Refleksi Haul dan Khotmil Qur’an Ke-30 Ponpes KHAS Kempek (1)

0
161

KHASKEMPEK.COM – Beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 28 September 2019 Pondok Pesantren Khas Kempek Kabupaten Cirebon telah menyelenggarakan acara tahunan yakni Haul KH. Aqiel Siroj dan Sesepuh Pesantren sekaligus Khataman Al-Qur’an.

Hajatan yang rutin dilaksanakan pada setiap bulan Muharrom ini sejatinya untuk mengenang para pendahulu dalam berkhidmah pada pesantren dan bangsa ini. Muassis Pesantren MTM Khas Kempek Cirebon, Hadhratus Syaikh KH. Aqiel Siroj wafat pada bulan itu, 30 tahun yang lalu, garwanipun Nyai Hj. Afifah Harun juga sedo dalam bulan yang sama. Haul kali ini dibarengi dengan Khotmil Qur’an sebanyak 75 santri dan Juz ‘Amma diikuti oleh 160 anak.

Usai event selesai, segenap panitia membereskan dan membenahi segala yg berkaitan dengan acara, bongkar tenda panggung dan meja kursi, sound system lampu dan AC, peralatan prasmanan dan tetek bengeknya. Menyapu dan mengumpulkan sampah yang berserakan serta mengembalikan suasana lokasi baik indoor maupun outdoor sebagaimana sebelum diselenggarakannya hajat agung ini. Belum lagi menggarap laporan dan rekap administrasi dan keuangan selama kegiatan.

Masa-masa bergelut dengan aktifitas panitia semacam itu, sudah agak lama penulis kurangi, meski masih tercatat sebagai panitia pengarah. Penulis melihat ada sisi dan celah yang bisa dilakukan untuk hal yang mungkin bisa bermanfaat.

Sebagaimana para panitia melakukan tugasnya, penulis juga memungut sisa-sisa yang mengandung banyak hikmah dan makna dari serpihan berlian yang memancarkan cahaya (baca pemahaman) yang berbeda dari sudut-sudutnya. Permata itu adalah setiap ilmu yang disampaikan oleh kiai, ulama dan tokoh yang hadir untuk memberkahi perhelatan rutin ini.

Menurut hemat penulis, kegiatan positif edukatif seperti ini memiliki beberapa makna dan pesan yang terkandung didalamnya. Ini bisa dijadikan sebagai sebuah refleksi bagi kita agar tetap menengok kebelakang untuk melangkah kedepan dengan tetap optimis sekaligus cool and confident dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Kesan pesan dan makna itu adalah:

1. Mengenang perjuangan dan khidmah para pendahulu dalam menyiarkan agama dan pemberdayaan umat.

Dalam refleksi pertama ini ada beberapa yg bisa kita lihat:

Point Pertama;

Pengasuh, dalam beberapa kali kesempatan mengisahkan bahwa almaghfurlah Mbah Aqiel dalam mengajari santri pada saat itu selalu menulis dipapan tulis dengan menggunakan kapur putih, baik kitab Jurumiyah, Amrithi dan lainnya. Bertahun-tahun melakukan itu, beliau sampai menderita sesak nafas dan sering kambuh penyakit asmanya. “Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan”, imbuh Kiai Musthofa.

Kemudian Penasihat Panglima TNI ini melanjutkan bahwa dalam “menulis” paling tidak ada 6 anggota tubuh yang menjadi komponen penting dalam mendukung kecerdasan seseorang.

Pertama, mata; dalam menulis, seseorang dengan matanya akan menyimak setiap kata dan kalimat, kemudian pemahamannya dituangkan dalam tulisan.

Kedua, tangan; ia bekerja mencatat pemahaman yang ada dalam otak, tangan membantu pemahaman agar tertanam dalam kalbu.

Ketiga, telinga; fungsinya sebagai penunjang agar pemahaman seseorang saat menulis lebih mengena. Ia juga bisa mendengar kembali apa yang telah ditulis tangan.

