Wali Qutub yang Berguru kepada Penulis Alfiyah Ibnu Malik

1
61

KHASKEMPEK.COM – Menyebut kitab Alfiyah Ibnu Malik, tentu sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan santri. Bagaimana tidak, Alfiyah adalah sebuah kitab gramatika bahasa Arab yang sangat populer. Banyak dijadikan rujukan (mu’tamad) dan menjadi kurikulum di banyak lembaga pendidikan Islam dunia.

Jumlah 1000 bait (lebih dua) Alfiyah itu memang sudah lumrah sebagai sebuah karya mukhtashar (ringkasan) dalam sebuah fan ilmu. Bukan Alfiyah Ibnu Malik saja yang menggunakan 1000 nadzam. Ada Alfiyah Ibnu Sina yang membahas tentang dasar-dasar ilmu kedokteran, Alfiyah Ibnu Mu’thi tentang ilmu nahwu, Alfiyah al-‘Iraqi tentang Mustalah Hadis, Alfiyah Ibnu al-Barmawi tentang Ushul Fiqh, Alfiyah al-Qobaqibi tentang ilmu Balaghah dan dua Alfiyah Imam Suyuti temtang llmu Mustalah Hadis dan Nahwu.

Semuanya itu menggunakan 1000 bait. Tapi dari segenap kitab nadzam yang 1000 bait-an itu, Alfiyah Ibnu Maliklah yang paling populer.

Perlu kita ketahui, Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’i al-Jayyani (nama lengkap Ibnu Malik) adalah seorang Waliyullah (sebagaimana penulis dengar dari KH Muh. Musthofa Aqil Siroj, pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon). Hal itu bisa kita lihat dari kezuhudan beliau yang terlihat dari “bait misterius”nya yang berbunyi,

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

“Semoga ketetapan karunia-karunia Allah yang luas adalah untukku dan juga untuk beliau (Syekh Ibnu Mu’thi) pada derajat-derajat yang tinggi di akhirat kelak.”

Ibnu Malik hanya meminta karunia di akhirat saja, tidak di dunia. Ini menunjukan kewalian Ibnu Malik. Semestinya

“لي و له في درجات الدنيا و الأخرة”.

Mengapa saya katakan “Bait Misterius”? Karena pada awalnya Alfiyah berjumlah genap 1000 bait. Tidak kurang, tidak lebih. Tapi sebuah “peristiwa spiritual” yang mempertemukan Ibnu Malik dengan Alhamrhum gurunya, Syekh Ibnu Mu’thi, menginisiasi lahirnya dua bait itu. Sehingga jumlahnya 1002 bait. Dua bait itu adalah:

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Kisah spiritual ini sudah masyhur. Bahkan Syekh Ibnu Hamdun dalam kitabnya, Hasyiyah Ibnu Hamdun (dari syarah Makudi, salah satu syarah Alfiyah Ibnu Malik) menyebutkannya secara jelas (juz 1, hlm. 23).

Ibnu Malik yang juga seorang Waliyullah, ternyata punya salah satu santri yang konon santri itu adalah Wali Qutub. Santri itu adalah Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (w. 676 H) atau lebih dikenal Imam Nawawi (bukan Imam Nawawi al-Bantani loh ya). Bahkan Ibnu Malik sendiri menyinggungya dalam potongan bait Alfiyah yang berbunyi,

… # و رجل من الكرام عندنا

… # Seorang laki-laki mulia di sisi kami.

Konon, saat Ibnu Malik menulis bait Alfiyah baru sampai pada

و هل فتى فيكم فما خل لنا # …

Imam Nawawi berada di sisinya, lalu melanjutkan potongan baitnya dengan menghendaki Imam Nawawi.

… # و رجل من الكرام عندنا

Abu Abdilah al-Fasi (w. 1770) dalam kitabnya, Faidlu Nasyri al-Isyrah (1/491) menjelaskan:

وأما النووي فأحد أصحاب ابن مالك الذين أخذوا عنه، ولذلك تجد النووي في تصانيفه كثيرًا ما يقولُ: قال شيخُنا ابن مالك. وقد سمعتُ من جماعة من أشياخنا أن النووي هو المراد بقول ابن مالك في الخلاصة: ورجل من الكرام عندنا، لأنه كان ضيفه في تلك الليلة.

Artinya:

Imam Nawawi adalah salah satu santri Imam Ibnu Malik. Oleh karena itu dalam banyak kitab karyanya, Imam Nawawi sering menyebutkan, “Berkata guruku, Ibnu Malik”.

Aku telah mendengar dari guru-guruku, bahwa Imam Nawawi adalah yang dimaksud oleh Imam Ibnu malik dalam kitab Khulashoh (Alfiyah Ibnu Malik) dalam bait “و رجل من الكرام عندنا”, karena suatu malam Imam Nawawi bertamu padanya.

Imam Nawawi sendiri adalah seorang Wali Qutub. Wali Qutub merupakan satu-satunya ulama yang dipilih Allah dalam setiap kurun kehidupan manusia.

Al-Habib Umar bin Abdurahman al-Athas berpesan kepada Syekh Ali Baros:

يا علي، أقرئه في كتاب المنهاج للشيخ النووي، وأقرئ جميع اصحابك فيه، فإنه مبارك والفتح ان شاء الله حاصل في قراءته، لانه قمين بذالك، وكيف لا؟ ومصنفه قطب وقد دعا لقارئه! انتهى.

“Ya Ali, bacalah kitab ‘Minhaj’ Imam Nawawi bersama semua sahabatmu. Itu kitab berkah, dan bisa membuat futuh bagi orang yang membacanya, karna sudah ada jaminan dari hal tersebut. Bagaimana tidak? pengarangnya seorang wali Qutub dan sudah memohon (ke-futuh-an) untuk pembacanya”.

Imam Nawawi juga terkenal keutamaan dan karomahnya. Dalam kitab Tabaqat as-Syafi’iyah (juz 2, hlm. 75) dijelaskan bahwa Ibnu an-Naqib meriwayatkan, “Ketika beliau (Imam Nawawi) menulis kitab dan tidak ada lampu untuk menerangi, jari telunjuk tangan kirinya akan mengeluarkan cahaya sebagai penerang”. Wallahu a’lam.

Abror, Jakarta 14/09/20

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here