Kiai Said Sampaikan Dua Amanah yang Diberikan Allah Swt Hanya kepada Manusia

0
160

KHASKEMPEK.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, menyampaikan dua amanah penting dari Allah yang diberikan kepada manusia, Hal ini disampaikanya saat mengisi khutbah Sholat Jumat yang diunggah youtub Al Tsaqofah Channel pada 5 November 2020.

Salah satu tokoh muslim berpengaruh di Indonesia ini menjelaskan bahwa manusia telah menerima dua amanah dari Allah Swt. yang sebelumnya ditolak oleh langit, gunung, dan bumi.

“Allah berfirman, dulu menawarkan sebuah kepercayaan, amanah, kepada langit, gunung, bumi. Mereka menolak kepercayaan dari Allah, karena khawatir tidak mampu melaksanakannya,” jelas Kiai Said saat membuka khutbah.

Kiai Said menyebutkan, bahwa meskipun pada dasarnya manusia mempunyai potensi dzolim, menyimpang, lempeng, kurang ajar, serba tidak tahu dan serba bodoh, namun tetap sanggup menerima dua amanah besar yang diberikan oleh Allah. Dua amanat tersebut adalah diniyyah samawiyah muqaddasah dan insaniyah ardhiyah ijtihadiyah.

“Amanat diniyyah samawiyah muqaddasah, amal agama dari langit, yang suci yang mulia. Ilahiyah bersifat Allah, monopoli Allah, namanya amanah diniyyah ilahiyah samawiyah Muqaddasah,” jelas Kiai Said.

Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa amanah tersebut masih terbagi menjadi dua bagian, yaitu aqidah dan syariat. Aqidah terdapat dalam rukun iman, sedangkan syariah terdapat dalam rukun islam. Dalam menjalankannya, Kiai Said berpesan agar manusia dapat beraqidah dan bersyariah shohihah.

“Maka kita mempunyai amanat harus mengamalkan, mendakwahkan, mengajak manusia masyarakat lain agar beraqidah shohihah, syariah yang shohihah. Aqidah yang benar harus kita dalami lalu pelajari ilmul kalam, syariah harus yang benar, harus kita pahami, harus kita baca minimal paling tidak, standar fathul qarib, sudah lumayan standar. Walaupun masih pas-pas an, belum luas,” jelas Kiai Said.

Selanjutnya, Wakil Organisasi Keagamaan Dunia ini menjelaskan amanah yang kedua, yaitu insaniyah ardhiyah ijtihadiyah. “Yang kedua, amanah yang diberikan ke manusia itu bersifat insaniyah ardhiyah ijtihadiyah, bersifat manusia profane, duniawi dan bersifat kreativitas,” tuturnya.

Tsaqafah dan Hadoroh
Menurut Kiai Said, manusia memiliki dua kecerdasan, yaitu tsaqofah dan hadoroh. Tsaqafah adalah upaya membangun kemajuan, peradaban, scientific, cultutre, dan humanity dengan bantuan Allah dan campur tangan manusia. Sedangkan hadoroh adalah upaya membangun kesejahteraan, perdamaian, kehidupan bersama satu sama lain atau sering disebut akhlakul karimah.

“Akhlakul karimah itu, tawadhu’, ikhtirobul walidain, birul walidain, hormati tetangga, hormat tamu, menolong orang yang lagi kesusahan, tengok orang sakit, takziyah orang yang meninggal dunia, menggembirakan orang yang lagi susah. Itu semua anmanya akhlakul karimah,” jelas Kiai Said.

Akhlakul Karimah
Lebih luas, Kiai Said menyampaikan bahwa akhlakul karimah berarti bergaul yang baik, berinteraksi, bermuamalah bersama-sama, membangun kebersamaan, membangun masyarakat, membangun kehidupan yang ideal, yang martabat yang baik, bergaul dengan keluarga, tetangga, satu daerah dengan daerah lain, negara dengan negara lain.

“Harus membangun kerja sama dengan semua pihak. Pandai-pandai bekerja sama, hubungan kerja, ta’awun dengan siapapun. Nah itu namanya akhlakul karimah”, tuturnya.

Menurut Kiai Said, jika kedua hal di atas dapat tercapai, maka akan tercipta mutamaddin, atau masyarakat yang ideal.

“Kalo dua-duanya berhasil, udah pendidikan berhasil, illmu berhasil, cerdas, dan membaur masyarakat dengan kuat solid kokoh, dua-duanya berhasil, namanya mutamaddin. Jadi, maddinah, mutamaddin, mutamaddun madaniyah madani itu adalah al madinatul fadhilah, masyarakat yang ideal”, jelasnya.

Di akhir, beliau mengajak masyarakat untuk bersyukur karena tinggal di Indonesia. Menurut beliau, meskipun masyarakat Indonesia tidak begitu pandai seperti masyarakat Barat, namun telah berhasil menciptakan masyarakat yang damai dan solid.

“Kita ini alhamdulilah di Indonesia ini, walaupun tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, nggak begitu pinter, ulamanya nggak begitu pinter, tapi berhasil membangun kebersamaan. Kiai-kiai ga begitu pinter, tapi mampu menciptakan masyarakat yang solid, membangun kebersamaan, membangun hadoroh”, jelasnya.

“Martabat sebuah bangsa tergantung akhlaknya. Akhlaknya baik, martabatnya mulia, akhlaknya buruk, martabatnya berengsek”, tambahnya memungkas. (Sumber: Dakwah NU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here