Tentang Manaqib

0
543
Logo Al Ghadier Ponpes Kempek Cirebon

DAPUR REDAKSI

Kearifan dalam mamahami nilai-nila tradisi dimasyarakat kita bisa diartikan sebagai bentuk penghargaan pada kecintaan kita pada bangsa yang majemuk ini. Menafikan akan nilai budaya masyarakat yang telah ada, sama saja kita menafikan kehidupan kita sendiri, menafikan sejarah bangsa kita yang pernah besar, maju dan bermartabat.

Kemoderenan tidaklah harus selalu diartikan meninggalkan cara dan budaya lama dan mengikuti kehendak zaman. Ada saatnya yang prinsip harus selalu dipertahankan dan selalu dibela, seperti keimanan kita, akidah kita dan tradisi luhur agama kita. Ini yang perlu terus dijaga, dilestarikan dan dijadikan pijakan dalam sosial kemasyarakatan kita.
Bila dalam suatu bangsa, akar budaya yang kuat dan telah lama ada tercabut, maka hakikatnya bangsa itu bukanlah bangsa yang modern, tapi bangsa yang lemah, dan telah kehilangan jatidirinya; identitas bangsa. Rawatlah bangsa ini dengan ruh agama, tradisi ulama dan budaya yang terpancar dari keduannya.

Prolog.
Orang yang terbiasa dengan dunia modern dan terbiasa bergelut dengan ilmu-ilmu modern mungkin akan terkejut dan tidak percaya pada kejadian-kejadian yang bersifat mistik, karena tidak rasional. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan dunia tasawuf, mengenalnya dan mempelajari literature keilmuan yang pernah ada, apalagi memahami dengan mendalam ajaran agama Islam, maka bagi mereka hal-hal ajaib yang tak masuk akal adalah hal biasa yang dianggap masuk akal. Ada konteks masalah yang tidak bisa di jelaskan, karena melihat satu masalah, bukan dari masalahnya, tapi dari sudut pandang cara memandang masalah itu sendiri. Yang satu dengan akal, yang satu dengan keimanan.

Dalam dunia Islam, ada banyak cerita, hikayat ataupun apapun bentuknya yang menjelaskan peristiwa-peristiwa yang kita hanya bisa menerimannya dengan keimanan saja. Cerita Isra’ Mi’raj, cerita tentang tongkat menjadi ular, cerita gunung yang pecah, kemudian keluar dari unta yang besar dan sedang bunting tua, cerita tentang nabi Allah Isa menghidupkan orang yang sudah mati, tentang sahabat Umar bin Khattab berkirim surat kepada sungai Nil, juga cerita sahabat Umar bin Khattab yang ketika sedang kotbah Sholat Jum’at tiba-tiba beliau berteriak memberikan komando dari Madinah kepada prajurit-prajurit Islam yang sedang bertempur di tempat yang jauh dari Madinah.

Tentu cerita-cerita tersebut diatas bagi sebagain orang yang mendasarkan segala peristiwa di dunia ini hannya dengan akal tidak akan mungkin bisa menerimanya. Dalam kontek ini, ada banyak rahasia kehidupan yang manusia memang tidak bisa menyingkapnya. Banyak misteri dunia yang meski kita telah hidup dalam alam serba modern masih belum bisa dijelaskan.

Demikian pula dalam kehidupan keagamaan kita, ada banyak tradisi keagamaan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap aneh, ketinggalan zaman dan tidak realistis. Namun bagi sebagian yang lainnya justru diajikannya sebagai media pendekatan paling menyenangkan kepada sang Khaliq. Ada kepuasan batin pada mereka dalam menjalani tradisi yang telah ratusan tahun secara turun temurun, meski mungkin ada disebagian mereka tidak mengerti dan tidak paham terhadap apa hakikat dari semua yang mereka lakukan itu.

Banyak orang tidak bisa memahami apa arti dan manfaatnya bagi orang yang suka melakukan Tahlilan, empat puluh hari, Nyatus, Nyewu, Muludan, Marhabanan, Manaqiban, Talqin, Tawasul dan banyak lagi yang lainnnya. Adakah hal itu berguna dan bermanfaat bagi mereka? Adakah dampak sosial yang ditimbulkannnya dari apa yang mereka lakukan? Tentu banyak tuduhan miring dari mereka yang tidak setuju akan amalan yang telah merakyat ini. Dari tuduhan bid’ah, musyrik hingga tuduhan sesat.

Secara sederhana, kita bisa melihat banyak trend dan budaya yang katanya ‘modern’ saat ini; kumpul di kafe, liburan akhir musim bareng keluarga dan teman kerja di tempat rekreasi paling top, nonton bareng pertunjukan sebuah film nasional terbaru, atau ikutan acara televisi yang lagi terkenal. Mereka masyarakat modern tak sungkan mengeluarkan jutaan rupiah demi menikmati ‘tradisi hidup masa kini’ itu. Ada kepuasan yang mereka rasakan saat mereka berhasil bertemu dengan group band musik kesukaannya.

