Pesantren; Role Model Islam Ramah

0
84

KHASKEMPEK.COM – Pada hari kedua, Kamis (18/7), penulis melanjutkan kegiatan (Workshop) Komunitas Pesantren yang diselenggarakan Wahid Fondation bekersama dengan Direktorat PD Pontren Kemenag RI di Bogor Valley Hotel.

Setelah hari sebelumnya dibuka oleh Yenny Wahid dan Dr. Ahmad Zayadi M.Pd, kemudian dilanjutkan sesi pengenalan dari seluruh peserta yang berasal dari lima provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.

Pagi hari ini, penulis bersama peserta workshop dari berbagai daerah menyimak materi yang disampakain Founder Peace Generation, Irfan Amalee, dengan tema “Berinovasi Melalui Pesantren”.

Untuk memantik forum yang diharapkan bisa menjadi diskusi terbuka kali ini, Kang Irfan Amalee memulai tentang kerja-kerja inovasi merawat perdamaian yang ia lakukan selama ini.

Menurutnya, sistem pendidikan sudah selayaknya mendukung semangat toleransi dan perdamaian. Menebarkan kepada semua lapisan masyarakat tentang Islam yg ramah, bukan Islam yang marah-marah.

“Sudah seharusnya sistem pendidikan ikut andil menebarkan semangat toleransi dan perdamaian,” terang Kang Irfan.

Dikatakan, sikap toleran dan cinta damai merupakan perilaku yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.

Menjaga akhlak berarti menjaga sikap yang erat kaitannya dengan welas asih dan juga kasih sayang. Prinsip ini senada dengan misi Islam: rahmat bagi sekalian alam.

Pria yang menjabat Direktur MBS Baitur Rohmah Garut ini juga menggarisbawahi, jika pesantren masih punya banyak PR. Ada hal-hal yang harus kita teliti lebih jeli lagi agar pesantren benar-benar menjadi role model Islam yang ramah, terbuka dan penuh kedamaian.

Akhirnya orang bisa melihat Islam tanpa prasangka,” kata Kang Irfan.

Hal ini beliau buktikan dengan membuat film cerita dan dokumenter. Salah satu karya dokumenter beliau yang ditampilkan di hapadapan peserta workshop adalah Breaking Down The Walls.

Kang Irfan menjelaskan bahwa film tersebut mengisahkan kunjungan siswa-siswa internasional di Bandung ke sebuah pesantren. Pada awalnya, mereka berangapan kalau pesantren identik dengan sarung dan kolam lele.

“Setelah kunjungan, langsung berbalik 180 derajat. Hanya dalam waktu 2-3 jam, mereka langsung akrab satu sama lain,” tandas Irfan.

Terkait konsep Islam yang damai, ramah dan menyejukkan, beliau berpesan kita jangan ngomongin hal-hal besar. Tentang Islam itu damai, mulailah dari hal yang terkecil.

“Kalau di lingkungan kita masih ada orang-orang yang merasa tidak damai, tidak pantas ngomongin Islam itu damai,” tegasnya

Lebih lanjut, Kang Irfan juga mengingatkan pentingnya peduli terhadap hal-hal kecil yang berpotensi menciptakan perubahan atau inovasi. Sehingga, stigma masyarakat terhadap pesantren tidak buruk dan terbelakang.

“Saya tidak setuju akan adanya Bulliying di lembaga-lembaga pendidikan kita (Indonesia), sebab masih banyak orang-orang yang terbiasa melakukan bully terhadap teman atau adik kelasnya, termasuk di pesantren,” ujarnya.

Terbiasanya praktek buliying di lembaga pendidikan, menurut Kang Irfan, menandakan adanya kesalahan persepsi tentang bully. Baginya, bully dengan alasan apapun tidak bisa saya terima.

Ia mengingatkan masih banyak cara agar kita bisa akrab atau dekat dengan teman sejawat. Salah satunya ialah dengan menebarkan hal positif, senyum, sapaan, keramahan, kebaikan kepada teman atau bahkan orang yang kita tidak kenal, tentu akan berdampak positif.

“Orang akan selalu ingat dengan kebaikan yang kita lakukan. Sehingga bisa menjadi magnet untuk orang itu lebih nyaman dan dekat dengan kita,” pungkasnya.

*Mas Hamied Bin Ja’far, Putra alm Buya Ja’far ini merupakan perwakilan pengurus Ponpes KHAS Kempek Cirebon untuk kegiatan Workshop Komunitas Pesantren, 17-19 Juli 2019 di Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here