KH. Ahmad Zaeni Dahlan sedang menyampaikan tips menghadapi revolusi industri 4.0 dihadapan santri putri pesantren KHAS Kempek (Foto: KHASMedia)

KEMPEK – Santri putri Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon diajak untuk berperan dalam mensukseskan Revolusi Industri 4.0, yang menjadi platform dari gerakan Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini seperti yang disampaikan oleh KH. Ahmad Zaeni Dahlan dalam acara muwaada’ah Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofien (MTM) Putri, Selasa (16/4).

Lebih lanjut beliau menjelaskan, Revolusi Industri 4.0 merupakan kelanjutan dari revolusi-revolusi yang dialami oleh umat manusia sejak memasuki zaman yang disebut sebagai era modern, yang dimulai kira-kira tiga abad yang lalu, yaitu sekitar tahun 1700 M. Ketika ditemukannya mesin uap dan alat transportasi yang modern. Hal ini mengakibatkan terjadinya revolusi yang sangat besar dalam kehidupan manusia.

Berlanjut pada revolusi yang kedua, yaitu revolusi manufaktur, seperti ditemukannya listrik. Sehingga industri bisa dihasilkan secara maksimal, bisa diproduksi secara masal, seperti produksi kain, baju dan lain sebagainya.

Berikutnya adalah revolusi yang ketiga, yaitu dengan ditemukannya internet. Karena dengan internet ini akhirnya semuanya bisa dibuat secara digital dan terjadinya konektifitas antara satu tempat dengan tempat yang lain, antara individu dengan individu yang lain. Dan internet ini terus berkembang semakin cepat. Serta dibarengi dengan penemuan-penemuan terbaru, seperti dalam bidang biologi dan fisika. Akhirnya ilmuan dunia menyatakan bahwa sekarang kita sudah masuk pada tahap selanjutnya, yaitu revolusi industri yang keempat.

Dimana karakter revolusi industri yang keempat ini adalah kita sekarang sudah tidak hidup dalam dunia realita tetapi hidup dalam dunia yang disebut dengan dunia maya. Seperti adanya sosial media (sosmed). Perkembangan ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia.

Beliau bercerita, dulu sekitar tahun 2004 di Kempek itu sangat susah untuk mencari komputer. Waktu itu ada satu unit komputer tapi kondisinya sudah rusak. Jadi ketika mau ngeprint harus merental ke Jamblang. HP juga belum ada yang punya, belum banyak yang punya HP, masih beberapa orang saja.

Tapi setelah 10 tahun kesini, komputer, HP dan internet sudah ada dimana-mana, termasuk jaringan wifi ada disetiap kantor. Para ustadz juga sekarang sudah punya HP. Sekarang HP-nya smart phone yaitu percampuran antara HP dan komputer atau komputer sudah ada di HP sekarang. Jadi kita bisa mengetik, mengedit dan lain sebagainya.

Itulah ciri-ciri dari revolusi industri 4.0. Dan kedepan, akan semakin cepat berkembang, seperti perkembangan internet dari 3G, 4G sampai 5G. Kita tidak bisa memprediksi dari setiap perkembangannya, bagaimana perkembangan dan pengaruh internet sepuluh tahun kedepan.

Oleh karena itu ada beberapa tips yang harus dipegang agar bisa menjadi pemenang dalam menghadapi dan mengantisipasi revolusi industri sekarang ini. Karena persaiangan sekarang pun menjadi semakin sengit dengan melibatkan semua orang didunia.

  1. Jangan pernah berhenti untuk belajar

Seperti yang sudah kita pelajari sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة

“Mencari ilmu itu adalah bagi setiap muslim laki-laki mapun muslim perempuan.”

اطلبوا العلم من المهد الى اللحد

“Carilah ilmu sejak dari semenjak ayunan hingga liang lahat.”

اطلبوا العلم ولو بالصين

“Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina.”

Ini berarti, cari ilmu itu tidak mengenal waktu dan tidak mengenal tempat. Kapan saja dan dimana saja kita harus belajar. Akan tetapi dalam menuntut ilmu itu harus yang mempunyai otoritas yang dipegang, terutama ilmu agama, ini sangat penting.

Seperti dalam mengejar cita-cita, jika kita ingin sukses maka bersungguh-sungguhlah, jangan tanggung-tanggung, teruslah belajar sampai khatam, disini sampai tamat, karena kalau tidak tamat berarti tidak sampai mempelajari Alfiyah. Padahal ada ucapan ulama yang mengatakan:

من لم يتعلم بألفية ابن مالك  يشب بعلمه

“Siapa yang tidak belajar Alfiyah Ibnu Malik, maka akan diragukan keilmuannya (ilmu agama).”

Karena fenomena zaman sekarang, banyak orang yang mengetahui ilmu agama hanya dari pesantren kilat tetapi berani menyalahkan orang lain. Kenapa, karena ilmu agama mereka masih tanggung, sehingga merasa benar sendiri.

  1. Dalam belajar ilmu agama harus merujuk pada sumber yang otoritas

Dalam masalah agama, karena ini adalah merupakan ilmu yang membutuhkan otoritas, maka kalian harus mempunyai guru, harus pintar memilih guru, guru yang memang layak untuk dijadikan sebagai seorang guru. Soalnya sekarang sudah ada “Mbah Google” yang merupakan hasil dari revolusi industri.

Kita bisa bertanya apa saja pada Mbah Google, masalah zakat, umpamanya. Masalah shalat, di Mbah Google ada, dari hal-hal yang berkaitan dengan agama sampai hal apapun semuanya ada. Tapi, hati-hati. Kita jangan hanya berdasarkan google saja, karena ilmu yang didapat dari google itu tidak mempunyai otoritas. Boleh jika google hanya dijadikan pembanding saja. Tapi ingat kalian harus mendapatkan ilmu dari seorang guru.

Dalam hal ini, kalian adalah santri-santri pondok pesantren. Oleh karena itu, setiap kalian menyampaikan sebuah ilmu, maka berdasarkan kitab yang kalian pelajari, harus berdasarkan kiai yang kalian panuti. Jangan asal dari Mbah Google.

  1. Harus menjadi pribadi yang berakhlak/berkarakter

Hal ini sangat penting sekali untuk menjadikan “wong sing bener” karena akhlak adalah segalanya. Percuma saja jika kita pintar, kaya dan lain sebagainya tapi tidak berakhlak, maka kepintaran, kekayaan dan kelebihan yang kalian miliki tentunya akan berbalik merusak pada diri kalian sendiri.

Salah satu yang harus kalian persiapkan untuk menghadapi persaingan dalam revolusi industri keempat ini adalah kalian menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak. Oleh karena itu, kita harus optimis sebagai santri-santri putri Pondok Pesantren KHAS Kempek ini akan dapat mewarnai bangsa Indonesia kedepan dalam menyongsong era revolusi ini.

Insya Allah kalian semua, beberapa tahun kemudian akan menjadi orang-orang yang mempunyai peran besar dan sukses serta menjadi rujukan bagi masyarakat sekitarnya. Amien… (KHASMedia)