Refleksi Haul dan Khotmil Qur’an Ke-30 Ponpes KHAS Kempek (3)

0
97

KHASKEMPEK.COM – Tulisan ini adalah bagian terakhir dari lima hal yang bisa penulis hadirkan mengenai makna, pesan dan kesan pada peringatan Haul KH. Aqiel Siroj. Dan sekarang adalah tiga yang terakhir :

III. Untuk silaturrahim, transformasi ilmu, sosial, budaya antara santri, alumni, masyarakat bersama ulama dan umaro.

QS. Al-Jumu’ah ayat 2 :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِين

” Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah, meskipun mereka sebelum itu benar-benar terjerumus dalam jurang kesesatan yang nyata “.

Dalam pengajian di malam haul, Pembina Yayasan Khas Kempek, Buya KH. Said Aqiel Siroj menyampaikan ceramahnya bahwa dakwah Nabi Muhammad Saw bukan hanya membawa akidah dan syariah, tetapi juga peradaban dan kemanusiaan.

Situasi Arab pada saat itu dari sisi peradaban disebut ummiyyin; buta huruf dan primitif, sedang dari sisi agama theologi disebut dholalin mubin, atau populer dg istilah jahiliyah baik ilmu maupun agamanya. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw berhasil mengkader para shahabat.

Langkah-langkah yang dilakukannya adalah seperti yang disebutkan dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2, yakni ;

  1. Yatluu ‘alaihim aayaatih,

Diperkenalkan membaca ayat AlQur’an. Artinya, dalam membangun umat itu dibutuhkan kecerdasan dan kepandaian dalam membaca. Bukan hanya teks, tetapi juga membaca hal yang tersirat.

Nabi Muhammad Saw mengkader shahabat golongan pertama, assabiqunal awwalun dengan harus bisa baca AlQur’an dengan benar.

Yai Said menegaskan, bahwa pesantren harus tetap mengajarkan Al-Qur’an dalam berbagai metodenya, sehingga beliau menyesalkan apabila ada pesantren yang sudah tidak mewajibkan untuk mengaji Al-Qur’an. Sekalipun pesantren itu modern kalau tidak khatam Al-Qur’an berarti kurang bermutu.

Dalam sejarah, Shahabat Umar bin Khattab ra. masuk Islam dikarenakan mendengar bacaan Al-Qur’an.

Kiai Said melanjutkan ceritanya, Sayyidina Umar ra. pulang dari berburu, dia marah mendengar adiknya Fatimah bintil Khattab bersama suaminya Said bin Zaed bin Nupail masuk Islam. Kemudian ia berniat membunuh adiknya itu, ia pergi kerumahnya dan masuk sedangkan adiknya sedang melantunkan Qur’an surat طه , ia menanyakan barusan apa yg dibaca, adiknya menolak karena kakaknya masih (mengandung) najis (tidak punya wudlu) tetapi dengan mendobrak pintu tetap merebutnya kemudian sambil gemetaran membacanya.

Setelah selesai dia bertanya “‘Aina Muhammad ?”. Dia segera ke Nabi di rumah Arqom bin Abi Arqom di Jiyad Shud. Diketuknya pintu sedang para shahabat ketakutan atas datangnya sang jawara zaman itu. Dengan tenang dan tersenyum Nabi memerintahkan ” Iftah lahu albab! ” .

Nabi sebelumnya sudah berdo’a : “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan salah satu diantara dua Umar, Umar bin Khaththab atau Amru bin Hisyam alias Abu Jahal. ” (HR. Tirmidzi)

Dari doa ini, dengan sebab Allah memberi hidayah, Umar masuk Islam setelah mendengar bacaan AlQur’an.

AlQur’an adalah sumber bacaan. Kiai yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden Religion for Peace ini melanjutkan : AlQur’an bukanlah kumpulan syair, tapi ada syairnya. Ia juga bukan karangan sajak, tapi banyak sajaknya. Ia bukanlah kitab ilmiah, tapi mengandung ilmiah. Ia juga bukan dongeng, tapi isinya penuh sejarah. Ia juga bukan khayalan, tapi menuntun untuk berimajinasi.

