Sekelumit Tentang Karya (Tafsir) Syekh Al-Jailani R.A.

Karya Sayyid Syarif Syekh Muhyiddin Abi Muhammad Abdul Qodir Al-Jailani Al-Hasani

0
247

KHASKEMPEK.COM – Kami sengaja menyebut karya Syekh Al-Jailani dan tidak menggunakan istilah Tafsir Syekh Al-Jailani, yang akan dijelaskan pada bagian mendatang. Dalam karyanya ini, Syekh Al-Jailani menyusun surah dan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurut dengan menghubungkan satu dengan yang lain.

Disetiap surah, ia membuat muqaddimah yang disebut dengan istilah “Pendahuluan Surah” (فاتحةالصورة ), lalu menutupnya dengan bagian penutup yang disebut dengan istilah “Penutup Surah” ( خاتمة السورة ).

Dibagian ini, Syekh Al-Jailani menempatkan ringkasan dari kandungan isi surah yang bersangkutan, meski biasanya Syekh Al-Jailani mengisi bagian penutup ini dengan do’a untuk seluruh umat Islam dan orang-orang yang hadir dalam majelis di saat dulu ia menyampaikan tafsir ini.

Hal lain yang terkenal dari Syekh Al-Jailani adalah kedudukannya sebagai Imam di madrasah yang ia dirikan dan ia bina, hingga memberi hasil yang baik. Syekh Al-Jailani adalah salah satu tokoh awal yang menggugah para pemuda yang alpa dimasa itu. Ia menghembuskan semangat untuk kembali pada Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Dengan yang dilakukannya itu, Syekh Al-Jailani telah menjadi pembuka jalan bagi kemunculan Shalahuddin Al-Ayyubi rahiimahullah. Dengan semangat yang ditumbuhkan oleh Syekh Al-Jailani pada generasi masa itu, di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi pasukan Islam berhasil menaklukkan bangsa Eropa serta membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman mereka.

Semua prestasi itu hanya dapat terwujud dengan membebaskan pemikiran dan ruh generasi muda dari segala bentuk kerusakan material, moral dan intelektual, melalui pengaruh kuat dari semangat yang muncul di masa Syekh Al-Jailani.

Bukankah semua ini hanya dapat terwujud dengan kembali kepada nilai-nilai Islam yang berasal dari Kitabullah melalui pembaharuan keimanan, penguatan ketakwaan dan hubungan dengan Allah SWT.

Sungguh, Syekh Al-Jailani melakukan semua itu dalam berbagai aktifitas pengajaran, pengarahan dan karya-karya tulisannya. Karya Tulis Syekh Al-Jailani yang sedang anda pegang ini memiliki peran penting dalam hal ini.

Dalam kitab ini, Syekh Al-Jailani tidak sekedar menafsirkan Al-Qur’an dengan pola tafsir yang semata-mata mengandalkan ilmu dan pemahaman seperti yang lazim terdapat dalam berbagai kitab tafsir lain, tetapi tafsir ini lebih banyak bertumpu pada pemaparan berbagai sugesti yang menghidupkan ruh serta dapat menumbuhkan ketakwaan disatu sisi, dan disisi lain mampu mengikat murid dengan gurunya, sehingga guru dapat terus meningkatkan kualitas murid mencapai derajat setinggi mungkin.

Lewat karyanya ini, Syekh Al-Jailani ingin meletakkan kita dijantung karyanya yang sedang anda pegang ini. Ia tidak menamakan kitab ini dengan istilah “penafsiran Al-Qur’an”, melainkan menyebutnya sebagai:


بالفواتح الألفية والمفاتح الغربية الموضة للكلم القرانية والحكم الفرقانية

“al-Fawaatih al-Ilaahiyyah wa al-Mafaatih al-Ghoibiyyah al-Muwadhdhihah li-l-Kaliim al-Qur’aniyyah wa al-Hikam al-Furqooniyyah”.