Keempat, mulut; kegunaannya menyambungkan pemahaman akal dengan hati agar seirama ketika ia bekerja dengan gelombang suara yang keluar.

Kelima, akal; ketika menulis, akal selalu menyusun setiap derap jantung dalam memahami apa yang dibaca baik tulisan atau alam sekitar. Dengan akal kita akan bisa menyusun kata dan kalimat agar bisa dimengerti oleh penulisnya atau bagi setiap orang yang membacanya.

Keenam, hati; dengan menulis, seluruh apa yang kita ungkapkan, akan terekam dalam memori akal dan membekas dalam hati.

Inilah sebagian kecil yg bisa kita teladani dari kebiasaan Mbah Aqiel sebagai seorang sosok guru. Beliau mengajarkan dengan apa yang disebut literasi. Sangat relevan apabila para santri mulai mempraktikkan “menulis” seiring fenomena revolusi industri 4.0 dan derasnya arus informasi sehingga muncul gerakan literasi digital, literasi media bahkan literasi tekhnologi.

Point Kedua;

Dalam sambutan di malam puncak acara haul 2019 ini, pengasuh mengungkapkan bahwa; “Kiai Said (Prof.Dr.KH.Said Aqiel Siroj, MA, pen.) sekarang yang paling sepuh, yang pertama adalah Kiai Ja’far (Murobbi ruhina alMaghfurlah Buya H.Ja’far Shodiq Aqiel Siroj, pen.) beberapa tahun yg lalu meninggal, sudah 5 tahun (w.01 April 2014, pen.). Dan ini (tempat acara, pen.) berkat kegigihan beliau berdirinya pondok yang kedua, yang disebut AlJadied. Pertama AlQodiem dan kedua AlJadied, sesui dengan Imam Syafi’i ada qoul qodiem dan qoul jadied “.

Inilah bentuk apresiasi sekaligus pengakuan seorang penerus atas perjuangan dan pengabdian para pendahulu Pesantren Khas Kempek ini.

Point Ketiga ;

Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok putra Mbah Aqiel yang satu ini. Tidak seperti Pandawa Lima yang lain. Beliau wafat empat tahun yang lalu dalam keadaan sakit, yang memerlukan perawatan intensif. Namun beliau menolak ketika keluarga akan membawanya ke rumah sakit.

Yang membuat haru sekaligus takjub adalah alasan penolakannya, yaitu karena ingin tetap mengajar dan tidak mau meninggalkan santrinya.

Beliau tidak memangku majlis-majlis lain. Beliau tidak memangku majlis dzikir, majlis shalawat, maupun majlis-majlis lainnya. Majlisnya hanya satu, yakni majlis ilmi.

Pilihannya kepada majlis ilmi, bukan karena ketidak sukaannya kepada majlis lain. Tetapi lebih karena kecintaannya kepada ilmu, sehingga membuat dirinya tidak memiliki waktu untuk melirik lainnya.

Agaknya beliau bermaksud sepenuhnya ittiba’ kepada Junjungan Nabi Saw, tulis Kang Jafar Musaddad dalam mengenang keistimewaan dan keistiqomahan guru kita KH. Ahsin Aqiel Siroj.

Point Keempat ;

Ketua Umum PBNU mengungkapkan dalam mauidzoh hasanah yang disampaikan pada malam hari Haul 2019 ini mengenai beberapa tokoh yang berjasa berjuang dalam menyebarkan agama Islam, diantaranya ;

Pertama : Syekh Ahmad Subakir

Orang yang pertamakali membawa Al-Qur’an ke Pulau Jawa adalah Syekh Ahmad Subakir, Al-Qur’an diperkenalkan oleh beliau ke Ratu Sima raja Kalingga di Jepara. Walaupun tidak masuk Islam secara eksplisit, tetapi Si Ratu memahami kandungan Al-Qur’an yang mengajarkan tentang keadilan, sehingga beliau terkenal sebagai ratu yang paling adil, dan masyarakat dipersilahkan untuk memeluk agama Islam.