Seperti biasanya, kemudian beliau melantunkan qosidah yang begitu panjang, tanpa diterjemahkan yang isinya mengenai sifat-sifat Al-Qur’an, diantaranya adalah tidak membosankan meski dibaca berulang-ulang. Bahkan AlQur’an dihafal sangat gampang oleh siapa saja meski tidak mengerti kandungan maknanya. Anak kecil sangat mudah untuk menghafal setiap halaman²nya dalam waktu yg relatif singkat, akan berbeda dengan tulisan atau bahasa asing semisal Cina, Jepang atau Jerman pasti akan mengalami kesusahan dan membutuhkan waktu yg lama.

Buya Said sendiri mengakui telah hafal sekitar 23 juz, meski akhir² ini banyak yg lupa karena berbagai persoalan.

Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, Prabu Siliwangi Raja Padjajaran di Jawa Barat pun masuk Islam karena keindahan bacaan AlQur’an sang kutilang, Nyai Subang Larang, santri putri Syekh Quro.

  1. Wa yuzakkiihim,

Artinya membangun sikap dan karakter (character building). Nabi Saw merubah karakter, norma, budaya, akhlak, dan peradaban bangsa Arab. Sehingga memiliki jiwa dan nafsu yg berkarakter unggul.

Dalam setiap diri manusia itu ada dua perangkat hawa nafsu. Nafsu ghodlobiyah dan syahwatiyah. Ghodlobiyah adalah interest. Adapun syahwatiyah yakni hasrat.

Selama nafsu ghadlobiyah dan syahwatiyah disinari dengan خواطر إلهية atau direct illumination from Allah, maka ghodlobiyah menjadi himmah (همّة) dan syahwatiyah menjadi ‘azimah (عزيمة).

“Saya harus jadi bupati, gubernur, jadi presiden”, bila niatnya baik, karena benar, dan tujuannya لمرضاةالله , maka itu bukan hubbul jâh (حب الجاه/suka pangkat), tapi namanya himmah”.

Nabi Muhammad Saw., Walisongo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah mempunyai himmah yg besar. Kyai Wahab dulu berdakwah muter dari daerah ke daerah di Indonesia pada saat belum ada pesawat. Dari Menes Banten, Bogor, Palembang, Kiai Abbas Buntet, Kiai Syathori Arjawinangun, Kiai Amin Sepuh Babakan Cirebon, Cilacap, Semarang, Jogja sampai NTB dan Sulawesi.

“Saya harus kaya, banyak duit, pabrik, sawah dan kebun, atau bahkan perusahaan. Asal niat, cara, tasharrupnya baik, itu bukanlah nafsu syahwatiyah, tetapi azimah (عزيمة)”.

Seandainya kita naik ke gunung, maka kita akan mendapati gunung ada dibawah terinjak oleh kaki kita, padahal sebelumnya gunung adalah sesuatu yang besar dan tinggi yang tidak mungkin akan terjangkau.

والله لو وضعوا الشمس في يميني والقمر في يساري ما تركت هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك دونه

“Seandainya mereka meletakkan Matahari di tangan kananku dan Bulan di tangan kiriku, untuk meninggalkan jalan dakwah ini, saya tidak akan meninggalkan dakwah sampai saya hancur”.

Demi dakwah, Nabi himmahnya besar, pungkas Kiai Said dalam menjelaskan “wayuzakkiihim”.

  1. Wa yu’allimuhumu alkitaaba,

Artinya pendidikan, transfer of knowledge, ilmu pengetahuan dan skill.

Kiai Said menyatakan : “jangan dikira pesantren tidak ada ilmunya, pesantren penuh dengan ilmu pengetahuan”. Kemudian beliau menunjukkan dua nadhom. Seperti biasa membuat terpukau para hadirin dengan keluasan wawasan dan ilmunya, dengan tetap diselingi humor ala santri.

