The Santri; 7 Menit Yang Menggetarkan Jagat Maya

0
161

KHASKEMPEK.COM – Menghadiri Upacara Pembukaan Rapat Pleno PBNU Tahun 2019 di Purwakarta, Jawa Barat, 20 September 2019, merupakan keberkahan tersendiri bagi saya, bertemu banyak dengan kaum santri, baik yg terkesan masih tradisional maupun yang mendadak milenial. Dengan menguasai berbagai macam bidang keilmuan dan berdiaspora keberbagai leading sektor strategis, mereka tetap setia pada kiai untuk mengabdi pada NKRI melalui rumah besar Nahdlatul Ulama.

Berawal di masjid Tajug Gede Purwakarta, shalat Jum’at bersama KH. Ma’ruf Amien, Wakil Presiden terpilih, beliau representasi kaum santri yang selalu bersarung dalam aktifitasnya sehari-hari. Didaulat sebagai khatib dadakan, Kiai Maman Imanul Haq menyampaikan khutbah pada Jumatan tersebut. Ber-background santri, dia baru saja terpilih menjadi anggota DPR RI dari partai kaum santri.

Kami bersama Kang BJ, panggilan akrab KH. Muhammad Bin Jafar, kiai muda yang lagi mengasah talenta, ia juga membimbing santri di asrama.

Ditengah menikmati sate maranggi khas kota Purwakarta, tak sengaja kami bertemu kiai yang mengasuh ribuan santri, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus Lirboyo. “Iki loh kang BJ,” kata Gus Kafabih memperkenalkan Kang Muhammad kepada putra yang mendampinginya setelah kami tabarrukan bersalaman.

Sampai di lokasi, di sebuah pesantren yang berisi banyak santri “Al-Muhajirin 2 Purwakarta”, asuhan KH. Abun Bunyamin, beliau juga dulunya santri di Cipasung Tasikmalaya. Subhanallah, ribuan kiai berkumpul tumpah ruah untuk menyaksikan dibukanya perhelatan NU sebagai organisasi kaum santri.

Selesai menyimak sambutan Wakil Presiden terpilih, Rois Am dan Ketua Umum PBNU serta lainnya, ditutup dengan do’a oleh Gus Kafabih, selesai acara kami keluar untuk pulang, kaliganè bertemu KH. Imam Pituduh, SH., MH, budayawan yang menggawangi The Santri movie.

Dari sedikit obrolan santai dengan sang Executive Produser, saya mengapresiasi film tersebut dan menanyakan perihal informasi yang berseliweran di medsos. Pria yang menjabat Wakil Sekjen PBNU ini menjawab, “The Santri akan diproduksi Oktober bulan depan, harapannya Maret 2020 selesai dan akan diperkenalkan dan diputar pada bioskop-bioskop Eropa dan Amerika pada bulan itu. Oktober 2020 pas di hari santri, baru kami akan menayangkan di Indonesia”, pungkasnya. Kalau melihat jawaban pria berambut gondrong ini, komen para warganet keliru semua…, cape dech.

Saya sengaja memancingnya, “wah dapat promo gratis nich di medsos Kiai?” Ia justru menambahi, “Tenang kang sampai sekarang jadi trending topic, bahkan sudah lebih dari 2.200 yang mentwitnya. Sedikit berbisik pria ini bilang, barusan Buya (yang dimaksud Ketua Umum PBNU) dalam sambutan pembukaan pleno menyatakan saya, kita, orang NU, tidak boleh “minder dan takut”, itu tersirat mendukung untuk maju terus memproduksi film The Santri, meski banyak menuai kritik, katanya. Beliau menambahkan mungkin Jum’at depan (27/9/2019) akan shooting mengambil gambar di Pesantren Khas Kempek Cirebon. (Ditunggu yach…).

Dari sini, saya teringat untuk membaca ulang komentar-komentar para netizen yang hilir mudik di media elektronik maupun medsos. Jelas apabila menggunakan metode grouping, paling tidak ada 2 arus besar yang saling berseberangan, pro dan kontra.

Kelompok yang kontra adalah modal mereka tetap sama, ideologi takfiri dan tadhlili, pengkafiran dan tuduhan sesat terhadap kelompok lain, sekalipun di luar kapasitas intelektual mereka. Mereka tidak suka dengan Manhaj at-Tawassuth wa at-Ta’dhil ala Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah (meminjam istilah Kiai Ma’ruf Amien) dan adanya negara NKRI sebuah negara yang menurut beliau Daarul Miitsaq, negara hasil kesepakatan.

Banyak sanggahan dari berbagai kalangan, dari alumni Kempek sendiri menulis; Kita bisa melihat fenomena pelarangan itu dengan kacamata pertikaian politik (Contentious Political Theory), dengan tokohnya Throw dan Willy. Bahwa menurutnya, adanya problem yang muncul atas suatu hal karena adanya kebutuhan dan kepentingan suatu kelompok yang bersifat politik, etnis atau keyakinan. Agaknya fakta itu dikonfirmasi dari sisi historisnya, dimana kelompok yang menolak film The Santri adalah kelompok yang sejak dari dulu menolak PBNU, menolak ‘amaliyyah NU, dan menolak Islam Nusantara sebagai gagasan Islam dalam NU.

