Mengenal Ahmad Dariyanto, Kaligrafer Internasional Alumni MA KHAS Kempek

0
135

KHASKEMPEK.COM – Pada tahun 2015, MA KHAS Kempek menjuarai perlombaan kaligrafi tingkat nasional yang diadakan di Palembang, Sumatera Selatan. Siswa yang berhasil mengharumkan MA KHAS Kempek di kancah nasional itu bernama Ahmad Darianto, seorang santri kelahiran Buminabung, Lampung, 21 November 1998.

Tak berhenti disitu, setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di Kempek, karir Ahmad Dariyanto dalam dunia kaligrafi semakin melesat. Ia kembali berhasil menjarai beberapa kejuaraan berikut:

– Kategori Favorite ASEAN
– Kategori Favorite Turki Internasional Calligraphy Competition
– 4 Besar Iran International Calligraphy Competition

Salah satu kaligrafi karya Ahmad Dariyanto

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan lewat aplikasi pesan WhatsApp, penulis mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ahmad Dariyanto yang juga tengah bersiap untuk mewakili Indonesia dalam beberapa event antara lain Event Asean, Event Internasional Konya Turki dan Event Internasional UEA (Uni Emirate Arab).

Mulai Kapan Anda Mengenal Dunia Kaligrafi?

Dari Madrasah Ibtidaiyyah tepatnya di Madin Tahfidzul Quran (sekarang menjadi ponpes Al-Amin Nusantara) yang di asuh oleh Abah Ahmad Yasin. Lalu berlanjut ke Lembaga Kaligrafi Alquran LEMKA Sukabumi yg didirikan oleh KH. Didin Sirojuddin Abdurrahman, M.Ag. dan mengambil sanad muttashil khat dari Guru yg berdomisili di Turki yakni Ustadz Shahryansyah Sirajuddin.


Apa yang Membuat Anda Suka dengan Kaligrafi?

Awalnya saya tidak suka kaligrafi, justru cita-cita saya sedari kecil ingin menjadi mubaligh, hanya saja keadaan keluarga yang tidak memperkenankan saya ke pesantren semenjak kecil, akhirnya saya hidup semaunya sendiri.

Pada suatu hari, ibu saya melihat tulisan saya yg berantakan, akhirnya saya disuruh untuk belajar kaligrafi, awalnya saya sangat menolah belajar khot/kaligrafi karena saya tidak suka, tetapi paksaan demi paksaan hingga akhirnya membawa saya jatuh cinta terhadap kaligrafi, mulailah saya ikut kompetisi lokal di daerah sendiri. Dari situ, saya mulai terpacu untuk mengejar prestasi terus menerus hingga akhirnya saya memutuskan untuk serius bergelut di bidang ini.

Ibarat kata “ketika saya sudah tercebur dalam kubangan, saya harus menggali sedalam-dalamnya agar bisa meminum air yang jernih, bukan hanya sekedar mendapat lumpur kubangan.”

Kempek dalam Kacamata Ahmad Dariyanto, Kenangan Apa yang Masih Teringat Perihal Kempek?

Kempek bagi saya sudah seperti rumah tempat saya kembali. Entah persepsi itu timbul dari mana, tapi yang jelas begitulah saya menganggap Kempek dalam hidup saya.

Jika membahas kenangan,  semua yg saya lakukan di Kempek itu menjadi kenangan tersendiri untuk saya, dan hal yg paling saya ingat di hati saya adalah “Kempek telah merubah cara pandang saya dalam menyikapi kehidupan.”

Saya banyak menemukan kehangatan keluarga disana, saya merasa memiliki banyak orang tua disana, saya memiliki banyak sodara disana dan saya merasa memiliki banyak sekali adik-adim disana. Semua terasa seperti keluarga saya sendiri.

Saya memang belum bisa datang ketika diundang Bapa KH. Musthofa Aqiel, atau teman-teman untuk main ke Kempek dalam waktu dekat. Tapi jauh sebelum itu, sebenenrnya hati saya tidak pernah boyong dari pesantren yg telah memberi jutaan warna dihidup saya.

Gerakan Apa Saja yang Pernah Anda Lakukan di Kempek?

Saya adalah pegiat kaligrafi yang sebenernya tidak ingin dikenal sebagai kaligrafer sewaktu di Kempek. Tapi karena teman-teman waktu itu banyak yang meminta untuk pembelajaran khusus, akhirnya kami membuat wadah yang diberi nama Al-Akhtam.

AL-Akhtam sendiri nama yang digadang oleh kang Hari dan kang Refi Sutrisna (sekarang kuliah di Mesir). Alhamdulillah berjalan lumayan lama, tetapi karena beberapa hal, akhirnya kami tidak meneruskan gerakan ini. Tapi sekarang saya juga sudah memegang AQLAM di Lampung, sebuah evolusi dari Al-Akhtam

Motivasi buat Teman-Teman Santri KHAS yang Tengah Mengembangkan Bakatnya

Sebenarnya sederhana. Cukup yakinkan diri, kuatkan tekad dan fokus kembangkan bakatmu. jangan mudah tergoda dengan hal-hal lain yang sepertinya lebih menggiurkan. Karena sejatinya, apapun bidangmu asalkan itu baik, teruskan hingga menjadi ahlinya.

Hidup itu sebentar, berusahalah untuk terus bermanfaat bagi orang lain. karena dunia ini perlu jutaan profesi dengan berbagai profesional dalam bidang tertentu untuk membangun pondasi Islam dimasa modern seperti sekarang.

Ilmu agama adalah kewajiban, tapi bakatmu pula mungkin nanti yang akan mampu memuliakan Islam dan memberi nuansa serta perspektif lain dari estetika keIslaman. Tuangkan terus ide dan kreativitasmu, jadilah nomor satu di bidang yang hatimu tergerak olehnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here