar.

Ciganjur, 18/09/2020
bersambung …..

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here