Syekh Subakir bertugas mengikat serta mengkrangkeng makhluk-makhluk jahat yang ada di Jawa, semua diikat dengan rantai kemudian dibuang ke laut selatan. Kecuali 2 makhluk yang baik dan tidak menggangu Islam; Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Kita bisa menemukan petilasan Mbah Subakir di Gunung Tidar Magelang, ada juga ditempat lain, tetapi menurut Ketum PBNU yang benar makam beliau berada di Gowa Sulawesi Selatan.

Kedua : Syekh Rasiddien An-Nisabury.

Beliau terkenal dengan panggilan Mbah Washil, membawa kitab al Asror, kitab rahasia, kemudian isinya diajarkan kepada Raja Jayakatwan dengan gelar Joyoboyo, Raja Doho Kediri. Kita ingat kepopuleran ramalan Joyoboyo yang sebenarnya substansi ramalan itu adalah terjemahan kitab al Asror. Makam Mbah Washil bisa diziyarahi dibelakang Masjid Setono Gedong Kota Kediri.

Ketiga: Syekh Hasanuddin

Pertama kali ada pesantren di Jawa Barat tahun 1410 adalah pesantren yang didirikan oleh Syekh Hasanuddin dari Cina, terkenal dengan Syekh Quro, Qori, Desa Rengasdengklok Kab. Karawang. Salah satu muridnya yakni Subang Larang, putri Ki Gede Tapa, Kepala Bandar Cirebon. Perempuan ini memiliki paras yang cantik, sehingga sering dinamakan Kutilang, kuning tinggi langsing.

Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqofah Jagakarsa Jaksel itu melanjutkan hikayatnya;

Suatu ketika Raja Siliwangi yang beragama Budha mendengar ada Islam, berangkat dari Bogor menuju Karawang dengan niat ingin membunuh pembawa agama dimaksud, sampai di tempat mendengar lantunan merdu bacaan Qur’an si Kutilang langsung terbius dan ingin segera melamarnya. Syekh Quro mempersilahkan dengan syarat menyediakan mas kawin berupa Lintang Kerti, Tasbih, yang adanya di jazirah Arab.

Dia menerima persyaratan itu, karena dia yakin bisa menggunakan kesaktiannya untuk bisa terbang ke sana. Setelah beberapa kali mencoba terbang dengan membaca mantra ” Hong ” namun sampe 3 kali tetap tidak beranjak terbang. Syekh Quro mengingatkan bahwa untuk bisa terbang dengan diawali baca Bismillah baru Hong dan terbang. Nikahlah Prabu Siliwangi seorang penganut Budha yang masuk Islam dengan Nyai Subang Larang yang berkeyakinan Islam.

Raja Padjajaran itu tidak serius dalam menjalankan agama barunya, seakan hanya untuk menikahi santri nan jelita saja. Tetapi yang perlu digarisbawahi bahwa Prabu Siliwangi masuk Islam karena mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Sehingga dari hasil pernikahannya melahirkan putra-putra yang kelak menjadi juru dakwah di Nusantara ini.

1. Syekh Rahmatullah, atau Sunan Rahmat Suci, makamnya di gunung Godog Garut,

2. Syekh Shomadullah, terkenal dengan gelar Ki Kuwu Sangkan,

3. Rara Santang dinikahi Habib Sayyid Abdullah Azmatkhon punya anak Syekh Syarif Hidayatullah.

Jadi bubarnya kerajaan Padjajaran disebabkan karena Prabu Kiangsantang alias Syekh Rahmatulloh dengan julukan Ki Glarantang, Ki Setra, Maung Keling atau Maung Loda menguasai wilayah Padjajaran dan semua rakyatnya masuk Islam, kecuali Patih Pucukumun dengan suku Badui di Malimping. Mereka tetap menganut agama Sunda Wiwitan atau Karuhunan yg menyembah Sang Batara. Itulah ulama-ulama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa ini, pungkas Yai Said dalam cerita Islam Nusantaranya.

Bersambung pada Refleksi (2)
(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here