Refleksi Haul dan Khotmil Qur’an Ke-30 Ponpes Khas Kempek (2)

0
105

KHASKEMPEK.COM – Tulisan ini adalah kelanjutan pesan, kesan dan makna yang bisa penulis lihat dari acara haul.

Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah memberi kekuatan lahir batin hingga perjuangan para pendahulu dapat diteruskan dan dilestarikan,

Penulis mengawali dengan mencantumkan silsilah Pesantren Khas Kempek.

Garis keturunan Syaikhona Mbah Aqiel akan sampai pada Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Prof. DR. KH.Said Aqiel Siroj, MA menyebutkan dengan diawali dari Pangeran Nuruddin Raja Kanoman Cirebon mempunyai 2 putra yang terkenal;

Pangeran Nuruddin (Raja Kanoman) bin
KH. Murtasim bin
KH. Said (Gedongan) bin
KH. Siroj bin
KH. Aqiel (Kempek)

Pangeran Nuruddin (Raja Kanoman) bin
KH. Muta’ad bin
KH. Abdul Jamil bin
KH. Abbas bin
KH. Abdullah Abbas (Buntet)

KH. Said putra KH.Murtasim nikah misanan dengan Ny. Hj. Maemunah putri KH. Muta’ad, jadi semua kiai-kiai khususnya di Pesantren Cirebon adalah saudara.

Demikian silsilah Syaikhona Mbah Aqiel dari jalur ayah. Sedangkan keturunan dari jalur ibu adalah:

KH. Aqiel bin
Ny. Hj. Fatimah binti
Ny. Hj. Fadhilah binti
KH. Sholeh bin
KH. Asnawi Kudus bin
Ny. Hj. Mujiroh binti
Ny. Hj. Ulfiyah (Mbah Godeg) binti
Mbah Mutamakkin (Kajen Pati) bin
Pangeran Sumodiningrat bin
Pangeran Sumonegoro bin
Sultan Hadiwijoyo (Jaka Tingkir) bin
Sunan Pengging.

Kiai Said meneruskan ceramahnya dengan pesan dan nasihat;

Marilah keturunan itu kita pelihara. Pemangku pesantren, saya anaknya kiai, saya harus jadi kiai juga. Bukan hanya nasab (keturunan) tapi juga hasab (prestasi). Kita pun membangun kebesaran seperti kebesaran yang kita warisi dari kakek kita. Jangan sampai kita hanya membanggakan kakek. Kita sendiri serbet (gombal). Itu yang salah.


وشر العا لمين ذوا خمولي – إذا فخرتهم ذكروا جدودا

Sejelek-jeleknya orang (adalah) yang hanya bisa mengandalkan judud; mbah saya, kakek saya, buyut saya, hebat.


وخير الناس ذو حسب قديم – أقام لنفسه حسبا جديدا

Sebaik-baik orang (adalah) yang mempunyai mbah besar, kakek besar, juga dia membangun kebesaran dirinya.

Ada pesantren tadinya kiainya besar, alim, berwibawa, tokoh pejuang, mujahid, sekarang kok sepi.



إذا ما الجهل حيم فى بلاد – رأيت اسودها مسخت قرودا

Kalau ada desa, negeri atau pesantren, yang dulunya (diasuh) oleh kiai besar-besar dan alim-alim (dan) sekarang kok enggak, itu berarti رأيت اسودها مسخت قرودا singanya sudah jadi monyet.

Dalam sambutan pada siang hari dihadapan ratusan wali santri dan khotimin, Ketua Yayasan Khas, KH. M. Musthofa Aqiel Siroj memaparkan tentang program yang ada dalam naungan yayasan. Beliau mengatakan kita telah menjemput bola dengan program-program yang memungkinkan bisa dikembangkan untuk para santri.

