Sajak Lima Kiai

0
258

Oleh : Muhammad Rizik Fajri Tsani*

Kiai pertama,
tentang selawat yang sudah lazim dilafadzkan.
Mendawamkan do’a di tiap rutinitas kehidupan,
seperti tak pernah putus,
seperti tak terpisah,
seperti sebuah hiasan. Selawat sudah menyatu;
dalam bathinnya.

Kiai kedua,
tentang keluasan pemikiran.
Memaknai arti sebuah toleran, menyikapi hal dengan ketegasan,
hingga perilaku yang sesuai untuk diterapkan.
Sebuah ilustrasi, khazanah ilmu yang luas,
gagasannya tak akan mampu surut
ditelan sebuah waktu.

Kiai ketiga,
tentang kealiman fii dzohiriyah wa bathiniyah,
baik yang nampak maupun tak nampak
Menebarkan syariah dengan jalur dakwah
Bil lisani wa bil amali, berupa lisannya maupun perilakunya
Seperti petuah; menyampaikan juga melakukan
Masyarakat juga menaruh hati,
Berupa ‘kepercayaan’.

Kiai keempat,
tentang kesederhanaan, yang lebih sederhana
dari kata sederhana.
Yang terjaga dari jagat raya, dari kecamuk angkara
Juga tentang sebuah pilihan, untuk menetap;
dalam pengajaran ayahanda. Beliau tak beranjak kemana-mana,
Tapi ilmunya begitu manfaat kepada sesama,
Yang diwariskan berupa sifat mengayomi. Mengayomi apa saja,
Termasuk menyampaikan cara berterimakasih

Kiai kelima,
tentang adaptasi di zaman milenial,
tentang bagaimana menyikapi sebuah kerancuan.
Pesannya selalu diukur berdasarkan efisiensi peradaban.
Bukan berupa daya saing yang didengungkan.
Hanya sebuah penegasan,
kelak akan merasakan betapa pentingnya meluruskan
Tatkala ada yang tersesat di simpang jalan.

Sajak lima kiai,
Dari sekian banyak yang aku sebutkan, namun hanya satu yang aku takuti.
Aku hanya takut,
tak mampu mengikuti jejak langkahnya.

*Ikhwan KHAS Semarang