Maksudnya, dalam kitab ini, Syekh Al-Jailani berbicara tentang pelbagai pengaruh inspiratif yang berasal dari Al-Qur’an terhadap dirinya yang notabene adalah seorang ahli ibadah dan zuhud, yang selalu berupaya mendaki tangga kedekatan menuju Allah SWT.

Padahal kita tahu bahwa Al-Qur’an memiliki sekian banyak inspirasi dan isyarat yang beragam bagi masing-masing orang, sesuai dengan kualitas mujahadah dan jihad yang dilakukannya untuk mencari keridhoan Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik“. (QS. Al-Ankabut 69).

Dalam ayat ini Allah tidak menggunakan kata ” سبيلنا sabil” dalam bentuk singular (مفرد), melainkan menggunakan kata “سبلنا subul” dalam bentuk plural (جمع).

Maksudnya masing-masing orang akan menangkap inspirasi dan isyarat tertentu dari Al-Qur’an. Sementara efek dan stimulasi Al-Qur’an terhadap tiap-tiap orang akan berbeda sesuai dengan tingkat spiritual (marhalah) yang dicapainya dan dengan seluruh aspek kehidupan yang dijalaninya.

Rupanya Syekh Al-Jailani ingin menjelaskan bahwa karyanya ini bukanlah tafsir seperti tafsir yang lain pada umumnya, melainkan adalah sebuah kompilasi inspirasi dan isyarat yang seiring dengan irama kehidupan, ruh, dan gerak yang muncul dari kalbu ahli ibadah yang selalu berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla.

Karya ini menjadi manifestasi dari segenap perasaan, emosi, gerak, inspirasi, isyarat, dan curahan kalbu Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Perlu dilihat, ada bagian yang berisi terkesan mendukung faham “wihdatul wujud”, padahal Syekh tidak memiliki hubungan dengan filsafat ini.

Dalam kitab ini, Syekh tidak mengutip pendapat siapa pun, kecuali ada beberapa dari Sayyidina Ali ra, Sayyidina Ibnu Abbas ra, dan beberapa shahabat lain.

Dalam “aayaatul ahkam ( ايا ت الاحكام ) Syekh menyebutkan secara singkat mengenai hukum fiqih sambil terkadang menyampaikan peringatan tentang qiraat-nya. Dalam qiraat, Syekh tidak selalu mengikuti Imam Hafash dan terkadang menggunakan beberapa jenis qiraat tanpa menyebutkan sumbernya.

Untuk melihat isi kitab ini, Syekh Al-Jailani menyatakan, “harus senantiasa menggunakan intuisi perenungan; bukan dengan logika pemikiran, menggunakan dzauq dan nurani; bukan dengan menggunakan dalil dan argumentasi, serta menggunakan kasyaf dan kejernihan; bukan menggunakan kalkulasi ukuran-ukuran.”

Demikian nukilan kitab ini, disarikan dengan penyesuaian postingan dari muqaddimah Kitab Tafsir Al-Jailani Juz 1 halaman 28 – 30 dan Terjemahnya oleh Pentahkik Kitab : Syekh Dr. Muhammad Fadhil Jailani Al-Hasani At-Tailani Al-Jamazroqy.

Penulis sendiri Alhamdulillah pertama kali bisa tabarrukan mengaji langsung pada Syekh Fadhil dengan dibacakan oleh Kiai Mushthofa Aqiel muqoddimah kitab ini Juz 1 yang semuanya ada 6 jilid, pada 01 November 2015 setelah acara Haul Pesantren Khas Kempek ke-26.

Mari bareng-bareng mengaji (ngafsahi) dengan kiai dan guru kita, KH. M. Musthofa Aqiel Siroj, di masa mihan menghadapi situasi pandemik Covid-19 ini, santri milenial harus tetap “di rumah aja” tetapi selalu produktif untuk tetap mengaji dengan teknologi masa kini, Online setiap malam pukul 20.45 – 22.00 WIB di Channel YouTube Khas Kempek.

Semoga kita mendapatkan barokah, karomah dan manfaatnya. Aamien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here