Kiai Ahmad Zaeni: Maulid Nabi Adalah Satu Bentuk Kecintaan Kepada Nabi Muhammad SAW

0
329

KHASKEMPEK.COM, KEMPEK – “Memperingati Maulid Nabi adalah salah satu bentuk kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW,” kata KH Ahmad Zaeni Dahlan dalam tausiyahnya pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofien Putri, Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Sabtu (23/11/2019).

Berkaitan dengan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, Kang Ahmad menjelaskan arti cinta dalam bahasa Arab. “Cinta dalam bahasa Arab berarti hubb, yang akar katanya sama dengan kata habb yang artinya biji,” jelas beliau.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa sebutir biji akan tumbuh menjadi tanaman. “Ketika biji kita pelihara dengan baik, ditanam, diberi pupuk, disirami, dibersihkan dari gulma, disemprot hamanya, maka biji itu akan tumbuh menjadi tanaman yang besar dengan subur sehingga menghasilkan biji-biji yang lain,” tegas beliau.

Kemudian beliau melanjutkan, “begitu juga hubb yang berarti cinta. Ibarat biji, apabila dipelihara dengan baik maka akan menumbuhkan perasaan-perasaan baik yang lain. Jadi kecintaan kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan inti atau pokok yang bisa berkembang perasaan dan sikap yang lain terhadap nabi,” tuturnya.

Menurut beliau, habb juga bisa mempunyai arti tempayan atau wadah yang dipenuhi dengan air. Karena apabila kita mencintai seseorang, dalam hal ini nabi, maka hati kita seperti sebuah tempayan yang apabila diisi dengan air maka tidak bisa diisi dengan air lagi. Artinya apabila kita sudah mencintai seseorang maka tidak ada namanya cinta yang kedua.

“Begitu juga dengan cinta kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Ketika kita mencintai nabi, maka tidak akan ada tempat lagi bagi cinta yang lain,” tuturnya.

Lantas beliau bertanya, Apakah dengan mencintai Kanjeng Nabi Muhammad SAW, lalu cinta-cinta kita terhadap yang lainnya harus disingkirkan? Atau itu semua adalah bagian dari cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW?

Kemudian Kang Ahmad menyebutkan hadits yang berbunyi:


لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”

Jadi, kata beliau, cinta kita kepada orang tua, anak dan orang lain harus diterjemahkan sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW.

Lalu beliau membacakan ayat Alquran yang berbunyi:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”

Beliau menjelaskan, pada ayat tersebut, kata athi’u untuk Allah disebutkan, begitu juga untuk rasul. Sedang untuk ulil amri tidak menyebutkan kata athi’u. “Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada ulil amri adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasulullah,” jelasnya.

Demikian juga cinta kita kepada orang tua, anak, saudara dan orang lain itu menjadi bagian dari cinta kita kepada Rasulullah SAW. (KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here