Semua Karena Memilih Menjadi Santri

0
50

KHASKEMPEK.COM – Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs, setingkat SMP) di kampung halaman, saya tidak langsung melanjutkan pendidikan tingkat SMA. Bukan karena bingung memilih instansi pendidikan tingkat Atas, namun sebab orang tua tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan. Ibu dan Bapak bekerja serabutan. Tau betul betapa orang tua saya pada waktu itu ingin sekali agar saya bisa lanjut SMA. Mondar mandir mencari uang dan hutang demi bisa menuruti nurani terdalamnya, mengabdi pada Allah melalui pendidikan anak-anaknya.

Aktivitas hanya dijalani di kampung halaman tanpa kegiatan belajar, selain ngaji. Apalah daya, orang tua belum memiliki ongkos untuk menyekolahkan. Hingga ketika hampir dua tahun, Ibu dan Bapak menggeletuk kalau mereka punya uang, meski tidak banyak. Masih ingat, kurang lebih sekitar 400 ribu. Dengan uang itu mereka ingin agar anaknya berpendidikan, minimal untuk mendaftarkan di awal terlebih dahulu.

Sehari setelah itu, saya kaget ketika Bapak dan Ibu tidak jadi menyekolahkan saya di SMA, namun mereka meminta agar saya belajar di Pesantren. Ini pada tahun 2008. Yang saya bayangkan dan juga orang tua saya, di tahun itu di pesantren tidak ada sekolah umum. Dan tentu saja hanya mengaji dan mengaji.

Tidak lama setelah itu saya berangkat ke Pesantren bersama Bapak. Dengan membawa uang 400 ribu, ia nekat agar anaknya bisa berpendidikan. Dengan uang itu pula saya didaftarkan, meski pada waktu itu uang tidak mencukupi untuk membayar daftar di pesantren. Ia juga harus menyisakan uang sebesar itu untuk uang sakuku, sebagai Santri baru pada saat itu.

Sudah berada di pesantren. Saya jalani kegiatan mengaji dan interaksi dengan orang-orang yang baru dalam kehidupan. Sebagai Santri baru, tidak betah adalah keniscayaan. Namun ketika ingin pulang, selalu teringat betapa orang tua telah berjuang keras ingin agar saya mesantren. Hingga akhirnya betah di pesantren.

Setelah di pesantren, saya baru tau kalau di dalamnya ada juga sekolah umum, Madrasah Aliyah. Dengan berat hati dan kasian saya pun minta kepada orang tua agar saya juga sekolah umum, tidak hanya mesantren. Terasa berat memang meminta agar orang tua juga mendaftarkan di tingkat atas itu. Lewat setengah tahun, akhirnya orang tua menyekolahkan juga di SMA, dengan seserabutan kerjanya demi bisa membayar pondok dan sekolah saya.

Singkatnya hingga selesai SMA, saya juga menyelesaikan Alfiyah Ibn Malik. Entah sama sekali tak terbayang. Karena menyelesaikan Alfiyah Ibn Malik butuh kesungguhan, dan tentu untuk membayar tetek bengeknya yang tidak murah bagi orang tua saya. Namun semua itu terlewati dengan manis. Bahkan alhamdulillah, dalam acara wisuda Alfiyah mendapatkan peringkat awal di antara 35 khotimin lainnya.

Pasca selesai mesantren, saya punya keinginan kuliah. Tidak mungkin untuk ini meminta uang pada orang tua. Karena pasti akan juta-jutaan. Uang dari mana. Orang tua saya pasti belum sanggup untuk menuruti keinginan kuliah. Hingga akhirnya mengikuti tes beasiswa di banyak kampus. Dua kampus di Cirebon dan satu di Jakarta. Semua lulus dengan mudah karena tesnya fokus bahasa Arab dan baca kitab, yang itu menjadi keseharian di pesantren.

Akhirnya saya memilih kuliah di Jakarta. Tanpa biaya apapun dari orang tua. Namun dukungan dan doanya yang membuat saya hingga selesai di S1. Hingga akhirnya sayapun menyelesaikan S1 dalam waktu 3 tahun 8 bulan dan langsung melanjutkan ke Pascasarjana dengan biaya sendiri. Sama sekali tidak dibayar orang tua. Dalam itu doa merekalah menjadi senjata ampuh saya menyelesaikan dari satu pendidikan ke pendidikan lain, hingga dalam proses Pascasarjana.

Saya masih belum bisa apa-apa memang. Tapi banyak orang tidak menyangka kalau saya bisa sampe kuliah S2 tanpa membebani orang tua. Saya hanya bisa menjawab, bahwa semuanya adalah berkat doa dan dukungan orang tua, serta karena keberkahan pesantren selama menjadi Santri. Pesantren membukakan pintu untuk saya bisa melanjutkan pendidikan hingga S2. Keberkahan di dalamnya benar-benar memberi kekuatan.

Menjadi Santri memang menjadi orang yang kekurangan. Tapi percayalah bahwa akhirnya akan ada titik manis. Menjadi Santri adalah menjadi pengabdian Allah. Hingga akhirnya Dia mempersiapkan kita masuk ke mana kita mau.

Selamat Hari Santri Nasional 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here