زيد الطويل الابيض ابن مالك *
فى بيته بالامس كان متكى

في يدهِ سيف لواه فالتوى *
فهذه مقولات عشر سوا

Seandainya diafsahi secara harfiyah, maka kurang lebih artinya ” Zaid adalah seorang yang tinggi, kulitnya putih dan dia anak dari Pa Ibnu Malik *
Ia ada di rumahnya kemarin dan sedang nongkrong “.

“Bersamanya sambil memegang golok yang dibengkokkan, jadilah bengkok”.

Beliau melanjutkan, nadhom ini mengandung kategoriteen (teen category) yakni ;

١. زيد : Esensi

٢. الطويل : Kuantiti

٣. الابيض : Kualiti

٤. ابن مالك : Relasi

٥. في بيته : Place

٦. بالامس : Time

٧. كان متكي : Posisi

٨. بيده سيف : Punya apa/To have

٩. لواه : Aksi

١٠. فالتوى : Reaksi

Ini adalah mukaddimah falsafah agar kita bisa menilai seseorang dengan benar, dengan objektif. Terlepas dari like and dislike.

Diketahui bahwa nadhom ini terdapat dalam kitab kecil, namanya Ja-a Zaidun (Zaed datang) karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

  1. Hikmah,

Artinya wisdom, hikmah, kebijaksanaan.
Orang sepinter apapun, sealim siapapun ia harus punya wisdom, hikmah. Dan hikmah datang bukan dari kitab, tulisan, guru, atau sekolah, tetapi ia adalah cahaya ;

هو نور يقذفه الله فى قلب من يشاء

atau direct illumination, melalui khowatir. Dengan خواطر إلهية masuk pada dzauq intuitif, maka jadilah ilham, kasyaf dan makrifat.

Jikalau dari خواطر ملكية maka akan menjadi علم الحق وعلم اليقين.

Seandainya خواطر itu datang dari hawa nafsu, maka akan timbul sikap angkara murka, tamak dan rakus.

Dan apabila خواطر itu datang dari syaitan, maka akan timbul was².

Pesantren harus bisa memenej dzauq, intuisi ini agar para santri mendapatkan نور يقذفه الله فى قلب, karena lanjut Buya Said, diluar institusi pesantren tidak ada yang memiliki wisdom, hikmah.

Inilah satu ayat dari AlQur’an surat AlJumu’ah ayat 2 yang mengandung makna sangat luas dan mengajarkan nilai² yg luar biasa, imbuhnya.

IV. Terjalin ‘alaqoh ( komunikasi ) dan persaudaraan antara pengasuh, wali santri, alumni dan masyarakat lingkungannya, menuju persamaan visi dan persepsi dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Makna, pesan dan kesan yg ke empat ini, penulis menukil sebagai berikut ;

KH. Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Dar At Tauhid Arjawinangun Cirebon, usai mengikuti tahlil yg dipimpin oleh KH.Ni’amillah Aqiel Siroj menulis bahwa “Persatuan itu lebih Utama”. Beliau memposting dalam akun FB dan IG nya sebagai berikut ;

Kemarin sore, 28.09.19, aku hadir dalam haul para kiyai Pesantren KHAS (Kiyai Haji Aqil Siraj). Hadir Kiyai Said, Kiyai Musthafa dan ratusan kiyai serta ribuan santri. Usai Tahlil, Kiyai Said Aqil, ketum PBNU, menyampaikan sedikit info tentang situasi mutakhir bangsa ini.

Ada satu hal yang aku kira penting dicatat dari info itu. Katanya: tgl 17-08.1945, Pancasila berdasarkan piagam Jakarta disetujui oleh BPUPKI. Tetapi saudara-saudara kita dari wilayah Indonesia bagian timur tidak setuju dengan 7 kata pada Sila 1. Kemerdekaan ini hasil dari perjuangan semua rakyat dengan keberagaman latarbelakangnya: suku, etnis dan agama/keyakinan, dll.