Pertanyaanya adalah, adakah apa yang meraka lakukan itu memiliki implikasi sosial di masyrakat? Adakah nilai ibadah dalam cara mereka memaknai hidupnya? Mengapa orang tidak mempertanyakanya?

Mengapa harus ada penggugatan pada mereka yang melakukan tradisi-tradisi keagamaan yang telah berumur ratusan tahun yang ada di sekitar kita, yang memiliki jelas kaitannya dengan keimannna kita sebagai muslim. Mengapa orang ‘merasa biasa saja’ pada budaya yang jauh dari nilai-nilai agama?

Jawabannnya tergantung pada pemahaman kita masing-masing. Tergantung pada latar belakang pendidikan orang, lingkungan yang membentuknya, budaya yang membesarkannnya dan kemampuannnya dalam memahami ajaran agama yang termuat dalam tek-tek suci; al-Qur’an dan Hadits Nabi.

Salah satu yang menjadi tradisi lama dan tetap berjalan hingga kini adalah manaqiban. Manaqiban sebagai salah satu tradisi yang dijalankan oleh sebagain besar ummat muslim di Indonesia mendapatkan sorotan yang tajam. Ada banyak apresiasi tapi banyak juga yang anti. Benarkah ia adalah amalan yang sia-sia yang tidak bernilai apa-apa dalam kehidupan keagamaan kita?

Maka seperti biasa, dalam Majlis Al-Ghadir Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien Kempek, Cirebon, akan mengkupasnya secara mendalam dalam diskusi ilmiyah dengan dalil-dalil yang dapat dipertanggung jawabkan sumber dan keasliannnya.

Manaqiban
Kata manaqib adalah bentuk jamak dari mufrad Manqobah yang diantara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Jadi membaca manaqib adalah membaca cerita/kisah yang bermanfaat yang berisikan karomah,nasihat dan akhlak terpujinya seseorang yang punya kontak dengan Allah yang sangat dekat seperti para nabi Allah para sahahabatnya, tabi’in dan waliyullah. Maka tidak lah boleh kalau ada orang yang berkata manqib Abu Jahal dan lainnya yaitu manaqibnya orang-orang jahat dan kafir. Dengan definisi ini, maka jawaban atas pertanyaan apa hukum membaca manaqib sudah terjawab dengan otomatis.

Namun setiap kontradiksi harus kita hadapi denga bijak, seperti :mengapa mayoritas orang NU membaca manaqib syekh Abdul Qadir Al-Jailani, padahal beliau adalah seseorang yang mengikuti pada madzhab Imam Hambali, sedangkan mayoritas orang NUmengikuti madzzhab Imam Syafi’i?

Untuk menjawabnya kita harus kembali mengkaji apa itu landasan warga NU (ahlisunnah waljama’ah). Perlu diketahui bahwa kaum sunni (sebutan kaum yang mengikuti ahli sunnah waljama’ah) menganut salah satu dari madzhab empat:Maliki, Syafi’i, Hanafidan dan Hambali dalam bidang fiqih, serta mengikuti Abu Hasan al Asy’ari dan Imam al- Maturidi dalam bidang aqidah. Dan mengikuti Imam al- Junaidi dan Imam al-Ghozali dalam bidang tasawwuf. Nah kalau demikian landasannya, maka Saudi Arabia yang sebagian bermadzhab Maliki dapat menjadi anggota sunni(NU), orang maroko yang sebagian besar bermadzhab Hanafi dapat menjadi anggota NU, orang Nigeria yang kebanyakan bermadzhab Hambali dapat menjadi anggota NU, apalagi kaum muslim Indonesia, Malaisia, dan Filipina pada umumnya mereka dapat menjadi anggota NU. Sebab mereka bermadzhab syafi’i. Jadi tak ada pertentangan antara kita yang ber madzhab syafi’I membaca Manaqib Syeh Abdul Qadir AlJailani yang bermadzhab hambali karena kedanya sama-sama landasan dari ahli sunnah waljama’ah.

Bahkan dalam kitab manaqib itu sendiri dijelaskanbahwa :Wakana yufti’ala madzhabil imam asy syafi’I wal imam ahmad ibni hambal radlyallahu’anhuma. Madzhab Syeh Abdul Qadir sejak kecil sampai dewasa/sepuh adalah mengikuti madzhabnya imam Syafi’i sehingga menjadi mufti as-Syafi’iyah. Sampai pada suatu malam beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang manyuruh Syeh Abdul Qadir untuk menerima permintaan Imam Hambali agar menghidupkan dan menjaga madzhabnya (Imam Hambali). Lantas syeh pun pindah madzhab pada madzhabnya Imam Hambali. (Kitab Nurul Burhan Manaqib syeh abdul Qqdir Aljailanijuz II:hlm.34-36).

