Kajian Kitab Alfiyah Ibnu Malik: Bab كان واخواتها

1
652

KHASKEMPEK.COM – Relasi kebangsaan dengan Pancasila yang merupakan gagasan ideal idiologi Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghasilkan keharmonisan dalam semangat kebhinekaan (berbeda tapi satu). Hal ini sesuai dengan apa yang telah di cita-citakan oleh para pendiri bangsa.

Namun dewasa ini sungguh sangat memprihatinkan, virus-virus bangsa sudah mulai bermunculan, terus menggerogoti keutuhan NKRI, merusak tatanan bangsa yang sudah mapan.

Berbicara tentang virus yang sifatnya merusak, dalam kajian gramatika bahasa Arab pun ada satu virus yang berjuluk Awamil nawasikhul ibtida’ dan pembahasan ini masuk pada salah satu kajian serius dalam bab ilmu nahwu.

Dengan berpegangan pada kitab Alfiyah karya monumental الشيخ الامام ابو عبد الله محمد جمال الدين بن عبد الله بن مالك الاندالسي kami akan mencoba sedikit menguraikan tentang hal itu.

Perlu diketahui bahwa, awamil nawasikh al-ibtida’ yaitu amil-amil yang merusak tatanan pengamalan tarkib mubtada’ khobar, dengan pengamalan yang diusungnya sehingga rusaklah dan hancurlah pengamalan yang pertama.

Hal ini senada dengan bait Alfiyah Ibnu Malik ke143 yang berbunyi:


تَرْفَع كَانَ المُبْتَدَاسْمَا وَالْخَبَرْ# تَنْصِبُهُ كَكَانَ سَيِّدً عُمَرْ

Artinya: كان itu merofa’kan mubtada’ menjadi isimnya dan menasobkan khobar menjadi khobarnya, sepeti lafadz: كان سيدعمر Contoh lain dari pengamalanya كان yaitu QS. al Isro ayat 27, yang berbuyi:


إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Objek pembahasannya yaitu lafadz وكان الشّيطانُ لربّه كفورًا. Lafadz الشيطانُ, ini dirofa’kan karena menjadi isimnya كان alamat rofa’nya yaitu dommah dzohiroh, karena berupa isim mufrod sohihul akhir. Lafadz كَفُوْرًا , ini di nasobkan karena menjadi khobarnya كان, alamat nasobnya yaitu fathah dhohiroh, karena berupa isim mufrod sohihul akhir.

Akhwat-akhwatnya كان itu ada 13. Seperti untaian Syehk Imam Ibnu Malik ke 144 yang berbunyi:


كَكَا نَ ظلَّ بَاتَ اَضْحَ اَصْبَحَ # اَمْسَ وَصَارَ لَيْسَ زَال بَرِحَ
فَتِيْءَ واَنْفَكَ وَهَذِ اْلأَرْبَعَهْ # لِشِبْهِ نَفي اَوْ لِنَفي مُتْبَعَهْ

Bait diatas menjelaskan bahwa akhwat-akhwatnya كان itu ada 13 yaitu lafadz:
ظلّ، بات، اضحى، اصبح، امسى، صار، ليس زال، برح، فتىء، انفكّ، دام. Contoh dari salah satu akhwatnya كان, yaitu Qur’an Surat Ali Imron ayat 103, yang berbunyi:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.

Objek pembahasanya yaitu lafadz فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا Pada lafadz فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ini terdapat lafadz اصبح yang mengamal ترفع الاسم وتنصب الخبر . Dhomir ت pada lafadz صْبَحْتُمْ itu mahal rofa’ karena menjadi isimnya lafadz اصبح. dan Lafadz اخوانًا ini dinasobkan karena menjadi khobarnya اصبح. Alamat nasobnya yaitu fathah dzohiroh karena berupa isim mufrod sohihul akhir.

Menurut Abu Muhammad al-Husayn ibn Mas’ud ibn Muhammad al-Farra’ al-Baghawi (w. 516 H) dalam Tafsir al-Baghawi-nya. Di jelaskan bahwa bersatu dan menjaga kekompakan merupakan perkara yang di tekankan oleh syari’at.

Selain bentuk fiil madinya كان dan akhwatnya, itu juga bisa beramal sebagai mana pengamalan fiil madinya. Maksudnya selain fiil madi yaitu: fiil mudhore‘, masdar, isim fail, fi’il amar itu bisa beramal ترفع الاسم وتنصب الخبر. Hal ini senada dengan bait nadhom Alfiyah ke-147 yang berbunyi:


وَغَيْرُ ماَضٍ مِثْلَهُ قَدْ عَمِلَ # إِنْ كَانَ غَيْرُ الْمَاضِى مِنْهُ اْستُعْمِلَ

Artinya: Selain fiil madi itu sungguh dapat beramal sebagai mana bentuk fiil madi. Jika selain bentuk fiil madinya dapat di berlakukan.

Seperti firman Allah dalam al Quran surat al-Baqoroh ayat ( ١٤٣ ) yang berbunyi:


وَ كَذَالِكَ جَعَلْناَكُمْ اُمَّةًا وَسَطًا لِتَكُوْنُوا شُهَدَأَعَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّ سُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang moderat agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Objek pembahasanya yaitu lafadz ويكون الر سولُ عليكم شهيدًا. Lafadz يكون ini merupakan shighot fi’il mudhori’ dari fiil madhi lafadz كان, yang juga bisa beramal seperti fi’il madinya yaitu ترفع الاسم وتنصب الخبر. Lafadz الر سولُ ini dirofa’kan karena menjadi isimnya lafadz يكون , dan lafadz شَهِيْدًا ini dinasobkan karena menjadi khobarnya lafadz يكون .

Ayat tadi memerintahkan kita untuk menjadi umat yang wasathon. Artinya umat yang moderat, berwibawa, dan mampu berperan di segala bidang. baik itu peran agama, peran peradaban, peran kebudayaan, bahkan peran politik. bukan menjadi islam radikalis, islam teroris, apalagi islam separatis.

Karena dalam al Quran tidak ada terminologi umat islam. artinya al qur’an menekankan kualitas bukan hanya simbol, bukan hanya legal formal tapi lebih subtansi lagi yaitu kualitas keumatan kita.

Ingat…Indonesia akan hancur apabila mayoritas orang yang baik memilih untuk diam, dan terus membiarkan para ekstrem kanan intoleran radikal itu menguasai panggung publik. Sekian dari kami, terima kasih.

*Kajian ini disampaikan oleh Kelompok 8: Masyhadul Hikam, Muhammad Nauval dan Khusoy.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here