Lalu Kiyai Wahid Hasyim, ayah Gus Dur pulang ke Jombang untuk menemui ayahnya Hadratussyeikh Kiyai Hasyim Asyari dan menginformasikan keberatan atas 7 kata tsb. Kiyai Hasyim shalat Istikharah. Paginya menyampaikan kepada anaknya bahwa setuju menghapus 7 kata itu. “Persatuan bangsa itu prinsip dalam Islam. Kita tidak bisa mengisi kemerdekaan dalam keadaan bangsa yang terpecah belah”, kata beliau. Lalu kiyai Wahid menyampaikan hal itu kepada panitia BPUPKI. Dan mereka pun menyetujuinya.

Begitu cerita Kiyai Said. Setelah itu kami “diaturi” makan enak, ayam bakar muda di rumah kiyai Musthafa Aqil, menantu Kiyai Embah Maimun Zubair itu.

Berbeda dg Kang Husein, KH.Yusuf Khudhori Pengasuh Ponpes Api Tegal Rejo dalam mengisi tausiyah di siang hari menjelaskan bahwa Nabi Saw dakwah di Makkah banyak sekali mendapatkan ujian, tapi beliau tetap sabar. Beliau di hina “Anta majnun!” justru Nabi tersenyum.
Dilempari batu sampai berdarah, justru Kekasih Allah ini mendo’akan ” Ya Allah, berilah petunjuk pada umatku, karena mereka tidak mengetahuinya !”.

Para shahabat berpendapat, kita lebih baik pindah ke tempat yg lebih aman wahai Nabi! Beliau menjawab, Allah belum memerintahkan untuk itu. Sayyidana Umar mengusulkan, lebih baik kita hadapi saja, jangan hijrah, karena akan nampak lemah! Berbedaan pendapat itu semua ada dalilnya.

Dalam sebuah riwayat, suatu ketika Shahabat Ali bin Abi Thalib diperintahkan untuk tidur diatas ranjang Nabi Saw, Sayyidina Ali mau dan berani padahal taruhannya nyawa.

Ini memberikan ajaran bahwa seorang santri ketika diperintah oleh sang guru, harus sami’na wa atho’na, karena tidak akan pernah seorang guru mencelakakan muridnya.

Santri memperoleh barokah dan manfaat karena ridhollah biridhol masyayikh, الاخلاق فوق العلم.

Gus Yusuf berpesan, Jangan sampai santri dan alumni Tegalrejo mengikuti organisasi di luar NU, apabila ada santri yg ikut-ikutan faham ekstrim radikal, maka tidak masuk akal, ashluhu dan ‘ala wazni nya ngga jelas, tegas beliau.

Senada dengan Gus Yusuf, pada malam ahad, Menteri Ketenagakerjaan RI, Pa Hanif Dzakiri memberi sambutan, bahwa kita jangan ragu, rumus hidup berkah dunia akhirat adalah gampang, dengan ikut kiai NU.
Kiai NU menggunakan sesuatu tradisi yang bertentangan dengan syariat, itu pasti mustahilun. Maka kita percaya pada Yai Said dan Yai Musthofa, imbuh Gus Hanif

Kita harus bersyukur menjadi orang Indonesia yg muslim. Alasannya adalah terdapat berkah tersendiri, karena segalanya berada ditengah², خير الامور اوساطها, kita lihat ;

