Buya Ja’far dan Falsafah Dhomir “Na”

0
154

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا صَلَحْ ۝ كَأَعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْـمِنَحْ

Di kalangan anak pesantren, penggalan bait di atas sudah tidak asing lagi. Pasalnya, tiap hari bait tersebut selalu dilantunkan dan dimurojaah agar senantiasa tetap terekam dalam memori hafalannya.

Ya, Penggalan bait tadi adalah salah satu dari seribu bait kitab Alfiyah Ibnu Malik. Bait tersebut menjelaskan dhomir “na” tetap dibaca apa adanya, tanpa adanya perubahan bentuk. Meskipun dalam keadaan rofa’, nashob ataupun jar.

Dhomir “na” tidak sama dengan beberapa dhomir lainnya, yang harus menggunakan bentuk berbeda ketika keadaan rofa’, nashob dan jar. Ia tetap konsisten dalam keadaan i’rob rofa’ (نلنا), nashob (اننا), dan jar (بنا).

Ketika penulis masih ngaji alfiyah kepada Buya Ja’far (Allah yarham), beliau mengutarakan bahwa dhomir “na” mengajarkan tentang falsafah kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Yakni, dalam keadaan apapun, santri tetap harus berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai pesantren.

“Tirulah dhomir “na”, tetap istiqomah dalam keadaan apapun, “ujar Buya Ja’far di sela-sela menjelaskan makna bait di atas tersebut.

I’rob rofa’, nashob dan jar adalah unsur pokok dalam i’rob kalimat isim. Karena ketiganya merupakan hal yang menjadi kesepakatan ulama. Maka, ketiga i’rob inilah yang akan menjadi landasan dalam memotret dinamika kehidupan bermasyarakat.

Secara bahasa, rofa’ bermakna luhur. Artinya, rofa’ menggambarkan keadaan seseorang yang memiliki strata sosial tinggi, baik dari sudut pandang jabatan, status sosial atau hartanya. Faktanya, simbol utama i’rob rofa’ adalah dhomah, selalu berada di atas.

Sedangkan nashob artinya tengah-tengah. Tanda utama i’rob nashob adalah harokat fathah, yang menandakan keseimbangan. Dalam hal ini, i’rob nashob disimbolkan sebagai kondisi sesorang yang berada di kasta tengah. Segala kebutuhan hidupnya berkecukupan.

Yang terakhir adalah jar. Secara bahasa, jar bermakna bawah. Sehingga simbol utama i’rob jar adalah kasroh, selalu di bawah. I’rob jar menandakan status sosial paling bawah. Artinya, i’rob jar menggambarkan keadaan seseorang yang sedang mengalami kesusahan dan kesengsaraan.

Sebagaimana i’rob yang selalu berubah, pun demikian dengan dinamika kehidupan. Adakalanya berada di atas, tengah atau bahkan di bawah. Ya, roda kehidupan selalu berputar tak menentu.

Namun sebagai santri, sesusah apapun atau setinggi apapun ilmunya, Ia tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren: andap asor, mandiri, dan berbudi luhur.

Pepatah Jawa mengatakan “Wong Jawa kudu iso Jawani.” Pepatah ini sering diungkapkan orang Jawa untuk mengingatkan generasi muda agar senantiasa menjaga tradisi Jawa. Sebab, seiring perkembangan zaman banyak anak muda yang enggan atau bahkan tidak berperilaku layaknya orang Jawa termasuk tidak bisa berbahasa Jawa.

Di tengah arus globalisasi yang terus berlangsung dengan cepat, harapanya santri senantiasa berpegang teguh pada identitas kesantriannya. Begitulah Buya Ja’far mengajarkan kepada santri-santrinya. Alfatihah. (Khas Media)