Seorang santri Ponpes KHAS Kempek sedang menghafal pelajaran di pematang sawah di waktu pagi hari. (Foto: KHAS Media).

Alfahmu ba’dal hifdzi. Begitulah pepatah Arab yang sering penulis dengar dari senior saat masih nyantri di Pondok Pesantren Kiai Haji Aqil Siraj atau yang lebih dikenal Pesantren Khas (dulu MTM).

Penulis yang saat itu masih santri baru, tidak begitu paham dengan maksud dari pepatah tersebut. Yang terpenting pada waktu itu adalah menghafalkan materi yang ditugaskan pengurus pondok.

Di Pesantren Khas dulu, hampir semua materi yang dibebankan kepada santri baru harus dihafalkan, seperti juz ‘amma, tashrifan, aqidatul awam, doa-doa sholat, dan pelajaran lainnya. Bagi penulis, pelajaran yang diajarkan di pesantren masih asing.

Rasa malas dan frustasi sering penulis alami ketika pertama kali berada di pesantren. Bagaimana tidak frustasi? Penulis yang waktu itu baru lulus SD, masih gemar bermain-main dan belum terbiasa dengan kehidupan di pesantren. Pun demikian, kawan-kawan yang sebaya dengan penulis, merasakan hal yang sama.

Dengan terpaksa, penulis menghafalkan pelajaran yang ditugaskan pengurus pesantren. Meskipun, tidak paham dengan apa yang dihafalkannya. Pokoknya waktu itu, yang penting menghafalkan.

Namun, lambat laun penulis menyadari kenapa waktu pertama kali menjadi santri disuruh menghafalkan pelajaran yang ada. Manfaatnya baru penulis rasakan ketika berada pada tingkatan yang lebih tinggi dalam proses belajar. Materi-materi yang dihafalkan dulu masih terekam jelas hingga sekarang.

Dari situ, penulis berpikir andaikan tidak diwajibkan menghafal pada saat menjadi santri baru, mungkin materi yang diajarkan dulu banyak yang lupa. Alhasil, kewajiban menghafal bagi santri baru merupakan metode pembelajan yang tepat.

Sebab, menghafal di usia masih kecil lebih mudah daripada saat sudah menginjak usia dewasa. Ibaratnya, usia masih kecil belum banyak pikiran dan maksiatnya. Jadi, mudah kalau menghafal dan menyerap pelajaran.

Pepatah lama mengatakan, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah besar bagai melukis diatas air. Hal itu penulis rasakan ketika menginjak umur dewasa, susah menghafal.

Ketika penulis masih studi di perguruan tinggi, punya tanggungan mengahafal empat juz dan seratus hadis untuk syarat agar bisa ikut ujian munaqosah. Susahnya bukan main. Untuk bisa hafal satu juz, butuh waktu satu bulan lebih. Padahal, satu juz tidak terlalu banyak. Kalau tidak disebabkan banyak maksiat, ya karena banyak yang dipikirankan.

Penulis teringat kisah Imam Syafi’i yang mengeluhkan jelaknya hafalan kepada sang guru. Guru Imam Syafi’i menyarankan agar meninggalkan perbuatan maksiat. Karena, ilmu tidak akan merasuk pada orang yang maksiat.

Penulis menyadari bahwa kewajiban menghafal saat masih nyantri sangat berdampak besar untuk masa depan. Dan penulis masih menyakini metode yang diterapkan pesantren, sangat bermanfaat.

(Khas Media)

#khaskempek #khaskempekpost #khaskempekcirebon #khasmedia#khaskempekdotcom