  1. Indonesia punya musim dingin dan panas, tidak terlalu dingin sampai timbul butiran es salju, atau terlalu panas.
  2. Beliau tiap tahun mengikuti konferensi ketenagakerjaan di Swiss Jenewa, disana puasa bisa sampai 18 – 23 jam, karena siang lama, malam sebentar. Bahkan di belahan Eropa yg lain, puasanya hanya 8 atau 9 jam. Di Indonesia jadi berkah tersendiri, lama puasa 12 jam, termasuk sedang.
  3. Sebagaimana NU yg tengah², orang Indonesia tidak ekstrim kanan, atau kiri. Islam Indonesia harus terus berkembang sg cita rasa Nahdlatul Ulama, Islam yg moderat, tengah², toleran, dengan konsep tawazun, tawasuth dan tasamuh.
  4. Jauh sebelum merdeka, adanya NKRI pesantren sudah mengabdi, mendidik masyarakat. Seluruh permasalahan mereka, mencari solusi selalu pada kiai ; mau nikah, punya anak, buat rumah, istrinya cerewet, suaminya nakal, dsb. Akan tetapi lanjut Gus Hanif, giliran politik dan pilihan, mohon maaf, mereka melakukan ijtihad sendiri, tidak seirama dg sang kiai, imbuhnya.

Hampir sama dg Menteri, dalam memberi sambutan atas nama Panitia, KH. Muhammad Bin Jafar menekankan pada para santri dan muhibbien bahwa melalui haul ini kita mempertebal kembali, menguatkan kembali alaqoh para alumni dan santri dengan pendiri, sesepuh pesantren terutama dalam rangka sami’na wa atho’na. Kita hadir disini dalam rangka tabarrukan, serta ikut mendoakan ketentraman dan kedamaian Republik Indonesia yang kita cintai ini.

V. Mengevaluasi dirosah
( pengajaran ), pemberdayaan masyarakat selama satu tahun pelajaran.

Pengasuh Khas, KH. M. Musthofa Aqiel menyampaikan bahwa Qur’an Kempekan “larang regane”, belajar Fatihah saja bisa sampai 2 – 3 bulan, ini yg disebut mahal. Karena santri harus membaca dg “biqiroatin muhaqqoqotin, wa qiroatin mujayyadah”, harus tartil, jelas makhorijul hurufnya, tebal tipisnya, tegas ndengungnya, dst.

Di Kempek ngaji turutan tidak dilagu, karena masih bahan dan merupakan dasar. Sebagaimana membuat rumah, ia adalah batu bata dan pasir, rumah akan dibentuk dan dihias terserah oleh pemiliknya apabila bahan dasarnya sudah ada. Di Pesantren Sarang, Lirboyo juga diajarkan Qur’an Kempekan, dengan cara tegas dan galak, agar kesalahan baca tidak dibawa sampai tua. Meski ada hadits seperti ini, tapi semoga tidak termasuk hal ini ;
ليس منا من لم يتغن بالقران

Perlu diketahui, peserta khatmil Qur’an sekarang ini, ada dua santri yg tidak boleh ikut khataman, disamping malas juga bacaannya masih jauh dari fashih.

Demikian makna, pesan dan kesan rangkaian acara haul dan khotmil Qur’an Ponpes Khas Kempek Cirebon.

Penulis hanya tabarrukan dengan memanfaatkan waktu “min furshotil faroghi” untuk menyusun apa yg disampaikan oleh beliau² yg rawuh dalam acara yg penuh berkah ini.

Mungkin tidak terlalu jauh, apabila hal ini diumpamakan sebagai sebuah jamuan makan sate para rawuh, maka penulis hanya berebut mengumpulkan sisa² sate yg setiap pangkal daging sate yg mentah dari setiap tusuk yg tidak dihabiskan oleh si pemakannya. Kemudian disusun ulang menjadi tusukan baru dan dibakar kembali sehingga mateng seluruhnya. Sate dg tampilan baru ini akan menjadi santapan lezat santri² sekelas penulis yg haus akan manfaat dan berkah.

Semoga kiai² kita yg telah tiada akan mendapatkan tempat di surga, dan semoga guru² kita yg ada tetap diberi kekuatan lahir dan batin untuk melanjutkan pengabdian kepada pesantren, umat dan negara.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan keberkahan, manfaat dan keridhoan dari kiai, guru² kita aamien.

Semoga bermanfaat,
Tidak bersambung lagi, 12.10.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here