Oleh Mamang M. Haerudin*

Tak terasa, berhari, berminggu, berbulan terus berlalu, sejak kemangkatannya pada awal bulan April 2014, ingatan kita pada mendiang masih tergambar jelas. Buya Ja’far, begitu biasa beliau dipanggil, merupakan salah seorang kiai kharismatik dan ‘khas’ pengasuh pesantren Majelis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek-Cirebon yang disegani banyak pihak, benar-benar menyisakan kenangan yang mendalam.

Air mata siapa yang tak tumpah jika salah seorang yang begitu dicintai dan dihormati pulang meninggalkan kita, terutama bagi sanak keluarga terdekatnya. Apalagi Buya Ja’far adalah teladan umat, laku lampahnya menjadi rujukan para santri dan masyarakat, tidaklah mengherankan jika kepulangannya menyisakan duka yang mendalam dan melekat.

Atas hal itu, perkenankanlah saya untuk turut berbagi sekedar untuk mengungkapkan takdim sekaligus menjadi pelipur duka kita semua kepada mendiang. Perlu saya sampaikan, bahwa saya merasa mengenal beliau, meskipun beliau belum tentu mengenal saya. Atas hal itu jugalah, harus jujur saya akui apa yang saya tulis ini mungkin saja terkesan sederhana dan terlampau jauh dari pengalaman hidup Buya Ja’far yang sesungguhnya.

Kekhasan Buya Ja’far

Bagi masyarakat pesantren dan NU, Buya Ja’far adalah pusat teladan; baik ucapan maupunakhlakul karimah-nya. Beliau sendiri mengasuh pesantren Majelis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM), yang masyhur disebut pesantren Kempek. Hingga hari ini jumlah santrinya sudah ribuan, pondok (asrama) dan bangunan-bangunan pendukung lainnya pun berdiri megah dan kokoh. Tak hanya itu, sejumlah alumninya pun bertebaran dan berhasil menjadi ‘orang’ dengan berbagai profesinya. Keberhasilan ini tak lain adalah berkat tangan dingin dan kegigihan Buya Ja’far dalam melestarikan dan memajukan pendidikan pesantren.

Di bawah naungan Yayasan Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS), nama yayasan yang langsung diadaptasi dari nama ayahnya, KH. Aqil Siroj, Buya Ja’far bermetamorfosis menjadi kiai dengan karakter yang khas. Dan inilah yang saya yakini sebagai ke-‘khas’-an tersendiri bagi pesantren Kempek, sehingga ia pun menjadi pesantren paling progresif di wilayah III Cirebon.

Masih hangat dibenak saya dan mungkin kita semua, pada saat September 2012 silam, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar perhelatan akbar Munas Alim Ulama dan Mubes di mana pesantren ‘khas’ Kempek ini menjadi tuan rumahnya. Kang Said—sapaan akrab Dr. KH. Said Aqil Siroj—selaku ketua Tanfidziyah PBNU sekaligus adik kandung mendiang, dalam sambutannya mengatakan bahwa Munas Alim Ulama dan Mubes 2012 adalah moment pertama kalinya yang digelar di pesantren yang terletak di pelosok desa. Berkat al-Maghfurlah jugalah perhelatan akbar PBNU ini berlangsung sukses, tak kurang dari Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, turut hadir dan memberikan sambutannya. Perhelatan ini tercatat sebagai perhelatan Munas Alim Ulama dan Mubes pertama kali yang dihadiri oleh presiden dalam sepanjang sejarah PBNU.

Lebih daripada itu, Buya Ja’far juga merupakan sosok kiai yang pluralis, hal ini terbukti saat beliau menyambut dan menerima kerja sama dengan berbagai pihak, terutama dari kalangan non-Muslim. Benar saja, keteguhan Buya Ja’far inilah yang kemudian sempat dikritik banyak kiai-kiai, terutama dari Jawa Timur. Tak kurang dari majalah AULA, sebuah majalah ternama terbitan Nahdliyin Jawa Timur memuat topik ini menjadi salah satu berita utama.

Hal lain yang mengesankan dari sosok Buya Ja’far adalah keberpihakannya pada perempuan. Belum lama ini, pesta demokrasi di kabupaten Cirebon digelar, saat suara Nahdliyin terpecah pada dua calon pasangan Bupati laki-laki, Buya Ja’far justru mendukung SH agar maju dan menjadi Bupati Cirebon, meskipun pada akhirnya kalah suara. Tetapi poin penting dari hal ini bahwa kiai, yang selama ini identik terhadap penolakan pada calon pemimpin perempuan, tertampik sudah, salah satunya oleh konsistensi Buya Ja’far pada kualitas pemimpin perempuan.

Di pesantren asuhannya sendiri, Buya Ja’far adalah sosok yang dikenal tegas, konsisten, dan istiqomah. Selain menyaksikan sendiri, saya mendapat keterkesanan itu dari banyak santri dan alumninya, bahwa mendiang tipikal kiai yang tegas dan konsisten dalam banyak hal. Ketegasan dan konsistensi beliau misalnya dalam hal mengaji dan mendidik kedisiplinan santri. Jika ada santri yang melanggar beliau akan bersikap tegas dan tak pandang bulu. Semua santri di matanya sama. Sementara konsistensi beliau ditunjukkan dengan istiqomah shalat berjamaah, membaca shalawat dan mengaji kitab al-Fiyah, kitab nazham dalam bidang gramatikal bahasa Arab, yang ia ajarkan dengan metode tradisional warisan para gurunya. Dalam mengelola pesantren, beliau terbukti memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang khas yang jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh pesantren lain.

Kekhasan beliau jika terus saya tulis, tidaklah cukup dalam ruang yang terbatas ini. Sebab akan ada banyak kekhasan dan keunikan lainnya, beberapa hal yang lain adalah bahwa mendiang merupakan kiai yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, ia pun tercatat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon, peduli dan aspiratif kepada anak-anak muda NU, dan menjadi tumpuan bagi siapapun secara terbuka di rumahnya. Saya berharap akan ada inisiasi menghimpun segala keteladanan dan perjuangan mendiang dalam sebuah buku.

Kematian, Kebahagiaan

Kematian, bagi manusia adalah niscaya. Ia datang betapapaun tak diundang, akan mendatangi siapapun, kapanpun, dan di manapun tanpa diduga sebelumnya. Demikian jugalah maka Buya Ja’far. Terlarut dalam kesedihan yang berlebihan, jelas bukan akhlak Muslim yang baik. Sebaliknya, umat Muslim—khususnya para santri dan kita semua—mesti bisa meneladani keilmuan dan pejuangan beliau.

Kini, pesantren Kempek masih mempunyai Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. Mustofa Aqil Siroj, KH. Ahsin Aqil Siroj, KH. Niamillah Aqil Siroj, dan sanak saudaranya yang lain. Dengan itu, saya yakin jika adik-adik kandung dan sanak keluarganya akan mampu dan terus melanjutkan perogresivitas pesantren Kempek ke arah yang lebih berkualitas dan dinamis. Semoga para keluarga yang ditinggalkan dan umumnya kita semua bisa meneladani keilmuan dan keteladanan Buya Ja’far yang ‘khas’ itu.

Mari kita berdo’a untuk kedamaian mendiang di sisi-Nya. Kita semua yakin, meskipun beliau berpulang, keteladannya akan terus dilanjutkan, dan insya Allah beliau sedang berbahagia karena bertemu dengan Tuhan-Nya. Allahummaghfirlahu, al-Fatihah!

* Dosen STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/mamang-haerudin/buya-jafar-sosok-kiai-yang-khas/694043477329968/