Ditambah lagi tariqat yang beredar di ranah nusantara Indonesia kebanyakan adalah tariqat Qadariyah dan Naqsabandiyah . Dan kita tahu bahwa Syeh Abdaul Qadir Jailani lah yang menjadi pendiri tariqat qadiriyah sehinga pantaslah kalau banyak warga NU yang membaca manaqib Syeh Abdul Qadir untuk dijadikan sebagai mutawassal bih.
Beberapa dialog mengenai manaqiban.

Dijelaskan bahwa marotibul ‘aliyyah (orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi) yaitu nabi Muhammad SAW pada peringkat pertama, para shahabat pada urutan terbaik kedua,l alu diikuti para tabiin. Kalau tawassul dengan nabi Muhammad SAW itu sudah lumrah . Tapi mengapa banyak orang bertawssul dengan syeh Abdul Qadir padahal generasi terbaik setelah nabi Muhammad SAW adalah para shaabat seprti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, tapi pernahkah kita bertawassul pada mereka (shahabat) sedangkan syeh abdul qadir jailani itu bukan golongan shahabat?

Sebenarnya tawassul itu dengan apa saja yang tergolong dalam empat mutawassal bih yaitu Bil A’mal , Bil Ahya, Bil Amwat dan Bil Jamadat. Lalu dijadikannya Syeh Abdul Qadir sebagai sarana tawassul bukan berarti meninggikan Syeh Abdul Qadir dan merendahkan shahabat sebagai generasi terbaik setelah nabi. Ketentuan sudah jelah bahwa shahabat adalah generasi terbaik setelah nabi yang lebih utama dari yang lainnya. Hanya saja ada sebuah maziyyah (kelebihan) yang dimiliki Syeh Abdul Qadir yang tidak menjadikannya lebih tinggi dari para shahabat.

Hal ini didasari dalil yaitu kisah dalam al- Qur’ an tentang umat nabi Sulaiman yang dapat memindah kan arsy balqis (QS AnNaml:38&40):”Hai pembesar-pembesarsiapakah diantara kalian yang sanggup membawa singgasana balqis padaku sebelum mereka datang sebagai orang-orang berserah diri.Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al kitab(Taurat&zabur) Aku akan membawasinggasanaitusebelum matamu berkedip “.
Nah sekalipun orang yang mempunyai limu (Ashif bin Barkhiya) itu punya maziyyah (kelebihan) yang bisa membawa singgasana balqis hanya dengan waktu sekejap mata ini tidak menunjukkan bahwa nabi Sulaiman lebih rendah dari padanya, tapi nabi Sulaiman tetap lebih tinggi dari Ashif bin Barkhiya.

Ada sebuah pertanyaan: Banyak kalimat-kalimat dalam manaqib yang tidak dimengerti maksudnya, lalu masih bermanfaat kah kalimat –kalimat ini sebagai sarana tawassul?
Sebenarnya dalam tawassul yang menjadi titik perhatian adalah tercapainya sebuah hajat. Adapun mengerti dalam do’a yang dibaca itu yang wajib diketahui adalah secara kully (tema permintaan) bukan secara tafsily (rincian arti kalimat ) dan bahkan mantra yang digunakan oleh orang pintar (semacam dukun) yang berbahasa Jawa tidak sedikit yang tidak mereka mengerti.

Sedangkan banyaknya pernyataan Syeh Abdul Qadir yang tak dapat dimengerti tidak terlepas dari maqom beliau yang yang sudah mencapai tingkat haqiqat. Sedangkan kita yang hannya maqom syariat, karena nnya tentu akan menimbulkan persepsiyang berbeda dalam kalangan sendiri . Seperti kisah dalam al-Qur’an antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir (QS.Al Kahfi). Yaitu ketika Nabi Khidir membocorkan perahu yang menyebabkan perahu tenggelam dan tak bisa digunakan lalu Nabi Musa berkata :”Laqod ji’tasyai an imra”.

Artinya:”sesungguhnya kamu telah membuat kesalahan yang besar. Lalu pada saat Nabi Khidir membunuh seorang anak padahal hukumnya haram lantas kembali Nabi Musa berkata :”Laqod ji’ta syai an nukra”. Artinya: “Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu hal yang mungkar”.

Dalam dialog diatas terjadi pertentangan (perbedaan) antara Nabi Khidir dan Nabi Musa. Nabi Musa memandang perbuatan Nabi Khidir dengan kaca mata syariat sehingga mengatakan Nabi Khidir adalah orang yang berbuat kesalahan besar dan berbuat kemungkaran . Akan tetapi Nabi Khidir melakukan itu semua berdasarkan kaca mata haqiqat yang sumber ilmunya tentu datang dari Allah dan sebuah maqom yang sangat tinggi. Dan untuk menjelaskan sesuatu yang tak dapat dipahami ini sebenarnya adalah tugas kita bersama yang tentunya jika kita sudah tahu maksudnya. Wallahu ‘alam.

Sumber: http://buletinalghadier.blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here