Kiai Imam Jazuli dengan kapasitas dan pengalaman pengembaraan intelektualnya yang tak diragukan, setelah panjang lebar menjawab tuduhan-tuduhan yang tak berdasar dari sisi sosiohistory dan yurisprudensi islam (baca fiqih), ia menyebut; :tidaklah elok kita mengkritik sebuah karya seni berupa film hanya bermodalkan “cangkeman” menurut istilah orang Jawa. Yaitu, justifikasi-justifikasi tidak bermodal dan receh. Jika memang kelompok yang suka menghujat kesenian ini punya versi sendiri, tampilkanlah dalam wujud karya nyata. Buatlah film tandingan. Di sanalah kita akan bangun perdebatan tentang esensi dan substansi karya seni Islam.” (https://www.tribunnews.com/tribunners/2019/09/19/kh-imam-jazuli-menakar-respon-instan-atas-trailer-film-the-santri)

Dari yang pro, jelas, mereka adalah kita, dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi, yang kaya harta atau yang hanya punya hati, baik kultural maupun struktural, kiai atau santri, orang jalanan atau abangan, pernah ngaji atau hanya sering ngrumpi, penikmat kopi atau mereka yang suka nonton TV, kita hanya melihat dan menyaksikan betapa hebatnya apa yang dilakukan oleh orang-orang hebat untuk menangkal dan menyelamatkan realitas gempuran ideologis dari kekuatan gerombolan trans-nasional.

Sebelum peluncuran rilis, beberapa waktu yang lalu Kiai Said memberikan doa dan dukungan dengan menegaskan bahwa:


“The Santri” A drama action movie wich carries the values of peaceful Islam, tolerant, courteous and respectful and carry the virtues of benevolence, far from radical Islam and especially Islam terrorism.

The Santri, adalah film drama aksi yang mengandung nilai-nilai Islam yang santun, toleran, ramah, plural, dan Islam yang membawa budaya, akhlakul karimah, peradaban, jauh dari Islam radikal, Islam ekstrim apalagi Islam teror.

Beliau melanjutkan, dalam terjemahan bahasa Inggris;

The word Islam actually comes from salam, shalom, peace. Or from Salamatun, Savior or Salvation. Or even from the word Taslim ; servitude to God Almighty, because of that Islam Nahdlatul Ulama, Ahl sun-nah wa al-jamàh Islam inprincipal is Tawassuth and Tasamuh, moderate and tolerant, a moderate attitude has to have a foundation of knowledge and intellect and a attitude of tolerance has to be based Akhlakul Karimah. Those who are not tolerant are immoral, and those who are not moderate do not know the true meaning of Islam.

Congratulations to NU Chanel, who is led by KH. Imam Pituduh in building a civilization based on Islam Nusantara (Indonesia), Ahl sun-nnah wa al-jamàh Islam, Nahdlatul Ulama Islam,

Congratulations….
I hope that Allah blesses you with succes and grace to us all.

Demikian nukilan sambutan Ketum PBNU Prof. DR. KH. Said Aqiel Siroj yang dibuat NU Channel dalam terjemahan Bahasa Inggris ketika menerima sang sutradara Livi Zheng di Kantor PBNU beberapa waktu yang lalu sebelum dirilisnya film The Santri yg bercerita tentang Dream (impian), Faith (keyakinan) dan Friendship (persahabatan).

The Santri, kok tidak menggandeng sutradara kelas kakap kayadènè John Woo? Wow…pasti akan masuk film bergenre action yang menarik dengan adegan-adegan pertarungan one by one yang pelik dan mengglitik, mungkin tampilan pencak silatnya akan membahana. Oh tidak begitulah. Atau Ang Lee, maestro film Holywood yang garapannya kaya akan drama dan siskusi bermakna ala kaum intelektual. Tidak juga. Tetapi memilih wanita shinun asal Blitar, pasti banyak rahasia yang dirahasiakan, inilah kebhinekaan.

Seandainya hanya sekedar film untuk bisnis belaka, mungkin akan meraup keuntungan besar karena kita punya warga dan masa besar, lihat prolog diatas yang semuanya adalah santri, jika mereka nonton semua, pasti bioskop Indonesia seperti lautan pengajian yang tak bertepi.

Walhasil, tujuh menit tayangan trailer film bisa menggemparkan seluruh kekuatan kawan maupun lawan. Kita santri dan wong NU jangan “Minder dan Takut” untuk melakukan berbagai upaya langkah adaptif dan preventif mencegah gelombang ideologi yang merongrong karakter bangsa dengan terus mempromosikan Islam rahmatan lil alamien ala nahdliyyien.

Salam 3 periode…
Tunggu NOBARnya…bukan Nonton bubar…tapi Nonton Bareng.

Kie film nyong banget, kere-kere kaya kie pernah ning Amrik. Barokah melu kiai.

Semoga ada manfaatnya.
Cirebon, 22/09/2019

(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here