Oleh Sobih Adnan 

Jari telunjuk Kiai Ahsin masih bermain di bibir cangkir. Gerakannya melingkar berulang, dan teratur. Semacam meneruskan zikir yang belum rampung usai mengimami salat Asar.

Kami tak berani menegur lebih dulu. Cuma bisa menunduk. Seakan-akan tengah memerhatikan pola permadani merah di ruang tamu, sederhana, namun begitu bersih dan membuat kami betah berlama-lama.

Begitulah cara kami, sebagai santri, di saat sowan ke hadapan KH Ahsin Syifa Aqil, pengais bungsu keluarga Mbah Aqil Siroj, di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Ahsin, punya tempat tersendiri di benak santri dan alumni. Alumnus senior pernah bilang, dialah sang paku bumi. Sosok zuhud, yang benar-benar memasrahkan 24 jam waktunya untuk pesantren.

Ketika Buya Ja’far, Buya Said, Kiai Musthofa, dan Kiai Niam -sapaan karib masyayikh kami-, dituntut melayani lebih banyak ruang, kami tetap merasa tenang, ada Kiai Ahsin yang tak kurang sedikit pun perhatian.

Di luar, hujan kembali turun perlahan. Kiai Ahsin tetiba menyapa kami, para tamu; penulis, kedua kakak yang juga pernah memburu berkah di pesantren ini, juga seorang kakak lulusan Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Yang tidak akan kami lupa, kala Kiai Ahsin mulai menyuguhkan senyum kepada para tamunya. Cara kerjanya seperti doa, menenangkan.

Jelang Magrib di bulan Maret 2013 itu, tak lain dan tak bukan, kami bermaksud memohon rida dan doa. Melalui juru bicara kakak paling tua, dia menceritakan tujuan kedatangannya ihwal penulis yang akan segera menikah.

Senyum yang menenangkan itu, kembali kami saksikan. Kiai Ahsin, menyilakan kami untuk meminum teh hangat, dengan beberapa butir gula batu yang terpisah di atas lapik cangkir. Semacam penanda, tak semua orang mempunyai selera yang sama.

Usai jeda sekira setengah menitan, Kiai Ahsin menyorongkan cangkir miliknya beberapa puluh sentimeter ke tengah ruang obrolan yang sengaja diatur lesehan. Kemudian, ia turunkan cangkir miliknya dari tatakan dengan jarak sekilan saja.

“Kamu tahu, lapik ini memang dibuat dan diproduksi untuk cangkir yang tadi sempat bertengger di atasnya?” kata Kiai Ahsin, memancing rasa penasaran kami.

“Bahan, ukuran, dan coraknya, sama. Fungsinya, juga saling melengkapi. Inilah jodoh yang tak bisa dipungkiri,” katanya, lagi.

Kami cuma bisa menerka-nerka tafsir dari wejangan yang disampaikan. Tekad bersabar, menunggu kelanjutan nasihat yang kami rasa pasti memiliki nilai istimewa.

Namun, kata Kiai Ahsin melanjutan, sejodoh-jodohnya barang, secocok-cocoknya makhluk, ketika dipasangkan nyaris pasti menimbulkan bunyi seberapapun pelan dan senyapnya.

“Ting!” begitu bunyi yang terdengar ketika Kiai Ahsin kembali meletakkan cangkirnya di atas tatakan.

Kami mulai paham. Kiai Ahsin sedang memberikan kami rambu, dalam sebabak pernikahan, ada sekian banyak tantangan dan cobaan yang siap mengadang.

Prasyaratnya cuma satu, komitmen. Ditambah kesadaran bahwa bukan kesamaan yang mengantarkan orang per orang berpasangan. Tapi, justru perbedaan yang dimilikilah yang bisa menjelma peluang untuk dikelola menjadi sesuatu yang dapat saling melengkapi.

Konflik, cekcok, ketidakselarasan, salah sangka, curiga, cemburu, stagnan, mati rasa, dan seabrek kemungkinan lain yang menyertai bahtera rumah tangga, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Kiai Ahsin bilang, selama dada masih memendam iman dan niat baik dalam ikatan perkawinan, semuanya bakal terasa biasa-biasa saja.

Nashihat ini, pesan Kiai Ahsin, tak tertuju khusus kepada mempelai pria maupun perempuan. Keduanya berpotensi dihampiri problem serupa.

Agama, cuma menanamkan hikmah berlomba dalam menunaikan kebajikan. Apa-apa yang datang, mesti diselesaikan pula dengan semangat kebaikan.

Menyitir definisi cekcok yang disuguhkan Imam Ibn Jarir at Thabari dalam tafsirnya, Kiai Ahsin mengatakan bahwa makna konflik dalam rumah tangga adalah ketika suami dan istri saling menyusahkan salah satu pihak. Peluangnya sama dan amat memungkinkan mengantarkan semuanya kepada risiko besar ketika tak diolah dengan penuh rasa sabar.

Istri yang nusyuz, misalnya, – jika tanpa dikomunikasikan telaten dan pelan-pelan- akan berdampak pada perilaku suami yang salah kaprah pula. Rujuk tidak, melepaskan dengan baik-baik pun; enggan.

Padahal, jika amat masyhur didengar nasihat “jodoh, mati, dan rezeki berada di tangan Tuhan”, maka, keputusan-keputusan yang diambil dalam sebabak kebuntuan pun tak halal mengabaikan kebaikan.

Ihwal pernikahan, begitu terang dalam Q.S Al Baqarah: 299, fa imsaakun bi ma’rufin aw tasriikhun bi ikhsan. Kebersamaan atau perpisahan, tetap diwajibkan diambil melalui jalan kebaikan.

Begitu, nasihat Kiai Ahsin untuk calon pengantin. Kami yang pernah mendengarnya, masih seperti kala bertamu, menunduk, memendam rindu dalam-dalam.

Sekarang, terhitung sudah empat tahun Kiai Ahsin berpulang. Kami masih mengenang senyumnya yang tak lain adalah keindahan. Serta wejangannya yang selalu mencerahkan. Al Fatihah…

Penulis adalah alumnus angkatan 2009 Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat