Sungkawa, Buya

0
173

Dalam kenang paling palung,
Ada kangen menggunung,
Seperti mataku yang tak pernah berani menabrak matamu,
Jatuh ke tanah, asal penciptaanku

Aku sudah di tepian laut tabahmu, Buya.
Menunggu kau melintas kembali,
Seperti sore-sore itu,
Ketika separuh matahari menusuk samudra, terangnya masih bisa kudapati juga.

“Shallallhu ala Muhammad,” bisikmu,
Penuh getar kami jadikan jalan harapan,
Bersama jasamu,
Mengaliri hidung kering yang telah lama tak mendarat di punggung telapak tanganmu.

Dalam kenang paling palung, Buya Ja’far,
Aku rindu.

Jakarta, 25 November 2019

Sobih Adnan

#SelamatHariGuru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here