Perlu diketahui setelah Kang Muh memimpin sekitar 5 tahun, Khas Kempek mengalami lompatan jauh. Dengan gaya kepemimpinan kolektif kolegial, yang mengedepankan ma’iyah (kebersamaan), beliau mampu membawa Khas menjadi pesantren yang terus mengembangkan program pendidikannya tanpa mencerabut akar kekhasan Kempek, seperti ngaji Qur’an ala kempekan, nahwu shorof baik sorogan maupun bandongan.

Setelah ada SMP, MTs dan MA, kini telah berdiri SMK jurusan Bisnis Daring dan jurusan Perbankan Syariah. Program pembangunan USB SMK juga tengah berjalan diatas lahan 10k m². Belum selesai pengurusannya, menyusul STIKES telah mendapatkan SK sekitar 4 bulan yang lalu, sekarang baru saja diadakan kuliah perdana yang diikuti oleh 80 mahasiswa dengan jurusan Gizi dan Farmasi yang mereka semua mendapatkan beasiswa.

Tidak berhenti disini, pendirian STAI dengan program Ekonomi Syariah dan Tasawuf Psikoterapi sebentar lagi insya Allah akan melengkapinya.

Kempek merasa bersyukur, tetap bisa survive, mempertahankan keberlangsungannya sebagai lembaga tafaqquh fid dien. Ini berkat keseriusan dan keharmonisan para penerusnya. Selain kedua tokoh diatas, masih ada kiai-kiai muda yang potensial; KH. Niamillah Aqiel, M.PdI, KH. Ahmad Zaeni Dahlan, Lc, M. Phil, KH.Muhammad BJ, Lc, Kang H. Ahmad Nahdi BJ, M.PdI, Mas H. Amud Shofy Musthofa, Lc, Mas H. Shidqi Musthofa, S. IP dan lainnya.

Penulis teringat ketika mendampingi Buya Ja’far, sekitar medio 2011 untuk mengikuti acara Halaqoh Pimpinan Pesantren di Hotel Desa Wisata TMII Jakarta, pada saat itu narasumbernya Mbah Maimoen Zubair, Dr. Fakhri Ali, adiknya; Kiai Said, beliau-beliau memaparkan tentang situasi dan peta Islam Indonesia dan dunia dengan gaya dan kekhasannya masing-masing. Kemudian disusul presentasi tentang Pesantren Sidogiri oleh pengasuhnya KH. Nawawi Abdul Djalil mengenai pemberdayaan ekonomi koperasi untuk santri dan alumninya.

Penulis duduk disamping Buya, satu meja bundar dengan alMaghfurlah KH. Imam Mahrus Lirboyo, dalam benak ingin segera bertanya pada Buya, tapi sepertinya kurang etis bagi seorang santri karena banyak ulama dan kiai.

Begitu rehat dan istirahat sejenak di kamar hotel, penulis bertanya: “wau ningali penjelasan Pesantren Sidogiri kadose menarik Buya!, Lah nyuwun sewu, menawi Kempek mau dibawa kemana nggih?” Tidak seperti biasanya lantang dan tegas, Buya lagikurang sehat, dengan bijak ngendiko; “Lik! Isun wis umur samene, wis sakit bae, isun wis berjuang melakukan yang Buya bisa, mengko selanjute apa jare sing urip bae”.

Mendengar jawaban itu, penulis tertegun dan mengusap air mata dengan menjawab “Eeh nggih Buya…” Acara selesai Buya langsung cek dan berobat ke RS Gatot Subroto sedangkan penulis pulang ke Cirebon.

Sekarang penulis merenung, jawaban Buya diatas begitu demokratis sekaligus seperti memberi isyarat bahwa beliau seakan tahu persis dan optimis terhadap penerusnya kelak akan selalu bisa menjaga marwah dan ma’iyah keluarga dan merawat pesantren sebagai warisan orang tua yang harus tetap lestari.

Baca juga: Refleksi Haul dan Khotmil Qur’an Ke-30 Ponpes KHAS Kempek (1)


Kagem Buya Ja’far al-Faatihah…
Bersambung Refleksi (3)

(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here