Ulumul Hadis, Metode Penyampaian Hadis Pada Masa Rasulullah Saw

0
40

KHASKEMPEK.COM – Perhatian para sahabat Rasul Saw. yang begitu besar terhadap al-Qur’an, tidak membuat mereka surut dalam memperhatikan keberadaan hadis. Karena kecintaan mereka terhadap al-Qur’an sama besar dengan kecintaan terhadap Rasulullah, maka merekapun berlomba-lomba melestarikan hadis Nabi.

Berikut beberapa metode penyampaian hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya:

1. Melalui majelis ilmu atau pengajian-pengajian

Para sahabat selalu mendatangi pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw selalu menyediakan waktu bagi para sahabat untuk menyampaikan berbagai ajaran agama Islam. Para sahabatpun selalu berusaha mengikuti berbagai majelis yang di situ disampaikan berbagai pesan-pesan keagamaan walaupun mereka mengikuti secara bergiliran. Jika ada sahabat yang tidak bisa hadir maka disampaikan oleh sahabat-sahabat yang hadir.

Melalui cara ini, para sahabat mendapatkan peluang yang besar untuk menyerap sebanyak mungkin informasi dari Nabi Muhammad Saw. Para sahabat memiliki semangat yang tinggi dan sangat haus akan fatwa-fatwa dari Nabi Muhammad Saw.

Mereka selalu meluangkan waktu untuk hadir ke majelis ilmu Rasulullah. Bahkan sebagian sahabat ada yang rela melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk meminta solusi atas permasalahan yang mereka hadapi kepada Nabi Muhammad Saw.

Di antara sahabat ada yang secara sengaja membagi tugas untuk mendapatkan informasi yang berasal dari Nabi Muhammad Saw.. ‘Umar bin al-Khatṭạ̄ b misalnya, membagi tugas dengan tetangganya untuk mendapatkan hadis dari Nabi Muhammad Saw. Apabila tetangganya pada suatu saat menemui Nabi, Umar ra. pada keesokan harinya demikian seterusnya.

Pihak yang bertugas menemui Nabi dan memperoleh berita dari Nabi, mereka segera menyampaikan berita tersebut kepada yang tidak bertugas. Pada saat demikian terjadi periwayatan hadis oleh sahabat dari sahabat yang lain. Hadis tidak semata-mata diriwayatkan dari Nabi, tetapi sebagian diriwayatkan oleh sahabat dari sahabat yang lain.

2. Peristiwa yang dialami Rasulullah Saw. sendiri

Dalam hal ini rasul menyampaikan hadis berkatian dengan peristiwa yang dialaminya sendiri. Secara kebetulan sahabat yang menyertai rasul bisa menyampaikan kepada yang lain.

3. Sahabat bertanya

Di antara para sahabat ada mengalami berbagai persoalan kemudian mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah Saw. tentang bagaimana hukumnya terhadap persoalan tersebut. Kemudian Rasulullah Saw. segera memberikan fatwa atau penjelasan hukum tentang peristiwa tersebut. Kasus yang dialami sahabat apakah kasus yang terjadi pada diri sahabat itu sendiri maupun terjadi pada sahabat yang lain.

Singkatnya, jika diantara para sahabat mengalami suatu masalah, para sahabat tidak merasa malu untuk datang secara langsung menanyakan kepada Rasulullah. Jika ada sahabat yang malu bertanya langsung kepada Rasulullah, maka sahabat tersebut mengutus sahabat lainnya untuk bertanya kepada Rasulullah.

4. Sahabat menyaksikan langsung

Kadang-kadang ada juga sahabat yang melihat secara langsung Rasulullah Saw melakukan satu-satu perbuatan, hal ini berkaitan dengan ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji serta ibadah-ibadah lainnya. Para sahabat yang menyaksikan hal tersebut segera menyampaikan untuk sahabat yang lain atau generasi sesudahnya, diantaranya yaitu peristiwa yang terjadi antara Rasulullah dengan malaikat Jibril mengenai masalah iman, Islam, ihsan dan tanda-tanda hari kiamat.

5. Ceramah atau pidato di tempat umum

Melalui ceramah atau pidato di tempat yang terbuka sebagaimana ketika khutbah pada Haji Wada’. Pada saat menunaikan haji pada tahun 10 H (631 M) Nabi menyampaikan khutbah yang sangat bersejarah di hadapan ribuan kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji. Isi khutbah beliau banyak terkait dengan bidang mu’amalah, siyasah, jinayah, dan hak asasi manusia.

Perbedaan Tingkat Penerimaan Hadis di Kalangan Sahabat

Para sahabat memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi untuk menyampaikan sebanyak mungkin apa yang telah diajarkan oleh Nabi. Situasi dan latar belakang sosiohistoris mereka masing-masing menunjukkan keragaman tingkat penerimaan hadis mereka. Sebagian ada yang tinggal di kota, sebagian lagi ada yang di kampung. Jarak mempengaruhi frekuensi pertemuan mereka dengan Nabi, sehingga juga berdampak pada banyak sedikitnya hadis yang mereka dapatkan.

Pada periode ini, terjadi perbedaan tingkat penerimaan hadis di kalangan sahabat. Sahabat satu dengan yang lain tidak sama dalam hal perolehan dan penguasaan terhadap hadis Nabi Saw. Di antara mereka ada yang memiliki banyak hadis sedang yang lain hanya sedikit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  • Perbedaan frekuensi kebersamaan dengan Rasulullah Saw.
  • Perbedaan tingkat kemampuan tulis-menulis dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing sahabat.
  • Perbedaan waktu masuk Islam. Ada yang masuk Islamnya lebih awal, ada pula yang belakangan.

Para sahabat yang tergolong banyak menerima hadis dari Rasulullah terdapat beberapa kelompok, di antaranya: pertama, mereka yang pertama kali masuk Islam atau yang dikenal dengan as-Sābiqūn al-Awwalūn, seperti al-Khulafā’ ar-Rāsyidūn, yaitu Abū Bakar as-̣ Sị ddīq, ‘Umar bin Khatṭạ̄ b, ‘Usmān bin Affān, dan ‘Alī bin Abī Tạ̄ lib serta ‘Abdullah bin Mas’ūd (w. 32 H).

Kedua, mereka yang senantiasa berada di samping Rasul dan bersungguh-sungguh menghafal hadis, seperti, Abū Hurairah (w. 59 H), atau mereka mencatatnya, seperti, ‘Abdullah bin ‘Amr bin as-̣ ‘As ra. Ketiga, mereka memiliki usia panjang, seperti Anas bin Malik ra. (w. 93 H/711 M) dan Abdullah bin Abbas ra. (w. 69 H/689 M); dan keempat, mereka yang secara pribadi erat hubungannya dengan Nabi Saw. seperti, ‘Aisyah (w. 58 H/678 M) dan Ummu Salamah (w. 59 H).

Sumber: Hadis-Ilmu Hadis/Kementerian Agama,- Jakarta : Kementerian Agama 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here